Keterbatasan ekonomi tidak menghalangi Muhamad Al Finsih untuk meraih prestasi di dunia pendidikan. Berasal dari keluarga sederhana, dengan ibu yang berjualan nasi uduk dan ayah yang bekerja sebagai pengemudi ojek daring, Al Finsih berhasil meraih predikat wisudawan terbaik Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Negeri Jakarta (UNJ).
Penghargaan tersebut diterimanya dalam Wisuda Tahun Akademik 2025/2026 Sesi I yang berlangsung di GOR UNJ pada Senin, 19 Oktober 2026. Pencapaian ini menjadi kebanggaan bagi dirinya dan keluarga, sekaligus bukti perjuangan panjang dalam menyelesaikan pendidikan tinggi.
Selama kuliah, Al Finsih mengandalkan beasiswa Kartu Indonesia Pintar Kuliah (KIP Kuliah) untuk membantu membiayai pendidikannya. Ia juga bekerja secara jarak jauh untuk memenuhi kebutuhan selama masa studi.
Perjalanannya menunjukkan bahwa keberhasilan akademik tidak hanya ditentukan oleh keadaan ekonomi, tetapi juga dipengaruhi oleh kedisiplinan, kemampuan mengatur waktu, dukungan orang-orang terdekat, dan kemauan untuk terus belajar. <Cite refs={[“turn146328search5″,”turn146328search6”]}/>
1. Berjuang Kuliah dengan Beasiswa KIP Kuliah
Bagi Al Finsih, menempuh pendidikan tinggi membutuhkan usaha yang tidak sedikit. Ia berasal dari keluarga sederhana sehingga harus berusaha mengelola kebutuhan selama menjalani perkuliahan.
Beasiswa KIP Kuliah menjadi salah satu dukungan penting yang membantunya melanjutkan pendidikan. Selain itu, ia mengambil pekerjaan sampingan secara jarak jauh agar dapat membantu memenuhi kebutuhan selama kuliah.
Menjalani perkuliahan sekaligus bekerja tentu memiliki tantangan tersendiri. Al Finsih harus membagi waktu dan tenaga agar tugas akademik tetap terselesaikan tanpa mengabaikan tanggung jawab pekerjaannya.
Pengalaman tersebut melatihnya untuk menentukan prioritas, menjaga konsistensi, dan menyelesaikan tanggung jawab dengan baik. Ia juga belajar bahwa keberhasilan membutuhkan proses yang dijalani secara disiplin.
2. Mengatur Waktu antara Kuliah dan Pekerjaan
Salah satu tantangan terbesar yang dihadapi Al Finsih adalah mengelola waktu dan energi. Ia harus memastikan pekerjaan tetap berjalan, sementara kewajiban sebagai mahasiswa juga harus dipenuhi.
Situasi tersebut menuntutnya memiliki perencanaan yang baik. Ia perlu menentukan kegiatan yang harus diselesaikan terlebih dahulu dan menjaga komitmen terhadap setiap tanggung jawab.
Al Finsih menekankan pentingnya mengingat tujuan yang ingin dicapai serta kepercayaan orang-orang yang telah memberikan amanah.
“Selalu ingat siapa diri kita, apa tujuan kita, dan kepercayaan orang-orang yang telah memberikan amanah kepada kita untuk menyelesaikan tugas dan kewajiban sampai selesai,” ungkapnya, sebagaimana diberitakan melalui laman resmi UNJ.
Pesan tersebut menggambarkan bagaimana tujuan yang jelas dapat menjadi pengingat ketika seseorang menghadapi kesulitan selama menjalani pendidikan. <Cite refs={[“turn146328search5″,”turn146328search6”]}/>
3. Aktif di Kampus dan Terlibat dalam Penelitian
Meski harus membagi waktu antara pekerjaan dan perkuliahan, Al Finsih tetap terlibat dalam berbagai kegiatan kampus.
Pada semester dua, ia dipercaya menjadi ketua kelas sekaligus penanggung jawab mata kuliah. Tanggung jawab tersebut memberinya pengalaman dalam berkoordinasi, berkomunikasi, dan bekerja sama dengan teman-teman mahasiswa.
Memasuki semester tujuh, ia kembali mendapat kepercayaan sebagai ketua atau koordinator program studi dalam pelaksanaan program wajib Pengabdian kepada Masyarakat (PKM).
Selain menjalankan tanggung jawab organisasi dan kegiatan kampus, Al Finsih memperoleh kesempatan untuk terlibat dalam penelitian bersama dosen. Pengalaman tersebut memperluas wawasan akademiknya dan membantunya mengembangkan kemampuan dalam bidang yang dipelajari.
Berbagai kegiatan itu menunjukkan bahwa perjalanan mahasiswa tidak hanya berkaitan dengan nilai akademik. Pengalaman organisasi, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat juga dapat membentuk keterampilan yang berguna setelah lulus.
