SDN Mboeng di Kabupaten Manggarai Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT), menjadi perhatian publik setelah kondisi sarana dan prasarana sekolah tersebut viral di media sosial. Pemerintah melalui Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) memastikan sekolah tersebut masuk dalam program revitalisasi tahun 2026.
Sekolah tersebut diketahui memiliki lima bangunan permanen. Namun, dua ruang kelas mengalami kerusakan berat sehingga tidak dapat digunakan secara optimal. Akibat keterbatasan ruang, SDN Mboeng masih memanfaatkan empat ruang kelas darurat untuk kegiatan belajar mengajar.
Kondisi sekolah semakin ramai diperbincangkan setelah beredar unggahan di media sosial yang memperlihatkan ruang belajar dengan dinding bambu dan lantai tanah. Unggahan tersebut juga menyebut SDN Mboeng sudah lama tidak mendapatkan renovasi dan memiliki keterbatasan akses listrik.
Di tengah kondisi tersebut, SDN Mboeng juga menjadi salah satu sekolah yang menerima Interactive Flat Panel (IFP) atau papan interaktif digital sebagai bagian dari program digitalisasi pendidikan. Pemberian perangkat ini sempat menuai perhatian karena muncul pertanyaan mengenai kesiapan infrastruktur sekolah untuk menggunakannya.
Direktur Sekolah Dasar Kemendikdasmen, Moch Salim Somad, mengatakan keterbatasan ruang kelas menjadi salah satu persoalan yang perlu ditangani. Revitalisasi diharapkan dapat memperbaiki kondisi sarana pendidikan sekaligus memberikan lingkungan belajar yang lebih aman dan nyaman bagi siswa.
Selain SDN Mboeng, pemerintah juga menyiapkan program revitalisasi yang lebih luas di NTT. Pada 2026, sebanyak 1.487 satuan pendidikan di wilayah tersebut menjadi sasaran revitalisasi dengan anggaran mencapai sekitar Rp1,2 triliun.
Dengan masuknya SDN Mboeng dalam program revitalisasi, perhatian terhadap sekolah tersebut diharapkan tidak berhenti pada viralnya kondisi bangunan. Perbaikan fasilitas dasar dan dukungan pembelajaran perlu berjalan beriringan agar siswa di daerah tersebut memperoleh hak belajar dalam lingkungan yang layak.




