Jakarta – Indonesia mengirimkan kontingen untuk mengikuti WorldSkills Competition (WSC) ke-48 di Shanghai, China. Ajang kompetisi keterampilan tingkat dunia tersebut tidak hanya menjadi arena bagi talenta vokasi Indonesia untuk berkompetisi, tetapi juga menjadi kesempatan untuk melihat perkembangan teknologi dan standar keterampilan global.
Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) mengirimkan 20 kompetitor yang akan bertanding dalam 17 bidang keahlian, serta 17 ahli atau expert yang menjalankan fungsi teknis dan penilaian selama kompetisi.
WSC Jadi Tolok Ukur Pendidikan Vokasi
Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Fajar Riza Ul Haq mengatakan, keikutsertaan Indonesia dalam WSC dapat menjadi momentum untuk mengamati perkembangan keterampilan yang dibutuhkan dunia kerja.
Menurut Fajar, berbagai bidang yang dipertandingkan di Shanghai dapat memberikan gambaran mengenai keahlian yang berpotensi relevan pada masa mendatang. Informasi tersebut dapat menjadi masukan bagi pengembangan pendidikan vokasi di Indonesia agar terus menyesuaikan diri dengan perubahan teknologi dan kebutuhan dunia kerja.
Ia juga menyoroti perkembangan kecerdasan buatan (AI). Menurutnya, kemajuan AI tidak otomatis menghilangkan kebutuhan terhadap tenaga kerja dengan keterampilan teknis. Bidang seperti kelistrikan, plumbing, bangunan, dan konstruksi masih menjadi bagian dari kompetisi WSC Shanghai 2026.
Kompetitor Jalani Pelatihan Berbulan-bulan
Para peserta Indonesia tidak mengikuti kompetisi secara mendadak. Mereka telah menjalani proses seleksi, pembinaan, simulasi, serta pelatihan intensif yang berlangsung sekitar enam bulan hingga hampir satu tahun, tergantung bidang keahlian masing-masing.
Peserta berasal dari kalangan siswa dan alumni SMK serta talenta dari institusi mitra industri. Persiapan dilakukan untuk memperkuat kemampuan teknis sekaligus melatih ketelitian, kecepatan, kreativitas, kedisiplinan, dan kemampuan bekerja sesuai standar kompetisi internasional.
Salah satu bidang yang diikuti Indonesia pada WSC Shanghai 2026 adalah 3D Game Art. Bidang tersebut menjadi tantangan baru karena Indonesia untuk pertama kalinya berpartisipasi pada cabang tersebut.
Selain itu, Indonesia juga mengikuti bidang Auto Body Repair dan Robot Systems Integration, yang berkaitan erat dengan kebutuhan industri dan perkembangan teknologi.
Tak Sekadar Mengejar Medali
Direktur Jenderal Pendidikan Menengah dan Pendidikan Khusus Tatang Muttaqin menegaskan bahwa pengalaman selama WSC perlu dimanfaatkan untuk kepentingan pendidikan vokasi secara lebih luas.
Menurutnya, kompetisi ini bukan hanya tentang memperoleh medali. Para peserta diharapkan membawa pulang pengalaman, pengetahuan mengenai teknologi, serta pemahaman terhadap standar keterampilan dunia yang kemudian dapat dibagikan kepada lingkungan pendidikan di Indonesia.
Dengan demikian, hasil dari keikutsertaan Indonesia di Shanghai diharapkan tidak berhenti pada pencapaian para peserta. Pengalaman tersebut dapat menjadi bahan pembelajaran untuk meningkatkan proses pendidikan dan pelatihan bagi siswa SMK di berbagai daerah.
Pendidikan Vokasi Perlu Terus Beradaptasi
Perkembangan teknologi membuat kebutuhan keterampilan di dunia kerja terus berubah. Karena itu, pendidikan vokasi perlu menyesuaikan kurikulum, metode pelatihan, serta kerja sama dengan industri agar kompetensi lulusan tetap relevan.
Keikutsertaan dalam WSC Shanghai 2026 menjadi salah satu kesempatan bagi Indonesia untuk melihat secara langsung standar keterampilan internasional sekaligus mempelajari perkembangan teknologi yang digunakan dalam berbagai bidang.
Kemendikdasmen berharap pengalaman kontingen Indonesia dapat memberikan manfaat lebih luas bagi ekosistem pendidikan vokasi, terutama dalam meningkatkan kualitas pembelajaran dan pelatihan jutaan peserta didik SMK di Indonesia.