4. Menorehkan Prestasi hingga Malaysia dan London
Di tengah perjuangannya menyelesaikan pendidikan, Al Finsih juga memperoleh kesempatan untuk mengembangkan kemampuan di tingkat internasional.
Salah satu pengalaman yang berkesan baginya adalah mewakili program studi dan fakultas dalam kegiatan Global Wellness Leadership Week di Malaysia pada 2024.
Pada tahun yang sama, ia meraih penghargaan Best Paper dalam ajang Frontiers of Intelligent Computing: Theory and Applications (FICTA) 2024 di London, Inggris.
Pengalaman tersebut menjadi kesempatan untuk memperluas wawasan, membangun kepercayaan diri, dan berinteraksi dalam lingkungan akademik internasional.
Prestasi ini juga memperlihatkan bahwa mahasiswa dapat mengembangkan potensi melalui berbagai kesempatan, termasuk kegiatan ilmiah dan kolaborasi di luar kampus. <Cite refs={[“turn146328search5″,”turn146328search7”]}/>
5. Memiliki Minat pada Administrasi, Keuangan, dan Akuntansi
Dalam perjalanan akademiknya, Al Finsih memiliki ketertarikan pada pekerjaan administrasi, terutama yang berkaitan dengan keuangan dan akuntansi.
Ia juga ingin terus mengembangkan kemampuan komunikasi, termasuk menyampaikan informasi yang kompleks dengan bahasa yang lebih sederhana agar mudah dipahami orang lain.
Pengalaman dalam bidang kependidikan memberinya ruang untuk melatih kemampuan tersebut melalui proses pembelajaran. Ia berupaya membangun kompetensi yang tidak hanya berguna selama kuliah, tetapi juga relevan dengan kebutuhan dunia kerja.
Baginya, pendidikan tinggi menjadi kesempatan untuk mengenali potensi diri, memperluas pengetahuan, dan mempersiapkan diri menghadapi tantangan setelah lulus.
6. Dukungan Keluarga Menjadi Bagian Penting Perjuangannya
Di balik keberhasilan meraih predikat wisudawan terbaik, Al Finsih tidak melupakan dukungan orang-orang terdekatnya.
Ia menyampaikan rasa terima kasih kepada orang tua, adik, keluarga, dosen, dan sahabat yang terus mendampingi perjalanan pendidikannya.
Dukungan tersebut menjadi bagian penting dalam proses yang dijalaninya. Perjuangan menyelesaikan kuliah sambil bekerja tidak hanya membutuhkan usaha pribadi, tetapi juga lingkungan yang memberikan semangat dan kepercayaan.
Sebagai orang pertama dalam garis keturunan keluarganya yang meraih gelar sarjana, pencapaian Al Finsih memiliki arti tersendiri. Ia memandang keberhasilannya sebagai bentuk rasa syukur sekaligus tanggung jawab untuk membanggakan keluarga.
7. Pesan Al Finsih untuk Mahasiswa yang Sedang Berjuang
Al Finsih mengingatkan mahasiswa agar tidak ragu mengenali potensi dan keterbatasan diri. Menurutnya, memahami keadaan diri sendiri dapat membantu seseorang menentukan langkah yang lebih tepat ketika menghadapi kesulitan.
Ia juga mendorong mahasiswa untuk berani menceritakan kendala yang dihadapi saat berusaha meraih prestasi. Dengan bersikap terbuka, seseorang dapat memperoleh sudut pandang baru dan menemukan dukungan yang mungkin sebelumnya tidak terpikirkan.
“Kenali siapa dirimu, ketahui batasanmu, dan berani ceritakan kendala dalam mengukir prestasi. Itu akan membuka celah pikiran yang lebih luas dalam cara kamu berpikir,” pesannya.
Pesan tersebut relevan bagi mahasiswa yang harus membagi waktu antara kuliah, pekerjaan, dan tanggung jawab keluarga. Setiap orang memiliki kondisi serta tantangan yang berbeda, sehingga mengenali kebutuhan diri dan mencari bantuan ketika diperlukan merupakan bagian dari proses berkembang.
Kesimpulan
Muhamad Al Finsih berhasil meraih predikat wisudawan terbaik FEB UNJ meski berasal dari keluarga sederhana. Putra dari ibu penjual nasi uduk dan ayah pengemudi ojek daring ini menjalani kuliah dengan dukungan beasiswa KIP Kuliah sekaligus bekerja secara jarak jauh untuk membantu memenuhi kebutuhan selama masa studi.
Selain berprestasi secara akademik, Al Finsih aktif dalam kegiatan kampus dan berhasil meraih penghargaan Best Paper di ajang FICTA 2024 di London. Perjalanannya menjadi inspirasi tentang pentingnya kedisiplinan, pengelolaan waktu, dukungan keluarga, dan keberanian untuk terus mengembangkan potensi diri.








