Badan Gizi Nasional (BGN) melakukan pemutakhiran data penerima Program Makan Bergizi Gratis (MBG). Dari proses tersebut, sebanyak 1.653 satuan pendidikan di seluruh Indonesia dikeluarkan dari daftar penerima manfaat program.
Kepala BGN Sudaryono menjelaskan, sebagian besar satuan pendidikan yang dikeluarkan merupakan sekolah swasta bertaraf internasional, sekolah yang memiliki kerja sama dengan institusi nasional maupun internasional, serta sekolah yang dinilai sudah memiliki kemampuan finansial secara mandiri dan tidak bergantung pada dana BOS.
Data Penerima MBG Terus Dibenahi
Pemutakhiran data tersebut dilakukan untuk memastikan pelaksanaan MBG lebih tepat sasaran. BGN menyebut proses pendataan dilakukan bersama Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah serta Kementerian Agama.
BGN juga masih melakukan investigasi terhadap sekolah-sekolah yang mengajukan permohonan untuk mendapatkan layanan MBG. Perluasan program dilakukan secara bertahap berdasarkan pemetaan dan prioritas yang telah ditentukan.
Langkah ini juga mencakup evaluasi terhadap data penerima yang berpotensi ganda. Dalam keterangan terbarunya, Sudaryono menyebut pembenahan tata kelola diperlukan agar program dapat berjalan secara lebih terukur, transparan, serta tetap memperhatikan kualitas dan keamanan makanan.
Wilayah 3T Jadi Prioritas
Setelah melakukan penyesuaian sasaran, BGN mengarahkan perluasan MBG ke wilayah yang dinilai memiliki kebutuhan lebih tinggi. Daerah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T) serta wilayah dengan angka stunting tinggi menjadi salah satu prioritas.
BGN menyatakan pembangunan dapur MBG baru mulai diarahkan ke wilayah tersebut, termasuk sejumlah daerah di Indonesia bagian timur. Kebijakan ini diharapkan dapat memperluas akses makanan bergizi kepada kelompok masyarakat yang membutuhkan intervensi gizi lebih besar.
Distribusi Dapur MBG Masih Dievaluasi
Selain data penerima, BGN juga mengevaluasi distribusi dapur atau Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG). Dari sekitar 27 ribu dapur yang telah beroperasi, BGN menyebut hampir 60 persen berada di Pulau Jawa dan Sumatra sehingga distribusinya masih perlu diperluas ke wilayah lainnya.
Dengan pemutakhiran data dan penyesuaian wilayah sasaran, BGN menargetkan pelaksanaan MBG dapat menjangkau satuan pendidikan berdasarkan kebutuhan. Perubahan daftar penerima tersebut menjadi bagian dari proses evaluasi program yang masih terus berlangsung.








