Setiap pagi dan siang hari, pemandangan menegangkan terlihat di atas Sungai Deli, Kota Medan. Sejumlah siswa SMP tampak berjalan perlahan di atas sebuah pipa air PDAM yang membentang di atas sungai. Bukan untuk seru-seruan atau konten ekstrem, jalur ini justru menjadi “jembatan darurat” yang mereka gunakan untuk berangkat dan pulang sekolah. Di bawah pijakan mereka, air sungai mengalir dengan lebar dan arus yang tidak bisa dianggap sepele.
Para pelajar ini terdiri dari siswa laki-laki dan perempuan, sebagian masih mengenakan seragam lengkap ketika melintas. Mereka terpaksa memakai jalur pipa karena di titik tersebut tidak ada lagi jembatan yang bisa dilalui pejalan kaki. Dulu, kawasan itu memiliki jembatan yang merupakan bekas rel kereta api dan menjadi penghubung penting antara Gang Perbatasan di Jalan Brigjen Katamso, Kecamatan Medan Maimun, dengan wilayah Kecamatan Medan Polonia. Kini, jembatan itu sudah tidak ada, menyisakan pipa air sebagai satu-satunya lintasan paling dekat.
Kisah siswa SMP yang menyeberangi Sungai Deli lewat pipa air ini menjadi pengingat bahwa perjuangan menuju ruang kelas tidak selalu terjadi di dalam bangku dan buku. Ada anak-anak yang secara harfiah mempertaruhkan keselamatan demi bisa terus belajar. Di era ketika pendidikan digadang sebagai kunci masa depan, memastikan jalur menuju sekolah aman dan layak seharusnya menjadi bagian tak terpisahkan dari komitmen mencerdaskan kehidupan bangsa.















