Jakarta – Tahun akademik 2026/2027 segera dimulai. Selain menyiapkan perlengkapan kuliah dan tempat tinggal bagi yang merantau, mahasiswa baru juga perlu mempersiapkan kondisi mental agar lebih siap menghadapi kehidupan kampus.
Pakar psikologi perkembangan dan pendidikan Universitas Airlangga (Unair), Dr. Dewi Retno Suminar, menjelaskan bahwa tantangan terbesar mahasiswa baru umumnya muncul saat harus beradaptasi dengan lingkungan yang benar-benar baru.
“Tantangan terbesar adalah adaptasi dengan lingkungan baru, mengingat teman maupun suasana yang juga baru. Kegagalan dalam beradaptasi menjadi sumber tantangan mental utama bagi mahasiswa baru,” jelasnya.
Menurut Dewi, keberhasilan di perguruan tinggi tidak hanya ditentukan oleh kemampuan akademik, tetapi juga kemampuan mengelola diri, membangun relasi sosial, serta menjaga kesehatan mental.
Berikut empat tips yang dibagikan untuk membantu mahasiswa baru menjalani masa transisi dengan lebih baik.
1. Bangun Pertemanan Sejak Hari Pertama
Mahasiswa baru dianjurkan mulai berkenalan dengan teman-teman di kelas sejak hari pertama perkuliahan.
Langkah sederhana seperti menyapa teman di sebelah kanan dan kiri dapat menjadi awal membangun jaringan pertemanan.
Setelah kegiatan Pengenalan Kehidupan Kampus bagi Mahasiswa Baru (PPKMB), mahasiswa juga disarankan bergabung dengan Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) sesuai minat.
Interaksi dengan orang-orang yang memiliki ketertarikan serupa dapat mempercepat proses adaptasi sekaligus menjadi sumber dukungan ketika menghadapi stres atau kecemasan.
“Wajib bagi mahasiswa baru mencoba mendapatkan teman. Interaksi dengan teman yang memiliki minat yang sama akan membantu proses adaptasi dan menjadi dukungan ketika menghadapi kecemasan maupun stres,” ujar Dewi.
2. Bijak Menggunakan Media Sosial
Dewi juga mengingatkan mahasiswa baru agar tidak mudah terjebak dalam fenomena Fear of Missing Out (FOMO).
Sebaliknya, ia mendorong mahasiswa menerapkan Joy of Missing Out (JOMO), yaitu tetap merasa tenang meskipun tidak mengikuti semua informasi yang beredar di media sosial.
Mahasiswa disarankan lebih mengutamakan informasi dari kanal resmi universitas dibanding mempercayai kabar yang belum jelas sumbernya.
Saat mulai merasa cemas, melakukan self-talk atau berbicara positif kepada diri sendiri juga dapat membantu mengelola emosi.
3. Kenali Dosen Pembimbing Akademik
Selain membangun hubungan dengan teman, mahasiswa baru juga dianjurkan mengenal dosen pembimbing akademik sejak awal.
Dosen pembimbing dapat menjadi tempat berkonsultasi mengenai perkembangan studi maupun berbagai tantangan selama menjalani perkuliahan.
Bagi mahasiswa yang merantau, Dewi juga mengingatkan pentingnya tetap menjaga komunikasi dengan orang tua agar dukungan emosional tetap terjaga.
Menurutnya, dukungan sosial memiliki peran besar dalam menjaga kesehatan mental selama proses adaptasi.
4. Manfaatkan Layanan Konseling Kampus
Apabila kesulitan beradaptasi mulai menimbulkan stres berkepanjangan, mahasiswa tidak perlu ragu mencari bantuan.
Di Universitas Airlangga, tersedia berbagai layanan pendamping seperti Pusat Layanan Kesehatan (PLK), Help Center, dan Pencegahan dan Penanganan Kekerasan di Perguruan Tinggi (PPKPT).
Mahasiswa baru disarankan mengenal berbagai layanan tersebut sejak mengikuti kegiatan PPKMB agar mengetahui tempat yang dapat dihubungi ketika membutuhkan bantuan.
Adaptasi Adalah Proses
Menutup pesannya, Dewi mengajak mahasiswa baru untuk menikmati proses adaptasi tanpa terburu-buru.
“Banyaklah mendengar, bertanya, namun sedikit berbicara untuk mengenali lingkungan yang dimasuki. Gunakan jurus tangguh, pantang menyerah, dan perbanyak teman serta jejaring sosial agar dapat berkembang dengan baik,” tegasnya.
Memasuki dunia perkuliahan memang membawa banyak perubahan. Namun dengan kesiapan mental, dukungan sosial, dan kemauan untuk terus belajar, mahasiswa baru dapat menjalani masa transisi dengan lebih percaya diri dan nyaman.









