Museum Keris Nusantara, Kota Solo.
Keris bertangguh Bali itu berdapur Parung Sari dan berpamor Ngulit Semongko.
Parung dapat diartikan “deretan lereng bukit dan lembah”, sedangkan “Sari” dapat diartikan sebagai “bunga”.
Jadi secara harfiah, Parung Sari dapat diartikan sebagai “hamparan elok bukit dan lembah yang dipenuhi dengan bunga-bunga yang indah”.
Keris Parung Sari melambangkan harapan akan kehidupan yang tentram, damai dan indah bagaikan hamparan lembah yang ditumbuhi banyak bunga-bunga. Begitu sejuk, damai, harum dan indah.
Keris Parungsari juga mengandung pesan tersirat sebagai tuntunan hidup agar kita sebagai Manusia hendaknya memiliki hati yang luas dan mulia (lembah manah) agar dapat mencapai kemuliaan dalam hidup dan pada akhirnya nanti dapat kembali ke lembah nirwana yang penuh dengan bunga-bunga harum dan indah yang merupakan tempat tujuan akhir Manusia.
Adapun pamor Ngulit Semongko (Ngulsem) adalah salah satu motif pamor pada bilah Keris atau Tombak yang bentuknya mirip dengan motif pada kulit buah semangka sehingga dinamakan “Ngulit Semongko” yang artinya “seperti kulit semangka”.
Pamor ini paling banyak dijumpai pada bilah Keris atau Tombak dan tergolong pamor tiban, yaitu pamor yang bentuk motifnya tidak direncanakan terlebih dahulu oleh Mpu pembuatnya.








