Jakarta – Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menyiapkan sejumlah teknologi untuk membantu pemerintah menangani kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang terjadi di sejumlah wilayah Indonesia, termasuk Kalimantan.
Kepala BRIN Arif Satria mengatakan karhutla merupakan persoalan kompleks karena dipengaruhi banyak variabel. Karena itu, penanganannya membutuhkan dukungan teknologi dan riset.
Gunakan AI untuk Deteksi Titik Api
Salah satu teknologi yang disiapkan BRIN adalah GEOMIMO (Geoinformatika Multi Input Multi Output). Platform ini mengintegrasikan data citra satelit dan kecerdasan buatan (AI) untuk membantu mendeteksi sumber titik api.
Teknologi tersebut dikembangkan BRIN sejak beberapa waktu lalu dan telah diadopsi oleh Kementerian Kehutanan. Dengan pemanfaatan data satelit dan AI, titik api dapat dipantau sehingga membantu proses deteksi serta penanganan karhutla secara lebih cepat.
BRIN Kembangkan Teknologi Hujan Buatan
Selain mendeteksi titik api, BRIN juga mengembangkan teknologi untuk mendukung modifikasi cuaca. Teknologi ini dapat digunakan untuk membantu menciptakan hujan buatan sebagai salah satu upaya penanganan karhutla.
Salah satunya adalah Dumakron, bahan semai berupa bubuk garam higroskopis berbahan NaCl dengan ukuran sekitar 2–5 mikron. Ukurannya yang sangat kecil membuat bahan tersebut dinilai lebih efisien dalam proses modifikasi cuaca.
Penyebaran Dumakron bahkan dapat dilakukan menggunakan drone, sehingga membuka kemungkinan penerapan teknologi secara lebih fleksibel di lapangan.
Ada Teknologi Flare
BRIN juga memiliki teknologi flare yang dapat digunakan dalam kegiatan modifikasi cuaca. Teknologi tersebut saat ini ditawarkan kepada instansi yang memiliki kewenangan untuk melaksanakan operasi modifikasi cuaca.
Menurut BRIN, berbagai teknologi tersebut diharapkan dapat mendukung pemerintah dalam menghadapi karhutla, mulai dari deteksi dini hingga upaya menciptakan hujan untuk membantu pemadaman.
Teknologi Jadi Bagian dari Mitigasi Karhutla
Penggunaan teknologi tidak menggantikan upaya pencegahan dan pemadaman di lapangan. Namun, pemanfaatan AI, citra satelit, drone, dan modifikasi cuaca dapat menjadi bagian dari sistem penanganan karhutla yang lebih terintegrasi.
Dengan deteksi titik api yang lebih cepat serta dukungan teknologi modifikasi cuaca, respons terhadap kebakaran diharapkan dapat dilakukan sebelum api semakin meluas.









