Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) resmi menyerahkan pengelolaan Sekretariat Komisi Nasional Indonesia untuk UNESCO (KNIU) kepada Kementerian Kebudayaan melalui penandatanganan Berita Acara Serah Terima (BAST) di Jakarta, Senin (6/7). Langkah ini menjadi bagian dari proses transisi kelembagaan untuk memperkuat tata kelola KNIU sekaligus memastikan keberlanjutan pelaksanaan tugas dan fungsinya di bawah koordinasi Kementerian Kebudayaan.
Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan, Pratikno, mengapresiasi kontribusi KNIU yang selama lebih dari tujuh dekade telah menjadi penghubung Indonesia dengan UNESCO.
Menurut Pratikno, penguatan koordinasi lintas kementerian dan lembaga sangat diperlukan agar berbagai program UNESCO dapat berjalan lebih efektif, baik di tingkat nasional maupun internasional. Ia juga menekankan pentingnya dukungan anggaran, penguatan sumber daya manusia sebagai focal point, serta sosialisasi yang lebih luas kepada pemerintah daerah.
Sementara itu, Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Abdul Mu’ti, menyampaikan bahwa hubungan Indonesia dengan UNESCO merupakan bagian penting dari perjalanan bangsa dalam memajukan pendidikan, ilmu pengetahuan, kebudayaan, komunikasi, dan informasi.
Abdul Mu’ti menjelaskan bahwa melalui KNIU, berbagai praktik baik dan inovasi Indonesia dapat diperkenalkan kepada dunia. Sebaliknya, berbagai perkembangan dan pemikiran global juga menjadi referensi dalam memperkuat pembangunan nasional.
Ia mengungkapkan, Indonesia telah mencatat berbagai capaian penting melalui kerja sama dengan UNESCO. Di bidang pendidikan, Indonesia menerima Medali Emas Avicenna pada 1993 atas keberhasilan memperluas akses pendidikan. Pada 2023, Bahasa Indonesia juga resmi ditetapkan sebagai bahasa sidang umum UNESCO.
Di bidang kebudayaan, Indonesia memiliki enam warisan budaya dunia, 16 warisan budaya takbenda UNESCO, serta tujuh kota yang tergabung dalam UNESCO Creative Cities Network. Sementara itu, di bidang ilmu pengetahuan, Indonesia memiliki empat warisan alam dunia, 12 UNESCO Global Geopark, dan 21 cagar biosfer UNESCO. Pada bidang komunikasi dan informasi, Indonesia juga telah menginskripsikan 16 dokumen dalam program Memory of the World, termasuk arsip surat-surat Raden Ajeng Kartini.
Selain itu, Indonesia telah sembilan kali dipercaya menjadi anggota Executive Board UNESCO. Pada Juni 2026, Indonesia kembali terpilih sebagai anggota Komite Antarpemerintah untuk Pelindungan Warisan Budaya Takbenda periode 2026–2030, yang menunjukkan kepercayaan dunia terhadap kontribusi Indonesia dalam mendukung nilai-nilai UNESCO.
Abdul Mu’ti menegaskan bahwa pengalihan pengelolaan KNIU bukan sekadar perpindahan administrasi, melainkan estafet pengabdian untuk terus memperkuat peran Indonesia di tingkat global. Ia juga memastikan Kemendikdasmen tetap akan mendukung pelaksanaan berbagai program UNESCO, khususnya di bidang pendidikan, sesuai dengan kewenangan yang dimiliki.
















