Di balik label “anak berkebutuhan khusus”, tersimpan mimpi besar yang ingin terus hidup dan berkembang. Namun, tidak semua anak memiliki akses yang setara untuk mewujudkan mimpi tersebut, terutama di wilayah pelosok.
Hal inilah yang mendorong Arick Istriyanti untuk turun langsung ke berbagai daerah di Badung. Ia berupaya memastikan bahwa setiap anak, tanpa terkecuali, mendapatkan hak yang sama untuk belajar dan diterima di lingkungan pendidikan.
Arick aktif mengadvokasi pentingnya pendidikan inklusif, yakni sistem pendidikan yang membuka ruang bagi semua anak, termasuk mereka yang memiliki kebutuhan khusus, untuk belajar bersama tanpa diskriminasi. Menurutnya, stigma dan penolakan terhadap anak berkebutuhan khusus masih menjadi tantangan yang nyata di lapangan.
Melalui pendekatan langsung ke sekolah-sekolah dan masyarakat, Arick berusaha membangun kesadaran bahwa setiap anak memiliki potensi yang perlu didukung, bukan dibatasi. Ia juga mendorong sekolah agar lebih terbuka dan siap menerima keberagaman peserta didik.
Upaya ini tidak hanya menyentuh aspek pendidikan, tetapi juga nilai kemanusiaan. Pendidikan inklusif dinilai sebagai langkah penting dalam menciptakan lingkungan yang adil, setara, dan menghargai perbedaan.
Kisah ini menjadi pengingat bahwa di balik keterbatasan, setiap anak memiliki hak untuk bermimpi dan belajar. Dukungan dari berbagai pihak, mulai dari pemerintah, sekolah, hingga masyarakat, sangat dibutuhkan agar pendidikan benar-benar menjadi hak bagi semua, bukan hanya sebagian.














