Jakarta – Kebakaran hutan dan lahan atau karhutla selama ini lebih sering dikaitkan dengan asap pekat, kerusakan vegetasi, hilangnya habitat satwa, hingga gangguan kesehatan masyarakat.
Namun, bahaya karhutla ternyata tidak selalu berakhir ketika api sudah padam dan asap mulai menghilang. Salah satu ancaman yang perlu diperhatikan adalah meningkatnya kadar arsenik di aliran sungai setelah kebakaran.
Temuan tersebut menjadi perhatian karena arsenik merupakan unsur beracun yang dapat menimbulkan dampak kesehatan apabila manusia terpapar dalam jumlah tertentu dan dalam jangka panjang.
Mengapa Arsenik Bisa Meningkat Setelah Karhutla?
Setelah hutan atau lahan terbakar, permukaan tanah mengalami perubahan. Vegetasi yang sebelumnya membantu menahan tanah dan mengurangi aliran permukaan telah hilang.
Kondisi tersebut membuat tanah menjadi lebih mudah tererosi ketika hujan turun.
Sisa abu hasil pembakaran dan material dari tanah kemudian dapat terbawa aliran air menuju sungai. Dalam proses tersebut, berbagai unsur yang sebelumnya tersimpan di tanah dapat ikut masuk ke sistem perairan, termasuk arsenik.
Dengan demikian, hujan setelah karhutla bukan hanya membantu membersihkan sisa abu di permukaan, tetapi juga dapat membawa material hasil pembakaran dan sedimen ke sungai.
Riset Menunjukkan Lonjakan Arsenik di Air Sungai
Penelitian yang dibahas dalam artikel detikEdu dilakukan oleh Jordan Willeford dan tim dari Department of Environmental Sciences and Engineering, University of North Carolina.
Para peneliti melakukan telaah terhadap 676 penelitian, kemudian mendalami 105 riset yang relevan. Dari jumlah tersebut, terdapat 20 penelitian yang secara khusus mengukur kadar arsenik di air setelah kebakaran hutan.
Sebagian besar penelitian yang dianalisis berasal dari wilayah seperti Kanada, Portugal, dan Amerika Utara. Hasil kajian menunjukkan adanya peningkatan kadar arsenik di perairan setelah kebakaran.
Temuan ini memperlihatkan bahwa dampak kebakaran terhadap lingkungan perairan dapat berlangsung setelah kobaran api berhenti.
Bahaya Tidak Selalu Terlihat dari Warna Air
Salah satu persoalan pencemaran arsenik adalah keberadaannya tidak selalu mudah dikenali secara kasatmata.
Air yang mengandung arsenik tidak harus memiliki warna atau bau yang berbeda. Karena itu, masyarakat tidak dapat menentukan keamanan air hanya dengan melihat kondisi fisiknya.
Inilah yang membuat pemantauan kualitas air menjadi penting terutama di wilayah yang berada di sekitar kawasan bekas kebakaran.
Jika sungai menjadi sumber air bagi masyarakat, pengujian laboratorium diperlukan untuk mengetahui apakah terdapat perubahan kandungan zat tertentu setelah peristiwa karhutla.
Arsenik Bisa Berbahaya bagi Kesehatan
Arsenik anorganik menjadi perhatian karena paparan dalam jangka panjang dapat meningkatkan risiko berbagai gangguan kesehatan.
Paparan kronis terhadap arsenik dikaitkan dengan peningkatan risiko kanker, serta sejumlah gangguan kesehatan lainnya seperti masalah pada kulit dan metabolisme.
Karena itu, keberadaan arsenik di lingkungan perairan tidak boleh dianggap sebagai persoalan lingkungan semata.
Jika sumber air yang telah tercemar digunakan untuk kebutuhan sehari-hari tanpa pengolahan yang tepat, manusia dapat terpapar secara terus-menerus.
Dampak Karhutla Bisa Berlangsung Bertahun-tahun
Salah satu pelajaran penting dari penelitian tersebut adalah bahwa dampak kebakaran hutan tidak berhenti ketika api berhasil dipadamkan.
Kebakaran dapat mengubah kondisi tanah, vegetasi, serta sistem hidrologi di suatu wilayah.
Ketika hujan datang, material dari kawasan bekas kebakaran dapat terbawa menuju sungai. Proses tersebut berpotensi membuat kualitas air mengalami perubahan dalam waktu yang lebih panjang.
Studi lain mengenai kualitas air pascakebakaran juga menunjukkan bahwa dampak kebakaran terhadap perairan dapat berlangsung selama beberapa tahun. Peristiwa hujan atau badai dapat kembali membawa kontaminan dari kawasan yang terbakar ke sistem perairan.
Artinya, pemulihan kawasan bekas karhutla membutuhkan perhatian yang lebih panjang daripada sekadar memastikan api sudah tidak menyala.
Abu dan Sedimen Bisa Menjadi Jalur Pencemaran
Setelah karhutla, permukaan tanah biasanya kehilangan sebagian tutupan vegetasi.
