TANJUNGPINANG – Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) terus memperkuat literasi digital dan komunikasi publik di kalangan pelajar melalui Lokakarya Komunikasi Inspiratif bertema “Membangun Kolaborasi Melalui Karya” yang digelar di SMK Maitreyawira Tanjungpinang, Kepulauan Riau.
Kegiatan yang diikuti sekitar 100 murid SMP, SMA, dan SMK dari Kota Tanjungpinang ini menghadirkan Kepala Biro Komunikasi dan Hubungan Masyarakat (BKHM) Kemendikdasmen, Yudhistira Nugraha, sebagai pembicara utama.
Dalam kesempatan tersebut, Yudhistira mengajak pelajar menjadi agen perubahan dengan menyebarkan informasi yang positif, edukatif, dan bertanggung jawab di ruang digital.
Hadapi Tantangan Konten Negatif di Era Digital
Yudhistira menjelaskan bahwa maraknya konten negatif di media sosial, penyalahgunaan gawai, hingga kasus kekerasan dan perundungan di sekolah menjadi tantangan yang perlu dihadapi bersama.
Karena itu, penguatan kemampuan komunikasi publik dan literasi digital dinilai penting agar pelajar mampu memanfaatkan teknologi secara positif.
Strategi SIMI dalam Komunikasi Publik
Dalam lokakarya tersebut, Yudhistira memperkenalkan strategi komunikasi humas Kemendikdasmen melalui pendekatan SIMI, yang meliputi:
- Sosialisasi
- Informasi
- Mitigasi
- Intervensi
Melalui pendekatan ini, pelajar didorong untuk membiasakan diri membaca dan menulis agar mampu menyampaikan gagasan secara runtut dan bermanfaat bagi masyarakat.
“Pelajar harus bisa membekali diri agar bisa menjadi inspirasi dan memastikan informasi yang dibuat dan disebarluaskannya bisa bermanfaat dalam komunikasi publik,” ujar Yudhistira.
AI Harus Digunakan dengan Sikap Kritis
Pada sesi diskusi, Victor Obaja, siswa kelas VIII SMP Pelita Nusantara, menanyakan mengenai penggunaan Artificial Intelligence (AI) dalam pembelajaran.
Menanggapi hal tersebut, Yudhistira mengingatkan bahwa AI dapat dimanfaatkan sebagai alat bantu, namun informasi yang dihasilkan tetap harus diverifikasi.
Ia juga menjelaskan bahwa pengguna perlu memastikan keaslian informasi maupun gambar sebelum membagikannya.
“Jangan mudah percaya dengan AI, harus cek dan ricek. Think before share. Kita verifikasi dulu informasinya benar atau tidak,” tegasnya.
Gawai Tetap Boleh Digunakan untuk Belajar
Dalam sesi tanya jawab, Alda Christiani Natalya dari SMAN 1 Batam mempertanyakan kebijakan pembatasan penggunaan gawai di sekolah.
Yudhistira menjelaskan bahwa kebijakan tersebut tidak melarang penggunaan gawai untuk kegiatan pembelajaran.
Sebaliknya, gawai tetap dapat digunakan selama berada dalam pengawasan guru dan hanya dimanfaatkan untuk mendukung proses belajar mengajar.
“Untuk belajar itu gawai diperbolehkan. Biasanya ponsel murid dititip kepada guru dan hanya digunakan saat pembelajaran dalam pendampingan guru agar tidak terpapar informasi yang tidak baik,” jelasnya.
Sekolah Apresiasi Lokakarya Kemendikdasmen
Wakil Kepala Sekolah Bidang Kurikulum SMK Maitreyawira Tanjungpinang, Rasty Armiani, mengapresiasi pelaksanaan lokakarya tersebut.
Menurutnya, kegiatan ini membantu sekolah memahami berbagai kebijakan terbaru Kemendikdasmen, termasuk mengenai pembatasan penggunaan gawai di lingkungan sekolah.
Ia juga menyampaikan terima kasih karena SMK Maitreyawira dipercaya menjadi tuan rumah penyelenggaraan kegiatan tersebut.
Mendorong Pelajar Menjadi Duta Komunikasi Positif
Lokakarya ini diikuti oleh sejumlah sekolah, di antaranya:
- SMPN 5 Tanjungpinang
- SMAN 1 Bintan Utara
- SMAN 1 Batam
- SMKN 2 Tanjungpinang
- SMP/SMA Pelita Nusantara
- SMK Bintan Insani
- SMP/SMA Maitreyawira Tanjungpinang
Selain menjadi ruang dialog mengenai kebijakan pendidikan, kegiatan ini juga bertujuan membangun kepemimpinan siswa, meningkatkan literasi digital yang kritis, serta mendorong pelajar menjadi duta komunikasi yang mampu menyampaikan informasi positif kepada lingkungan sekitarnya.
Lokakarya Komunikasi Inspiratif ini juga menjadi bagian dari kolaborasi Kemendikdasmen dengan komunitas Patriot Pelajar Mahasiswa (PPM) dalam mendukung visi “Pendidikan Bermutu untuk Semua.”




