YOGYAKARTA – Perjalanan pendidikan tidak selalu berjalan mulus bagi setiap orang. Hal tersebut dibuktikan oleh Dr. Saryono, S.Pd., M.Pd., yang berhasil meraih gelar doktor dari Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) setelah pernah putus sekolah dan bekerja sebagai tukang kebun.
Saryono menyelesaikan Program Doktor Pendidikan Kewarganegaraan di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) UNY. Ia berhasil menuntaskan studinya dalam waktu 36 bulan 28 hari dengan Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) 3,95.
Prestasi tersebut diraih ketika usianya menginjak 40 tahun dan menjadi bagian dari rangkaian Wisuda UNY periode Oktober 2026.
Saryono Pernah Putus Sekolah saat Kelas II SMP
Sebelum berhasil meraih gelar doktor, Saryono harus melewati perjalanan hidup yang penuh tantangan.
Ketika masih duduk di kelas II SMP, ia merantau ke Jakarta. Dalam kondisi tersebut, Saryono harus meninggalkan bangku sekolah untuk memenuhi kebutuhan hidup.
Ia kemudian bekerja sebagai tukang kebun. Pekerjaan tersebut dijalaninya ketika kesempatan untuk melanjutkan pendidikan formal belum dapat diperoleh.
Meski sempat berhenti sekolah, keinginannya untuk kembali belajar tidak pernah benar-benar hilang. Saryono tetap berusaha mencari jalan agar dapat melanjutkan pendidikan yang sempat tertunda.
Lanjut Pendidikan Melalui Paket B dan Paket C
Untuk kembali menempuh pendidikan, Saryono memilih jalur pendidikan kesetaraan melalui program Paket B dan Paket C.
Kedua program tersebut menjadi jalan baginya untuk melanjutkan tahapan pendidikan setelah sebelumnya putus sekolah.
Setelah menyelesaikan pendidikan kesetaraan, Saryono melanjutkan studi ke jenjang sarjana, kemudian magister, hingga akhirnya berhasil menyelesaikan pendidikan doktoral di UNY.
Perjalanan tersebut memperlihatkan bahwa seseorang yang pernah meninggalkan bangku sekolah tetap memiliki kesempatan untuk melanjutkan pendidikan melalui jalur yang tersedia.
Berhasil Raih Gelar Doktor dengan IPK 3,95
Saryono berhasil menyelesaikan pendidikan doktor di Program Doktor Pendidikan Kewarganegaraan UNY dengan IPK 3,95.
Waktu penyelesaian studinya juga menjadi bagian dari pencapaian tersebut. Ia menuntaskan pendidikan doktoral dalam waktu 36 bulan 28 hari.
Keberhasilan ini menjadi hasil dari proses panjang yang dijalani secara bertahap, mulai dari pendidikan kesetaraan hingga perguruan tinggi.
Saryono membuktikan bahwa latar belakang pendidikan pada masa lalu tidak harus menjadi penghalang untuk mencapai jenjang akademik yang lebih tinggi.
Tantangan Terbesar Saryono, Membagi Waktu antara Pekerjaan dan Keluarga
Selama menempuh pendidikan doktoral, Saryono menghadapi tantangan dalam membagi waktu antara pekerjaan, keluarga, dan kegiatan akademik.
Ia harus mengatur jadwal dengan cermat agar seluruh tanggung jawab tersebut dapat dijalankan secara bersamaan.
Bahkan, waktu istirahat pada malam hari terkadang harus dikorbankan untuk menyelesaikan tugas-tugas perkuliahan.
Dukungan keluarga menjadi salah satu faktor penting yang membantunya melewati berbagai tantangan selama menjalani studi.
Selain itu, keinginan untuk memberikan kontribusi kepada bangsa melalui bidang pendidikan turut menjadi motivasi Saryono untuk menyelesaikan pendidikan doktoralnya.
Pendidikan Kesetaraan Membuka Kesempatan untuk Melanjutkan Sekolah
Kisah Saryono juga memperlihatkan pentingnya keberadaan pendidikan kesetaraan bagi masyarakat yang sempat terhenti dari pendidikan formal.
Program Paket B dan Paket C memberikan kesempatan untuk melanjutkan pendidikan sesuai tahapan yang dibutuhkan sebelum memasuki jenjang berikutnya.
Melalui jalur tersebut, seseorang tetap dapat membangun perjalanan akademik meskipun pernah mengalami putus sekolah karena kondisi ekonomi, pekerjaan, maupun keadaan lainnya.
Keberhasilan Saryono meraih gelar doktor menjadi salah satu contoh perjalanan pendidikan yang ditempuh melalui jalur kesetaraan.
Kini, setelah menyelesaikan pendidikan doktoral di UNY, Saryono memiliki kesempatan untuk mengembangkan ilmu yang telah diperolehnya dan memberikan kontribusi lebih luas melalui bidang pendidikan.
Kisahnya menjadi pengingat bahwa kesempatan belajar tidak selalu berakhir ketika seseorang harus meninggalkan sekolah. Selama ada kemauan untuk kembali belajar dan kesempatan yang mendukung, pendidikan dapat terus dilanjutkan hingga jenjang yang lebih tinggi.









