MOSKOW – Bahasa Indonesia semakin dikenal di dunia internasional. Sebanyak 149 peserta di Rusia tercatat mengikuti kelas Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing (BIPA) yang diselenggarakan Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Moskow.
Perkembangan tersebut menjadi salah satu sorotan dalam Kongres Bahasa Indonesia di Higher School of Economics University (HSE University), Moskow, pada Rabu, 28 Oktober 2026.
Kegiatan yang dihadiri sekitar 140 mahasiswa, akademisi, pengajar, dan Indonesianis itu menjadi bagian dari upaya Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) memperluas penggunaan bahasa Indonesia di tingkat global.
Momentum ini juga bertepatan dengan peringatan 98 tahun Sumpah Pemuda, ketika bahasa Indonesia diikrarkan sebagai bahasa persatuan pada 28 Oktober 1928.
1. Sebanyak 149 orang di Rusia belajar bahasa Indonesia
Program BIPA menjadi salah satu jalur untuk memperkenalkan bahasa Indonesia kepada masyarakat asing.
Hingga Oktober 2026, program BIPA telah menjangkau 62 negara melalui 520 lembaga penyelenggara dengan lebih dari 234.000 pemelajar aktif.
Di Rusia, pembelajaran bahasa Indonesia berlangsung melalui kelas BIPA KBRI Moskow yang saat ini diikuti 149 peserta.
Jumlah tersebut menunjukkan adanya ketertarikan masyarakat Rusia untuk mempelajari bahasa Indonesia, baik dari sisi bahasa maupun kebudayaan Indonesia.
2. Bahasa Indonesia berpotensi menjadi bahasa penghubung internasional
Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Atip Latipulhayat, mengatakan bahwa penginternasionalan bahasa Indonesia tidak cukup hanya dilakukan dengan memperbanyak jumlah orang yang mempelajarinya.
Menurutnya, bahasa Indonesia juga perlu digunakan dalam berbagai bidang, seperti pendidikan, diplomasi, perdagangan, dan kebudayaan internasional.
Dalam Kongres Bahasa Indonesia bertema “Bahasa Indonesia di Pentas Global: Tantangan, Peluang, dan Masa Depan”, Atip menekankan pentingnya meningkatkan fungsi dan daya guna bahasa Indonesia dalam kehidupan masyarakat dunia.
Ia juga menyebut bahasa Indonesia sebagai identitas bangsa sekaligus jembatan persahabatan bagi masyarakat internasional.
3. Bahasa Indonesia sudah diajarkan di Rusia sejak 1950-an
Bahasa Indonesia bukan hal baru bagi masyarakat Rusia. Duta Besar Republik Indonesia untuk Federasi Rusia, Jose Tavares, menyampaikan bahwa pengajaran bahasa Indonesia di Universitas Negeri Moskow telah dimulai sejak akhir 1950-an.
Kini, pembelajaran bahasa Indonesia juga berkembang di HSE University.
Tradisi akademik Rusia dalam bidang bahasa, sastra, dan kebudayaan dinilai dapat menjadi modal untuk memperluas kerja sama pendidikan antara kedua negara.
Beberapa peluang kerja sama yang dapat dikembangkan meliputi pertukaran mahasiswa dan akademisi, penelitian bersama, penguatan program BIPA, serta penerjemahan karya sastra.
4. Penginternasionalan bahasa Indonesia memiliki peta jalan hingga 2045
Pemerintah telah menyusun Peta Jalan Penginternasionalan Bahasa Indonesia 2025–2045 sebagai arah pengembangan bahasa Indonesia di tingkat dunia.
Salah satu indikator yang digunakan adalah Indeks Penginternasionalan Bahasa Indonesia (IPBI).
Berdasarkan data Kemendikdasmen, indeks tersebut meningkat dari 51,44 pada 2024 menjadi 52,99 pada 2025. Pemerintah menargetkan angka tersebut mencapai 55,87 pada 2029.
Peningkatan indeks ini menjadi salah satu indikator perkembangan upaya penginternasionalan bahasa Indonesia.
Namun, pemerintah juga perlu memastikan bahasa Indonesia semakin banyak digunakan dalam kegiatan akademik, diplomasi, perdagangan, dan forum internasional.
5. Bahasa Indonesia telah menjadi bahasa resmi Sidang Umum UNESCO
Pengakuan bahasa Indonesia sebagai salah satu bahasa resmi Sidang Umum UNESCO pada 20 November 2023 menjadi tonggak penting dalam perjalanan bahasa Indonesia di dunia internasional.
Pengakuan tersebut membuka peluang lebih luas bagi bahasa Indonesia untuk digunakan dalam forum resmi organisasi internasional tersebut.
Meski demikian, pengakuan secara formal perlu diikuti dengan peningkatan penggunaan bahasa Indonesia dalam berbagai kegiatan global.
Karena itu, penguatan pembelajaran bahasa Indonesia bagi penutur asing menjadi salah satu langkah yang terus didorong pemerintah.
6. Pengajaran bahasa Indonesia di Rusia masih menghadapi tantangan
Di balik perkembangan tersebut, pengajaran bahasa Indonesia di Rusia masih menghadapi sejumlah kendala.
Jose Tavares menyebut keterbatasan jumlah pengajar, minimnya bahan ajar yang disesuaikan dengan penutur bahasa Rusia, serta keberlanjutan program sebagai beberapa persoalan yang perlu diperhatikan.
Ia berharap Kongres Bahasa Indonesia dapat menghasilkan rekomendasi konkret untuk mengatasi tantangan tersebut.
Selain itu, kegiatan ini diharapkan memperluas jaringan Indonesianis di Rusia dan Belarus.
Atase Pendidikan dan Kebudayaan KBRI Moskow, Khoirul Rosyadi, menyampaikan bahwa kongres tersebut akan dilanjutkan sebagai agenda tahunan.
Penyelenggaraan kedua ini mempertemukan Indonesianis dari berbagai generasi, termasuk akademisi yang telah lama mendalami kajian Indonesia dan mahasiswa yang sedang mempelajari bahasa serta kebudayaan Indonesia.
7. Lagu Indonesia dan keroncong meramaikan kongres
Kegiatan kongres tidak hanya diisi diskusi akademik. Di luar ruang pertemuan, peserta juga dapat melihat pameran buku BIPA yang memperkenalkan bahan pembelajaran bahasa Indonesia.
Suasana semakin meriah ketika Veronika Khomkina dan Anastasia Marker tampil membawakan lagu “Karena Kamu” serta lagu keroncong “Sapu Tangan”.
Penampilan tersebut menjadi salah satu bentuk pengenalan budaya Indonesia melalui musik kepada masyarakat Rusia.
Perkembangan pembelajaran bahasa Indonesia di Rusia menunjukkan bahwa bahasa persatuan yang diikrarkan pada 1928 kini memiliki kesempatan untuk dikenal lebih luas di dunia. Pemerintah berharap bahasa Indonesia tidak hanya dipelajari, tetapi juga semakin digunakan sebagai sarana komunikasi, pendidikan, dan persahabatan antarbangsa.








