KULON PROGO – Kesempatan bekerja di luar negeri semakin terbuka bagi lulusan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK). Salah satu sekolah yang berhasil mengirim banyak lulusannya ke luar negeri adalah SMK Negeri 2 Pengasih, Kabupaten Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY).
Pada 2026, sebanyak 36 lulusan SMKN 2 Pengasih berhasil mendapatkan kesempatan bekerja di Jepang. Jumlah tersebut meningkat dibandingkan tahun-tahun sebelumnya yang biasanya kurang dari 10 lulusan setiap tahun.
Kepala SMKN 2 Pengasih, Maryuli Darmawan, mengatakan peningkatan tersebut tidak terlepas dari program pelatihan kerja dan magang ke luar negeri yang didukung pemerintah melalui Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen).
Menurut Maryuli, sebelum adanya bantuan pemerintah, sekolah sebenarnya sudah rutin mengirimkan lulusan ke Jepang. Namun, jumlah peserta masih terbatas karena sebagian siswa terkendala biaya untuk mengikuti pelatihan di Lembaga Pelatihan Kerja (LPK).
“Total dari kami 36 anak, dan semua berangkat untuk ke Jepang. Karena ini ada bantuan stimulan dari pemerintah. Tahun ini kami paling banyak,” ungkap Maryuli saat ditemui dalam acara pelepasan lulusan SMK dan LKP untuk magang dan bekerja di luar negeri di Universitas Negeri Yogyakarta (UNY), Kamis (29/10/2026).
Lulusan SMKN 2 Pengasih Bekerja di Berbagai Sektor Jepang
Maryuli menjelaskan bahwa lulusan SMKN 2 Pengasih yang bekerja di Jepang tersebar di sejumlah bidang pekerjaan.
Beberapa sektor yang menjadi tujuan antara lain kesehatan, kuliner, teknik, dan bidang lainnya.
Sebelum program pemerintah berjalan, sekolah tersebut hampir setiap tahun telah mengirimkan lulusan untuk bekerja di Jepang. Namun, jumlahnya masih di bawah 10 orang per tahun.
Dengan adanya dukungan pelatihan, jumlah lulusan yang dapat mengikuti proses seleksi dan mendapatkan kesempatan kerja menjadi lebih banyak.
Sekolah berharap peluang tersebut terus berkembang sehingga semakin banyak lulusan SMK yang dapat memperoleh pengalaman kerja internasional.
Sekolah Berikan Pelatihan Wawancara hingga Tes Kesehatan
Untuk mempersiapkan siswa menghadapi seleksi kerja di luar negeri, SMKN 2 Pengasih menjalankan program pembinaan secara berkala.
Sekolah bekerja sama dengan mitra industri untuk memberikan simulasi dan pelatihan kepada siswa yang memiliki keinginan bekerja setelah lulus.
Peserta program biasanya datang lebih pagi ke sekolah, sekitar pukul 06.00 WIB, untuk mengikuti materi tambahan.
Ada tiga materi utama yang diberikan, yaitu:
- Materi kesamaptaan, untuk mempersiapkan kondisi fisik dan kedisiplinan siswa.
- Persiapan wawancara dan tes, agar siswa lebih siap menghadapi proses seleksi perusahaan.
- Persiapan kesehatan, untuk membantu siswa memahami kondisi dan persyaratan kesehatan sebelum bekerja.
Selain itu, sekolah juga bekerja sama dengan Lembaga Pelatihan Kerja (LPK) di wilayah Magelang untuk memberikan pelatihan bahasa Jepang dan pengenalan budaya negara tujuan.
Pembekalan tersebut dinilai penting karena kemampuan bahasa dan pemahaman budaya menjadi salah satu bekal bagi lulusan yang akan bekerja di Jepang.
Bantuan Pemerintah Ringankan Biaya Pelatihan LPK
Salah satu kendala utama yang selama ini dihadapi siswa dan orang tua adalah biaya mengikuti pelatihan di LPK.
Maryuli mengungkapkan bahwa sebelum memperoleh bantuan pemerintah, biaya pelatihan secara mandiri dapat mencapai belasan hingga puluhan juta rupiah.
Kondisi tersebut membuat sejumlah siswa yang sebenarnya memiliki keinginan dan kemampuan untuk bekerja di Jepang tidak dapat mengikuti pelatihan karena keterbatasan ekonomi keluarga.
Melalui bantuan stimulan pemerintah, sebagian biaya persiapan dapat terbantu sehingga semakin banyak siswa memiliki kesempatan mengikuti pelatihan.
Maryuli mengapresiasi dukungan tersebut karena membuka peluang lebih luas bagi lulusan SMK untuk bersaing mendapatkan pekerjaan di luar negeri.
Menurutnya, program tersebut membantu mengatasi salah satu hambatan utama yang selama ini dihadapi sekolah dalam mempersiapkan calon pekerja migran.
Lulusan SMK Diharapkan Bisa Kuliah dan Berwirausaha setelah Bekerja
Maryuli berharap program penempatan kerja ke luar negeri dapat terus dilanjutkan dan menjangkau lebih banyak lulusan SMK.
Ia menilai pengalaman bekerja di luar negeri bukan hanya memberikan penghasilan, tetapi juga kesempatan untuk meningkatkan keterampilan dan memperoleh sertifikasi internasional.
Lulusan yang bekerja di Jepang diharapkan dapat terus mengembangkan kompetensi, bahkan melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi.
Pengalaman dan keterampilan yang diperoleh selama bekerja di luar negeri nantinya dapat dimanfaatkan ketika mereka kembali ke Indonesia.
Maryuli berharap para lulusan dapat membangun usaha sendiri, membantu perekonomian keluarga, serta memberikan kontribusi bagi masyarakat.
Dengan demikian, pengalaman kerja internasional tidak hanya bermanfaat bagi individu, tetapi juga dapat mendukung peningkatan kualitas sumber daya manusia Indonesia.
Program Pemerintah Dorong Lulusan SMK Berdaya Saing Global
Program kerja dan magang luar negeri merupakan salah satu upaya pemerintah memperluas kesempatan kerja bagi lulusan pendidikan vokasi.
Dalam acara pelepasan di Universitas Negeri Yogyakarta pada 29 Oktober 2026, Kemendikdasmen memberangkatkan 3.030 lulusan SMK dan LKP untuk mengikuti program magang dan bekerja di berbagai negara.
Direktur Jenderal Pendidikan Menengah dan Pendidikan Khusus Kemendikdasmen, Tatang Muttaqin, menjelaskan bahwa peserta tersebut terdiri atas 1.530 lulusan SMK dan 1.500 lulusan LKP.
Sementara itu, Mendikdasmen Abdul Mu’ti menyampaikan bahwa secara keseluruhan lebih dari 13.000 lulusan SMK dan LKP telah diberangkatkan ke luar negeri melalui program pemerintah.
Pemerintah berharap program tersebut dapat memperkuat kesiapan lulusan pendidikan vokasi dalam memasuki dunia kerja internasional.
Melalui dukungan pelatihan, kemampuan bahasa asing, dan kerja sama dengan dunia industri, semakin banyak lulusan SMK diharapkan mampu memperoleh kesempatan berkarier di luar negeri sekaligus meningkatkan kompetensi untuk masa depan.









