Perkembangan teknologi digital membuka peluang baru dalam pembelajaran bahasa. Namun, pemanfaatan teknologi di lingkungan pendidikan perlu diimbangi dengan penguatan kemampuan literasi, karakter, dan kompetensi guru agar proses belajar tetap berjalan sesuai kebutuhan siswa.
Hal tersebut menjadi pembahasan utama dalam 17th Annual International Symposium of Foreign Language Learning (AISOFOLL) yang diselenggarakan oleh SEAMEO QITEP in Language (SEAQIL) di Jakarta pada 7 Oktober 2026.
Mengusung tema “Shaping Future Generations: Strengthening Technology-Enhanced Language Teaching on Literacy and Character Development”, simposium ini mempertemukan guru, tenaga kependidikan, peneliti, dan praktisi pendidikan bahasa untuk berbagi gagasan mengenai penggunaan teknologi dalam pembelajaran.
Kegiatan tersebut juga menjadi ruang diskusi mengenai cara mengintegrasikan teknologi dengan tujuan pembelajaran, kebutuhan siswa, serta pembentukan karakter di tengah perkembangan kecerdasan buatan (AI).
Guru Perlu Memiliki Kemampuan Memilih Teknologi Pembelajaran
Pelaksana Tugas Kepala Biro Kerja Sama Kemendikdasmen, Lukmanul Hakim, menekankan pentingnya meningkatkan kapasitas guru dalam menghadapi perkembangan teknologi.
Menurutnya, ketersediaan perangkat digital dan aplikasi pembelajaran perlu disertai kemampuan pedagogis yang memadai. Guru harus mampu memilih teknologi yang sesuai dengan tujuan pembelajaran dan karakteristik siswa.
Kemendikdasmen terus mendukung pengembangan profesional guru melalui berbagai bidang, antara lain Pembelajaran Mendalam, bahasa Inggris, literasi dan numerasi, kepemimpinan sekolah, serta sains, teknologi, teknik, dan matematika (STEM).
Pengembangan kompetensi tersebut diharapkan membantu guru mengambil keputusan yang tepat ketika menggunakan teknologi di kelas. Dengan begitu, pemanfaatan perangkat digital tidak sekadar mengikuti perkembangan zaman, tetapi benar-benar mendukung proses belajar.
AI Perlu Diimbangi Kemampuan Berpikir Kritis
Direktur SEAQIL, Brian Arieska Pranata, mengingatkan bahwa teknologi memberikan banyak pilihan dalam pembelajaran, tetapi tidak otomatis menjamin penggunaannya tepat.
Ia menyoroti penggunaan kecerdasan buatan yang memudahkan siswa mencari gagasan dan menghasilkan tulisan. Kemudahan tersebut perlu disertai kemampuan berpikir kritis, memeriksa kebenaran informasi, serta bertanggung jawab atas karya yang dibuat.
Dalam pembelajaran bahasa, siswa tidak cukup hanya mampu menghasilkan teks. Mereka juga perlu memahami isi informasi, menilai keandalannya, dan menyampaikan gagasan dengan cara yang tepat.
Brian juga menekankan pentingnya pembelajaran bahasa dalam membangun kemampuan komunikasi dan sikap saling menghormati di tengah keberagaman.
Dengan pendekatan tersebut, teknologi dapat menjadi alat pendukung pembelajaran tanpa menghilangkan peran siswa dalam berpikir, memahami, dan mengembangkan gagasannya sendiri.
Pembelajaran Bahasa Harus Sesuai Kebutuhan Siswa
Salah satu pembicara utama, Aphiwit Liang-Itsara dari Mahidol University, Thailand, menyoroti pentingnya menghubungkan teknologi dengan motivasi dan tujuan siswa dalam mempelajari bahasa.
Menurutnya, ketertarikan terhadap aplikasi baru perlu dikembangkan menjadi motivasi belajar yang berkelanjutan. Hal tersebut dapat dilakukan melalui kegiatan yang berkaitan dengan pengalaman, kebutuhan, dan tujuan belajar siswa.
Artinya, penggunaan teknologi sebaiknya tidak hanya berfokus pada fitur atau kecanggihan aplikasi. Guru perlu memastikan bahwa kegiatan yang dilakukan membantu siswa meningkatkan kemampuan berbahasa secara nyata.
Pendekatan yang relevan dengan kehidupan siswa diharapkan membuat pembelajaran lebih bermakna dan mendorong keterlibatan aktif selama proses belajar.
AISOFOLL ke-17 Diikuti 390 Peserta dari 16 Negara
Simposium AISOFOLL ke-17 diikuti 390 peserta dari 16 negara di Asia, Eropa, dan Afrika. Sebanyak 45 peserta hadir secara langsung, sedangkan 345 peserta mengikuti kegiatan secara daring.
Kegiatan ini juga menghadirkan enam pembicara utama dari berbagai institusi di Indonesia dan luar negeri. Empat pembicara hadir secara langsung, sementara dua lainnya mengikuti kegiatan secara daring.
Selain sesi pembicara utama, terdapat 12 pemakalah dari institusi di Indonesia, Malaysia, Timor-Leste, dan Taiwan. Makalah yang dipresentasikan telah melalui proses penelaahan sejawat atau peer review dari 57 naskah yang diajukan.
Hasil penelitian dan praktik pembelajaran yang dipresentasikan dijadwalkan diterbitkan dalam Proceedings of AISOFOLL (PROCAIS). Publikasi tersebut dapat menjadi rujukan bagi guru, peneliti, dan praktisi untuk mengembangkan pembelajaran bahasa.
Hasil Penelitian Diharapkan Mendukung Praktik Pembelajaran
Melalui AISOFOLL, SEAQIL mendorong pertukaran pengalaman dan hasil penelitian agar dapat diterapkan dalam kegiatan belajar di sekolah maupun lembaga pendidikan lainnya.
Publikasi ilmiah dan praktik baik yang dihasilkan dari forum tersebut diharapkan membantu guru mengembangkan strategi pembelajaran bahasa yang lebih sesuai dengan kebutuhan siswa.
Penggunaan teknologi perlu tetap berorientasi pada tujuan pendidikan, termasuk meningkatkan kemampuan membaca kritis, berkomunikasi secara efektif, dan menggunakan informasi secara bertanggung jawab.
Dengan penguatan kompetensi guru, kolaborasi antarpendidik, serta pemanfaatan teknologi yang tepat, pembelajaran bahasa diharapkan dapat berkontribusi pada peningkatan literasi sekaligus pembentukan karakter siswa.