Saat hujan deras terjadi, air lebih mudah mengalir di permukaan tanah. Sedimen kemudian terbawa menuju parit, anak sungai, dan sungai utama.
Selain arsenik, kawasan bekas kebakaran juga berpotensi membawa berbagai material lain, termasuk logam dan senyawa hasil pembakaran.
Karena itu, kualitas air di sekitar kawasan terdampak perlu diperiksa secara berkala, terutama apabila sungai digunakan untuk kebutuhan masyarakat.
Karhutla Juga Mengganggu Ekosistem Sungai
Pencemaran setelah kebakaran tidak hanya berpotensi berdampak pada manusia.
Perubahan kualitas air dapat memengaruhi organisme yang hidup di dalam sungai. Jika kondisi kimia air berubah secara signifikan, kehidupan ikan, tumbuhan air, mikroorganisme, dan organisme lainnya juga dapat terganggu.
Ekosistem perairan membutuhkan waktu untuk kembali stabil setelah mengalami perubahan besar.
Dengan demikian, upaya pemulihan kawasan karhutla perlu mencakup perlindungan terhadap daerah aliran sungai dan ekosistem perairan di sekitarnya.
Jangan Anggap Bahaya Berakhir Saat Api Padam
Karhutla sering kali dianggap selesai ketika titik api telah berhasil dikendalikan.
Padahal, setelah api padam masih terdapat sejumlah risiko yang perlu diperhatikan, mulai dari kualitas udara, erosi tanah, pencemaran air, hingga perubahan ekosistem.
Bahkan, Kementerian Kesehatan pada September 2026 masih mengingatkan bahwa dampak karhutla perlu ditangani sebagai persoalan kesehatan masyarakat. Data Kemenkes menunjukkan jutaan penduduk di sejumlah provinsi terdampak dan ribuan kasus ISPA dilaporkan selama periode karhutla 2026.
Hal tersebut menunjukkan bahwa penanganan karhutla membutuhkan pendekatan yang tidak hanya berfokus pada pemadaman api, tetapi juga pada fase pemulihan.
Apa yang Perlu Dilakukan Setelah Karhutla?
Ada beberapa langkah yang dapat dilakukan untuk mengurangi risiko pascakebakaran.
Pertama, melakukan pemantauan kualitas air. Sungai yang berada di sekitar kawasan terbakar perlu mendapatkan perhatian, terutama jika menjadi sumber air masyarakat.
Kedua, mencegah penggunaan air yang belum dipastikan aman. Masyarakat sebaiknya mengikuti informasi dari pemerintah atau instansi terkait mengenai kualitas sumber air.
Ketiga, memulihkan tutupan vegetasi. Penanaman kembali vegetasi dapat membantu mengurangi erosi dan limpasan permukaan ketika hujan.
Keempat, memperkuat pemantauan lingkungan. Pengujian terhadap kandungan logam dan zat berbahaya perlu dilakukan apabila terdapat indikasi pencemaran.
Kelima, tidak hanya berfokus pada udara. Pemantauan pascakarhutla perlu mencakup tanah dan air karena dampaknya dapat muncul melalui berbagai jalur.
Karhutla Adalah Masalah Jangka Panjang
Fenomena meningkatnya arsenik di sungai memberikan gambaran bahwa kebakaran hutan dan lahan memiliki dampak berantai.
Api menghancurkan vegetasi. Hilangnya vegetasi meningkatkan kerentanan tanah terhadap erosi. Ketika hujan turun, sedimen dan material dari kawasan terbakar dapat masuk ke sungai. Pada kondisi tertentu, proses tersebut dapat membawa zat berbahaya yang sebelumnya berada di tanah menuju perairan.
Karena itu, keberhasilan penanganan karhutla tidak seharusnya hanya diukur dari seberapa cepat api dipadamkan.
Pemulihan lingkungan, pemantauan kualitas air, rehabilitasi lahan, serta perlindungan masyarakat di sekitar kawasan terdampak juga menjadi bagian penting dari penanganan.
Kesimpulan
Karhutla ternyata meninggalkan ancaman yang jauh lebih luas daripada asap dan kerusakan hutan.
Riset yang dibahas detikEdu menunjukkan adanya lonjakan kadar arsenik di sungai setelah kebakaran hutan, yang berkaitan dengan proses erosi dan perpindahan material dari kawasan yang terbakar menuju sistem perairan.
Arsenik menjadi perhatian karena paparan jangka panjang terhadap bentuk anorganiknya dapat meningkatkan risiko berbagai gangguan kesehatan.
Temuan tersebut menjadi pengingat bahwa padamnya api bukan berarti seluruh bahaya karhutla telah berakhir. Pemantauan kualitas udara, tanah, dan air harus terus dilakukan selama proses pemulihan lingkungan berlangsung.
Dengan pengawasan yang baik, risiko pencemaran pascakarhutla dapat lebih cepat dikenali dan masyarakat di sekitar kawasan terdampak dapat memperoleh perlindungan yang lebih baik.










