JAKARTA – Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu’ti menunjukkan bahwa jabatan dan pencapaian tidak menghapus rasa hormat kepada guru. Saat bertemu kembali dengan dua mantan gurunya, ia mengaku tetap merasa sebagai murid yang pernah mendapatkan bimbingan dan ilmu dari mereka.
Momen tersebut terjadi dalam pembukaan Bulan Guru Nasional 2026 di SMP Negeri 216 Jakarta, Jumat (30/10/2026). Dalam kesempatan itu, Abdul Mu’ti bertemu dengan Lilik Puspita, mantan guru Matematika, dan Firdaus, mantan guru olahraga saat dirinya bersekolah di MAN 1 Kudus, yang dahulu dikenal sebagai MAN Purwodadi Filial di Kudus.
Pertemuan tersebut menghadirkan kembali kenangan masa sekolah Abdul Mu’ti. Di mata kedua gurunya, ia bukanlah seorang menteri, melainkan mantan siswa yang dikenal tekun belajar, gemar membaca, dan memiliki sikap rendah hati.
1. Abdul Mu’ti dikenal sebagai siswa yang gemar membaca
Firdaus mengenang Abdul Mu’ti sebagai siswa yang memiliki kebiasaan membaca sejak masih sekolah. Ketertarikannya terhadap buku tidak hanya terlihat ketika mengikuti pelajaran di kelas, tetapi juga melalui kebiasaannya mencari bahan bacaan di luar sekolah.
Firdaus bahkan masih mengingat beberapa kali melihat Abdul Mu’ti membeli buku-buku berbahasa Inggris di kios buku.
Menurutnya, kebiasaan tersebut menunjukkan rasa ingin tahu yang besar dan semangat untuk terus memperluas pengetahuan.
Kegemaran membaca menjadi salah satu karakter Abdul Mu’ti yang masih dikenang oleh gurunya hingga sekarang.
2. Pandai Matematika, tetapi tidak suka menonjolkan diri
Lilik Puspita juga memiliki kenangan khusus terhadap Abdul Mu’ti ketika masih menjadi muridnya.
Sebagai guru Matematika, Lilik mengingat kemampuan akademik Abdul Mu’ti yang cukup baik. Ia sering melihat Abdul Mu’ti mampu menyelesaikan soal lebih cepat daripada teman-temannya.
Namun, meskipun sudah selesai mengerjakan soal, Abdul Mu’ti tidak langsung maju ke depan kelas untuk menunjukkan kemampuannya. Ia biasanya tetap diam dan baru maju apabila diminta oleh guru.
Lilik menilai sikap tersebut memperlihatkan bahwa Abdul Mu’ti bukan tipe siswa yang senang menonjolkan diri di hadapan teman-temannya.
3. Tetap menjaga hubungan dengan guru meski sudah menjadi menteri
Menurut Lilik, Abdul Mu’ti tetap menjaga hubungan baik dengan guru-gurunya meskipun kini telah menduduki jabatan sebagai menteri.
Baginya, sikap tersebut mencerminkan rasa hormat dan penghargaan terhadap orang-orang yang pernah memberikan bimbingan selama menempuh pendidikan.
Hubungan antara murid dan guru tidak seharusnya berubah hanya karena seseorang telah memperoleh jabatan atau pencapaian tertentu.
Kenangan Firdaus dan Lilik menunjukkan bahwa kebiasaan baik, karakter, serta sikap yang dibentuk selama masa sekolah dapat terus melekat hingga seseorang dewasa.
4. Abdul Mu’ti mengaku selalu menjadi murid di hadapan guru
Bagi Abdul Mu’ti, pertemuan dengan dua mantan gurunya merupakan pengalaman yang membahagiakan sekaligus mengingatkan kembali perjalanan pendidikannya.
Ia menyampaikan bahwa guru bukan sekadar orang yang memberikan pengetahuan, tetapi juga sosok yang membentuk karakter dan memberikan teladan bagi murid.
Abdul Mu’ti mengakui bahwa pencapaian yang diraihnya saat ini tidak terlepas dari jasa, bimbingan, dan pengabdian para guru yang pernah mendidiknya.
Ia juga menegaskan bahwa dirinya akan selalu menghormati dan mengingat guru-guru yang telah memberikan ilmu serta arahan dalam perjalanan hidupnya.
5. Momentum Bulan Guru Nasional 2026
Pertemuan Abdul Mu’ti dengan mantan gurunya berlangsung dalam rangkaian pembukaan Bulan Guru Nasional 2026.
Kisah tersebut menjadi pengingat bahwa pendidikan tidak berhenti pada pengetahuan yang diperoleh di ruang kelas. Nilai-nilai seperti kerendahan hati, kedisiplinan, rasa ingin tahu, dan penghormatan kepada orang lain juga merupakan bekal penting dalam kehidupan.
Momentum Bulan Guru Nasional diharapkan dapat memperkuat penghargaan masyarakat terhadap peran guru dalam membentuk karakter dan masa depan generasi muda.
Kisah Abdul Mu’ti juga menyampaikan pesan bahwa setinggi apa pun pencapaian seseorang, menghormati guru yang pernah membimbingnya tetap menjadi bagian penting dari perjalanan hidup.








