JAKARTA – Kebiasaan menjaga kebersihan, menyukai kerapian, dan mengatur barang agar tertata sering dikaitkan dengan Obsessive-Compulsive Disorder (OCD). Namun, seseorang yang senang melihat rumah bersih atau barang tersusun rapi belum tentu mengalami gangguan tersebut.
Dosen Program Studi Ilmu Keluarga dan Konsumen IPB University, Agung Minto Wahyu, menjelaskan bahwa OCD merupakan gangguan mental yang dapat mengganggu aktivitas sehari-hari. Perbedaan antara kebiasaan menyukai kerapian dan OCD tidak hanya dilihat dari perilakunya, tetapi juga dari kemampuan seseorang mengendalikan tindakan tersebut.
Menurut Agung, hal utama yang membedakan adalah apakah seseorang masih memiliki kendali dan pilihan atas perilakunya atau merasa terdorong untuk melakukannya secara berulang.
Apa perbedaan suka rapi dengan OCD?
Orang yang menyukai kebersihan dan keteraturan umumnya dapat memilih kapan harus membersihkan atau merapikan sesuatu. Mereka juga masih bisa menunda kegiatan tersebut tanpa mengalami tekanan yang berlebihan.
Sementara itu, OCD ditandai dengan adanya obsesi, kompulsi, atau keduanya.
Obsesi merupakan pikiran, dorongan, atau gambaran mental yang muncul berulang kali, tidak diinginkan, dan sulit dikendalikan.
Adapun kompulsi adalah perilaku atau tindakan mental yang dilakukan berulang sebagai respons terhadap obsesi atau untuk mengurangi kecemasan yang dirasakan.
OCD dapat menjadi gangguan ketika gejalanya menyita banyak waktu, menimbulkan tekanan emosional, atau menghambat fungsi kehidupan, seperti pekerjaan, pendidikan, dan hubungan sosial.
Gejala OCD tidak selalu terlihat dari luar
Gejala OCD tidak selalu berupa kebiasaan membersihkan rumah atau mencuci tangan berkali-kali. Ada pula gejala yang berlangsung di dalam pikiran sehingga tidak mudah diketahui orang lain.
Beberapa bentuk obsesi yang dapat dialami seseorang antara lain:
- Kekhawatiran berlebihan terhadap kotoran atau kontaminasi.
- Keraguan yang muncul berulang kali.
- Dorongan agar sesuatu terasa benar atau sempurna.
- Pikiran yang tidak diinginkan mengenai kemungkinan menyakiti diri sendiri atau orang lain.
Sementara itu, bentuk kompulsi dapat berupa:
- Mencuci tangan secara berulang.
- Memeriksa pintu, kompor, atau benda lain berkali-kali.
- Mengulang kata atau hitungan di dalam pikiran.
- Terus-menerus meminta kepastian atau meyakinkan diri melalui orang lain.
Mengacu pada Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders edisi kelima revisi teks (DSM-5-TR), obsesi dan kompulsi yang menyita waktu lebih dari satu jam sehari dapat menjadi salah satu indikator yang perlu diperhatikan. Namun, durasi bukan satu-satunya pertimbangan untuk menentukan diagnosis.
Mengapa OCD sulit dihentikan?
Agung menjelaskan bahwa OCD dapat membentuk siklus pikiran dan perilaku yang sulit diputus.
Siklus tersebut biasanya dimulai ketika pikiran yang mengganggu muncul dan memicu kecemasan. Untuk mengurangi rasa cemas, seseorang kemudian melakukan tindakan tertentu secara berulang.
Setelah tindakan dilakukan, rasa lega mungkin muncul. Namun, kelegaan tersebut hanya sementara. Ketika pikiran mengganggu kembali, dorongan untuk melakukan tindakan yang sama dapat muncul lagi.
Akibatnya, seseorang dapat terus terjebak dalam pola pikiran, kecemasan, dan perilaku kompulsif yang saling memperkuat.
Apa penyebab OCD?
OCD tidak disebabkan oleh satu faktor tunggal. Faktor biologis, psikologis, dan lingkungan dapat berperan dalam meningkatkan kerentanan seseorang terhadap gangguan tersebut.
Memiliki anggota keluarga dengan riwayat OCD atau pernah mengalami stres juga tidak berarti seseorang pasti akan mengalami gangguan yang sama.
Karena itu, kebiasaan tertentu tidak seharusnya langsung dijadikan dasar untuk menyimpulkan seseorang mengalami OCD.
Kapan perlu berkonsultasi dengan psikolog atau psikiater?
Agung mengimbau masyarakat agar tidak melakukan diagnosis mandiri hanya berdasarkan kebiasaan atau gejala yang dirasakan.
Apabila pikiran dan perilaku berulang mulai sulit dikendalikan, menimbulkan tekanan emosional, atau mengganggu kegiatan sehari-hari, seseorang sebaiknya berkonsultasi dengan psikolog atau psikiater.
Penanganan OCD dapat dilakukan melalui psikoterapi, pemberian obat berdasarkan evaluasi psikiater, atau kombinasi keduanya.
Salah satu pendekatan psikoterapi yang banyak digunakan adalah Cognitive Behavioral Therapy (CBT), khususnya Exposure and Response Prevention (ERP).
Melalui ERP, seseorang dibantu menghadapi pemicu kecemasan secara bertahap tanpa melakukan tindakan kompulsif seperti biasanya.
Dengan penanganan yang tepat dan konsisten, gejala OCD dapat dikelola sehingga tidak terus-menerus mengendalikan kehidupan seseorang.
Oleh karena itu, menyukai rumah bersih, barang tertata, atau lingkungan yang rapi bukan berarti seseorang otomatis mengalami OCD. Hal yang lebih penting adalah memahami apakah kebiasaan tersebut masih berada dalam kendali atau sudah menimbulkan tekanan dan mengganggu aktivitas sehari-hari.








