“Awalnya kita riset di internet, kita lihat beberapa (berita) ada keracunan MBG itu. Habis itu saya diskusi sama Pradipta, gimana kalau kita membuat alat yang bisa mendeteksi makanan basi.”
Kalimat sederhana itu menjadi awal lahirnya sebuah inovasi dari dua siswa SMP Negeri 1 Turi, Sleman.
Pradipta Widhi Nugroho dan Abyan Syahlefi, siswa kelas IX, berhasil mengembangkan detektor kesegaran makanan yang mampu mengidentifikasi apakah makanan masih aman dikonsumsi hanya dalam waktu 5 detik.
Alat ini dibuat sebagai bentuk kepedulian terhadap maraknya pemberitaan mengenai kasus keracunan pada program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Dengan biaya sekitar Rp500 ribu, mereka merancang alat berbasis sensor yang dapat mendeteksi kelembapan, kadar alkohol, kualitas udara, suhu makanan, hingga kadar pestisida pada buah. Hasil pemeriksaan juga dapat dipantau melalui ponsel menggunakan koneksi WiFi.
Meski masih terus disempurnakan, mereka mengklaim alat tersebut memiliki tingkat akurasi hingga 100% berdasarkan serangkaian uji coba yang telah dilakukan.
Tak hanya berhenti sebagai proyek sekolah, inovasi ini juga berhasil lolos tahap pertama Olimpiade Penelitian Siswa Indonesia (OPSI) tingkat Nasional dan kini bersiap melaju ke tahap berikutnya.
Kisah ini membuktikan bahwa pendidikan tidak hanya melahirkan siswa yang pandai menghafal, tetapi juga mampu menciptakan solusi nyata bagi persoalan di masyarakat. Ketika rasa ingin tahu dipadukan dengan kepedulian, lahirlah inovasi yang memberi manfaat bagi banyak orang.









