Pemerintah tengah mempertimbangkan sebuah crash program pendidikan dengan melibatkan lulusan perguruan tinggi terbaik dari berbagai disiplin ilmu. Para sarjana tersebut nantinya dapat ditugaskan sebagai tenaga pengajar sementara atau yang disebut Presiden Prabowo Subianto sebagai “guru darurat” di sekolah-sekolah yang membutuhkan dukungan.
Gagasan tersebut disampaikan Prabowo ketika membahas upaya memperbaiki kualitas pendidikan nasional. Menurutnya, perbaikan mendasar pendidikan tetap membutuhkan proses rekrutmen dan pendidikan guru yang berkualitas, meskipun pemerintah juga mempercepat digitalisasi pembelajaran.
Bisa Dimulai dari Sekolah Dasar
Prabowo memberikan gambaran bahwa crash program tersebut dapat dimulai dari jenjang sekolah dasar (SD). Ia mencontohkan kemungkinan merekrut sekitar 30.000 sarjana untuk diterjunkan ke sekolah-sekolah yang dinilai paling tertinggal.
Namun, angka 30.000 tersebut masih merupakan ilustrasi yang disampaikan Presiden. Sampai saat ini belum diumumkan kuota resmi, persyaratan pendaftaran, jadwal seleksi, maupun mekanisme penempatan peserta.
Tidak Hanya Lulusan Pendidikan
Salah satu hal yang menarik dari gagasan tersebut adalah calon peserta tidak terbatas pada lulusan fakultas atau program studi kependidikan.
Prabowo menyebut sarjana terbaik dari berbagai fakultas dapat dipertimbangkan untuk direkrut. Mereka kemudian diterjunkan untuk membantu sekolah yang masih membutuhkan peningkatan kualitas pembelajaran.
Skema tersebut masih perlu dirinci lebih lanjut, termasuk mengenai pelatihan pedagogik yang harus dijalani calon guru darurat sebelum berhadapan langsung dengan peserta didik.
Numerasi dan Digitalisasi Jadi Perhatian
Pemerintah juga menaruh perhatian pada kemampuan dasar siswa, termasuk berhitung dan aritmatika. Digitalisasi kelas menjadi salah satu strategi yang sedang digunakan untuk membantu mengurangi kesenjangan kualitas pembelajaran antarsekolah.
Prabowo menyebut teknologi dapat membantu guru meningkatkan kemampuan sekaligus menyediakan materi pembelajaran yang lebih menarik bagi siswa. Namun, menurutnya, teknologi tidak dapat menggantikan peran guru.
Penguatan numerasi sendiri juga menjadi salah satu arah kebijakan Kemendikdasmen. Dalam pidato Hari Pendidikan Nasional 2026, Kemendikdasmen memasukkan peningkatan kualitas pembelajaran melalui gerakan literasi, numerasi, dan STEM sebagai bagian dari agenda pendidikan.
PNS Juga Bisa Diterjunkan Sementara
Selain merekrut sarjana terbaik, pemerintah mempertimbangkan alternatif lain dengan melibatkan aparatur sipil negara yang telah bekerja.
Prabowo memberikan contoh bahwa PNS dapat ditugaskan sementara untuk membantu sekolah tertentu selama sekitar dua hingga tiga minggu, menyesuaikan kebutuhan dan kondisi masing-masing wilayah.
Skema tersebut masih berupa opsi yang sedang dipikirkan dan belum diumumkan sebagai mekanisme penugasan resmi.
Rekrutmen Guru Juga Sedang Dikaji
Rencana crash program muncul bersamaan dengan pembahasan mengenai sistem rekrutmen guru di Indonesia.
Pemerintah sedang mengkaji kemungkinan mengembalikan kewenangan pengangkatan guru kepada pemerintah pusat. Prabowo mengaitkan pembahasan tersebut dengan keinginan membangun proses rekrutmen yang lebih objektif dan menjaga kualitas tenaga pendidik.
Di sisi lain, Presiden juga menekankan bahwa peningkatan mutu pendidikan perlu berjalan bersama dengan perbaikan kesejahteraan guru.
Belum Ada Pendaftaran Crash Program Guru
Masyarakat perlu membedakan antara gagasan kebijakan dan program yang sudah resmi dibuka. Hingga September 2026, belum ada pengumuman pendaftaran resmi untuk crash program guru darurat tersebut.
Belum tersedia pula ketentuan mengenai batas usia, jurusan yang dapat mendaftar, status kepegawaian, besaran penghasilan, durasi penugasan, lokasi penempatan, maupun tahapan seleksi.
Karena itu, lulusan perguruan tinggi yang tertarik dengan program ini masih perlu menunggu keputusan dan aturan teknis pemerintah. Sejumlah pemberitaan terbaru juga mencatat bahwa rencana crash program tersebut masih berada pada tahap gagasan dan pembahasan.
Jika nantinya direalisasikan, program tersebut akan menjadi salah satu upaya percepatan untuk memberikan dukungan tenaga pengajar kepada sekolah yang masih tertinggal, sembari pemerintah melakukan pembenahan jangka panjang terhadap rekrutmen, pendidikan, peningkatan kompetensi, dan kesejahteraan guru.








