Jakarta – Upaya pemulihan sektor pendidikan pascabencana di Kecamatan Linge, Kabupaten Aceh Tengah, terus menunjukkan perkembangan positif. Setelah berbulan-bulan menjalani pembelajaran di bawah tenda, sebagian siswa SD Negeri 10 Linge kini mulai menempati empat unit Ruang Kelas Darurat (RKD) yang dibangun di Desa Jamat.
Penggunaan ruang kelas darurat tersebut ditandai dengan prosesi Tepung Tawar pada Senin (20/7/2026) yang dihadiri siswa, guru, perangkat desa, serta berbagai pihak yang terlibat dalam pembangunan fasilitas belajar sementara tersebut.
Belajar di Dua Lokasi Sejak Banjir
Sejak banjir melanda Kecamatan Linge pada akhir 2025, kegiatan belajar mengajar di SDN 10 Linge dilaksanakan di dua lokasi, yaitu Tenda 01 di Desa Reje Payung dan Tenda 02 di Desa Jamat.
Skema tersebut diterapkan agar siswa dari kedua desa tetap dapat mengikuti pembelajaran dengan jarak tempuh yang lebih mudah.
Dengan beroperasinya empat ruang kelas darurat, siswa yang sebelumnya belajar di Tenda 01 kini dapat menikmati lingkungan belajar yang lebih aman dan nyaman. Sementara itu, siswa di Tenda 02 masih menjalani pembelajaran di bawah tenda sambil menunggu pembangunan fasilitas serupa.
Kolaborasi Berbagai Pihak
Kepala SDN 10 Linge, Nurdin, menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang telah mendukung pembangunan ruang kelas darurat tersebut.
“Kami mengucapkan terima kasih kepada Kemendikdasmen, MDMC Muhammadiyah, Dinas Pendidikan Aceh, dan sejumlah instansi terkait yang telah berkontribusi dalam pembangunan ruang kelas darurat ini,” ujarnya.
Ia menjelaskan bahwa sekolah sebelumnya mengusulkan pembangunan 11 ruang kelas darurat, terdiri atas tujuh unit untuk Tenda 01 dan empat unit untuk Tenda 02.
Hingga saat ini, empat unit telah selesai dibangun dan dimanfaatkan oleh siswa.
“Setidaknya anak-anak yang sebelumnya belajar di Tenda 01 sekarang dapat mengikuti pelajaran dengan lebih nyaman dibandingkan ketika masih berada di tenda,” katanya.
Pemerintah Terus Percepat Pemulihan
Satgas Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (PRR) Pascabencana Sumatra terus memperkuat koordinasi dengan kementerian, pemerintah daerah, serta berbagai mitra untuk mempercepat penyediaan ruang kelas darurat bagi siswa yang masih belajar di Tenda 02.
Langkah tersebut dilakukan agar seluruh peserta didik dapat belajar di lingkungan yang aman, nyaman, dan mendukung proses pembelajaran.
Direktur Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini, Pendidikan Dasar, dan Pendidikan Nonformal dan Informal, Gogot Suharwoto, menegaskan bahwa pemulihan sarana pendidikan merupakan bagian dari komitmen pemerintah dalam menjamin layanan pendidikan tetap berjalan di wilayah terdampak bencana.
“Kami berharap perbaikan sarana dan prasarana ini tidak hanya mengubah kondisi fisik bangunan sekolah, tetapi juga membangkitkan semangat belajar peserta didik dan mendorong peningkatan kualitas pendidikan,” ujarnya.
Masih Dibutuhkan 30 Ruang Kelas Darurat
Sekretariat Satuan Pendidikan Aman Bencana (SPAB) Kemendikdasmen juga telah melakukan pemetaan kebutuhan ruang kelas darurat di Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat.
Berdasarkan data tahun 2026:
- Total kebutuhan mencapai 343 Ruang Kelas Darurat (RKD) pada 106 satuan pendidikan.
- Sebanyak 313 RKD telah terpenuhi di 89 satuan pendidikan.
- Masih diperlukan 30 RKD pada 17 satuan pendidikan, yang terdiri dari 14 PAUD, 2 SD, dan 1 SMP di tiga provinsi tersebut.
Pemetaan ini merupakan tindak lanjut arahan Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah agar tidak ada lagi sekolah terdampak bencana di wilayah Sumatra yang melaksanakan pembelajaran di bawah tenda.
Pemenuhan ruang kelas darurat diharapkan menjadi langkah awal menuju pemulihan pendidikan yang lebih menyeluruh, sehingga seluruh peserta didik dapat kembali belajar dengan aman, nyaman, dan penuh semangat.









