Fajar Riza Ul Haq menegaskan komitmen pemerintah dalam menciptakan lingkungan sekolah yang aman, nyaman, dan ramah anak bagi seluruh peserta didik di Indonesia. Pernyataan tersebut disampaikan dalam Dialog Nasional Hari Pendidikan Nasional bertema “Sinergi Perlindungan Anak di Dunia Pendidikan: Gerakan Satuan Pendidikan Ramah Anak, Aman, dan Nyaman” yang digelar oleh Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak pada Kamis (7/5).
Dalam kesempatan itu, Fajar menjelaskan bahwa pemerintah terus memperkuat kebijakan pendidikan melalui Permendikdasmen Nomor 6 Tahun 2026. Regulasi tersebut mendorong terciptanya sekolah yang tidak hanya aman secara fisik, tetapi juga mendukung kesehatan mental dan kenyamanan psikologis murid.
Menurutnya, sekolah memiliki peran penting dalam membentuk masa depan generasi muda. Karena itu, lingkungan pendidikan harus bebas dari kekerasan, perundungan, serta tekanan yang dapat mengganggu tumbuh kembang anak.
Fajar juga menekankan bahwa kerja sama lintas kementerian menjadi langkah strategis untuk menghadapi berbagai tantangan di dunia pendidikan, termasuk persoalan kekerasan dan risiko di ruang digital. Kolaborasi antara Kemendikdasmen, Kementerian Agama, dan KemenPPPA disebut memiliki tujuan yang sama, yakni memberikan perlindungan terbaik bagi seluruh murid.
Senada dengan hal tersebut, Nasaruddin Umar menjelaskan pentingnya pendekatan pendidikan berbasis nilai melalui Kurikulum Berbasis Cinta (KBC). Menurutnya, penanaman nilai kasih sayang kepada Tuhan, sesama manusia, dan lingkungan dapat membentuk empati pada diri anak sehingga mampu mencegah perilaku kekerasan.
Ia menilai bahwa ketika rasa cinta dan persaudaraan sudah tumbuh dalam diri peserta didik, maka mereka akan lebih menghargai teman, guru, serta lingkungan sekolah.
Sementara itu, Arifah Fauzi mengingatkan bahwa perlindungan anak di sekolah membutuhkan keterlibatan semua pihak. Menurutnya, regulasi tidak akan berjalan efektif tanpa dukungan dan partisipasi bersama dari pemerintah, sekolah, keluarga, hingga masyarakat.
Dalam dialog tersebut, Direktur Jenderal PAUD, Dikdas, PNFI, Gogot Suharwoto turut memaparkan berbagai langkah nyata dalam mencegah kekerasan di sekolah. Salah satu inovasi yang diperkenalkan adalah sistem “Guru Wali”, yaitu pembagian pendampingan murid kepada seluruh guru agar setiap siswa mendapatkan perhatian dan pengawasan secara lebih personal.
Melalui sistem tersebut, guru diharapkan lebih cepat mengenali perubahan perilaku murid sehingga masalah dapat dicegah sebelum berkembang menjadi konflik.
Praktik baik juga dilakukan oleh SDN Kawarang Wetan 1 melalui program “Alis Berdiri” atau literasi digital mandiri serta pembentukan duta Sekolah Ramah Anak. Program tersebut melibatkan murid secara aktif dalam menjaga ketertiban, kebersihan, dan kenyamanan sekolah dengan cara yang menyenangkan.
Dialog Nasional ini menegaskan bahwa menciptakan sekolah yang aman dan nyaman bukan hanya tugas pemerintah, tetapi tanggung jawab bersama seluruh elemen masyarakat demi mewujudkan generasi unggul menuju Indonesia Emas 2045.










