“Menjadi guru sejatinya adalah juga menjadi murid. Ketika bapak ibu mengajar, jangan hanya jadi fasilitator, tapi jadilah pembelajar juga. Bersama mereka mempelajari sesuatu, bersama mereka kita mendampingi sampai dia bisa belajar.”
Pesan tersebut disampaikan Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu’ti pada Rabu (29/7/2026).
Menurutnya, pendidikan yang bermakna berawal dari rasa cinta kepada murid. Guru tidak hanya hadir untuk menyampaikan materi, tetapi juga mendampingi, belajar bersama, dan membantu setiap anak berkembang sesuai potensinya.
Selain mendorong penerapan Engaged Learning dan pendekatan Pembelajaran Mendalam, pemerintah juga menyiapkan berbagai langkah untuk mendukung pengembangan guru, di antaranya:
📚 “Kami menyiapkan program beasiswa Rekognisi Pembelajaran Lampau (RPL) bagi 150 ribu guru yang belum menuntaskan pendidikan S-1 atau D-IV.”
Melalui program tersebut, pengalaman mengajar dapat diakui sebagai kredit akademik sehingga masa studi dapat diselesaikan paling lama 1,5 tahun.
Tak hanya itu, pemerintah juga menegaskan komitmennya terhadap peningkatan kesejahteraan dan kompetensi guru.
“Kami juga berkomitmen meningkatkan kesejahteraan guru melalui kenaikan tunjangan yang diharapkan diikuti peningkatan kompetensi pedagogik, profesional, sosial, dan kepribadian.”
Sementara itu, kabar baik lainnya adalah:
“Keikutsertaan guru dalam pelatihan PKB kini resmi diperhitungkan sebagai bagian dari pemenuhan beban kerja 24 jam mengajar.”
Harapannya, kebijakan ini dapat mendorong semakin banyak guru untuk terus belajar, meningkatkan kompetensi, dan menghadirkan pembelajaran yang lebih bermakna bagi setiap peserta didik.









