Perjuangan seorang guru honorer di Jakarta, Abdul Azis, menjadi sorotan setelah kisahnya viral dan menyentuh banyak pihak. Selama kurang lebih enam bulan, ia harus menempuh perjalanan sekitar 6 kilometer setiap hari menggunakan sepeda lipat tua untuk bisa mengajar di sekolahnya.
Azis yang mengajar di MI Nurul Islam 1 Kamal Muara harus menerima kenyataan pahit setelah sepeda motor miliknya hilang dicuri. Namun kondisi tersebut tidak membuatnya menyerah. Dengan penuh dedikasi, ia tetap berangkat dari rumahnya di wilayah Kalideres menuju sekolah di Penjaringan demi menjalankan tugasnya sebagai pendidik.
Setiap hari ia mengayuh sepeda sejak pagi dan kembali pulang di sore hari. Di tengah keterbatasan ekonomi sebagai guru honorer, Azis tetap berkomitmen mendampingi murid-muridnya belajar tanpa mengeluh. Ketekunan dan ketulusannya akhirnya mengetuk hati banyak orang.
Kebaikan pun datang dari komunitas Relawan Gerak Bareng yang menggalang donasi untuk membantu Azis. Dalam sebuah momen yang penuh haru, mereka memberikan hadiah sebuah sepeda motor baru, yakni Honda Genio, untuk memudahkan mobilitasnya ke sekolah.
Saat menerima bantuan tersebut, Azis tak kuasa menahan air mata. Ia mengungkapkan rasa syukur dan terima kasih kepada para relawan dan donatur yang telah peduli terhadap perjuangannya.
Meski demikian, Azis menyampaikan harapan yang lebih besar. Ia berharap perhatian tidak hanya tertuju pada dirinya, tetapi juga kepada ribuan guru honorer lain di Indonesia yang masih berjuang dalam keterbatasan.
Menurutnya, kesejahteraan guru honorer perlu menjadi perhatian serius semua pihak, agar para pendidik dapat menjalankan tugasnya dengan lebih layak dan fokus dalam mencerdaskan generasi bangsa.
Kisah ini menjadi pengingat bahwa di balik keterbatasan, masih ada semangat dan dedikasi tinggi dari para guru yang terus mengabdi. Sekaligus, ini menjadi panggilan bagi pemerintah dan masyarakat untuk bersama-sama meningkatkan kesejahteraan tenaga pendidik di Indonesia.














