Jakarta – Pemanfaatan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) semakin banyak digunakan dalam kehidupan sehari-hari, termasuk untuk mendukung proses belajar di perguruan tinggi. Teknologi ini dapat membantu mahasiswa mencari informasi, mengembangkan ide, hingga menyusun karya akademik.
Namun, penggunaan AI secara berlebihan dan tanpa tujuan yang jelas juga perlu diperhatikan. Dosen Departemen Ilmu Komunikasi FISIP Universitas Indonesia (UI), Dr. Erwin Agustian Panigoro, mengingatkan bahwa ketergantungan pada teknologi dapat berisiko mengurangi kemandirian kognitif pengguna.
AI Jangan Menggantikan Proses Berpikir
Erwin menjelaskan bahwa perkembangan AI telah mengubah cara mahasiswa belajar dan menghasilkan karya. Menurutnya, AI tidak harus dijauhi, tetapi perlu ditempatkan sebagai alat bantu dalam proses pembelajaran.
Salah satu bentuk pemanfaatannya adalah melalui penyusunan prompt. Jika digunakan dengan tepat, proses tersebut justru dapat melatih mahasiswa merumuskan pertanyaan, mengembangkan gagasan, serta mengevaluasi jawaban yang dihasilkan AI.
Artinya, mahasiswa tetap perlu memahami materi dan mampu mempertanggungjawabkan hasil pekerjaannya. AI sebaiknya membantu proses berpikir, bukan mengambil alih seluruh proses tersebut.
Mengenal Fenomena Cognitive Offloading
Salah satu istilah yang dibahas Erwin adalah cognitive offloading, yaitu kecenderungan manusia menyerahkan sebagian proses menyimpan, mengolah, atau mengingat informasi kepada teknologi.
Dalam konteks penggunaan AI, fenomena ini dapat muncul ketika seseorang terlalu terbiasa mengandalkan teknologi untuk menyelesaikan pekerjaan yang sebenarnya masih dapat dilakukan secara mandiri.
Jika ketergantungan tersebut semakin besar, kemampuan individu untuk memahami konteks dan mengerjakan sesuatu secara mandiri dapat ikut terdampak. Karena itu, pengguna perlu memahami kapan teknologi benar-benar dibutuhkan dan kapan proses berpikir mandiri tetap harus dilakukan.
Ada Juga Fenomena Brain Rot
Erwin turut menjelaskan istilah brain rot, yang merujuk pada kondisi ketika seseorang terlalu banyak mengonsumsi konten digital sehingga berpotensi memengaruhi kemampuan berpikir dan beraktivitas secara mandiri.
Meski demikian, ia mengingatkan agar seseorang tidak terburu-buru memberikan label tersebut kepada dirinya sendiri. Fenomena penggunaan teknologi perlu dipahami berdasarkan konteks dan perilaku pengguna.
Selain itu, ekosistem digital juga mengenal istilah attention economy, ketika perhatian pengguna menjadi sesuatu yang memiliki nilai. Berbagai platform digital berupaya mempertahankan perhatian pengguna melalui konten dan berbagai fitur.
Perhatian Bisa Terpecah karena Terlalu Sering Berpindah Platform
Fenomena lain yang menjadi perhatian adalah popcorn brain, yaitu kebiasaan berpindah dengan cepat dari satu platform atau informasi ke informasi lainnya.
Perpindahan terus-menerus antara media sosial, aplikasi pesan, dan berbagai platform digital dapat membuat perhatian seseorang terfragmentasi. Kondisi ini menjadi tantangan tersendiri ketika seseorang harus membaca, memahami, dan menyelesaikan suatu persoalan secara mendalam.
Karena itu, kemampuan untuk berkonsentrasi dan menyelesaikan satu pekerjaan secara utuh tetap penting meskipun berbagai teknologi tersedia.
Mahasiswa Perlu Menjadi Intentional User
Erwin mendorong mahasiswa menjadi intentional user, yakni pengguna teknologi yang memiliki tujuan jelas ketika menggunakan suatu aplikasi atau layanan digital.
Dengan pola tersebut, seseorang tidak menggunakan AI hanya karena teknologi tersebut tersedia atau sedang populer. Pengguna perlu mengetahui apa yang ingin dicapai dan mengapa AI digunakan untuk membantu mencapai tujuan tersebut.
Prinsip tersebut juga diterapkan dalam kegiatan literasi digital FISIP UI. Pada pelatihan pemanfaatan Scopus AI, sivitas akademika didorong untuk tetap mengevaluasi dan memverifikasi informasi yang diperoleh dari teknologi AI.
AI Tetap Bisa Menjadi Alat Bantu Belajar
Penggunaan AI tidak selalu memberikan dampak negatif. Teknologi tersebut dapat membantu mahasiswa menemukan literatur, mengeksplorasi topik penelitian, mengembangkan ide, serta mendukung penyusunan karya ilmiah.
Yang menjadi perhatian adalah cara penggunaannya. Mahasiswa tetap perlu membaca sumber asli, memahami materi, memeriksa informasi, dan mampu menjelaskan hasil pekerjaannya sendiri. FISIP UI juga menekankan pentingnya pemanfaatan AI secara efektif, kritis, dan bertanggung jawab.
Dengan demikian, tantangannya bukan sekadar apakah mahasiswa menggunakan AI atau tidak, melainkan bagaimana AI digunakan tanpa mengurangi kemampuan manusia untuk berpikir, memahami, mengevaluasi, dan mengambil keputusan secara mandiri.








