Jarak Bukan Penghalang, SMKN 7 Jayapura Fasilitasi Murid Menginap 4 Hari agar Bisa Ikuti TKA 2026
JAYAPURA, PAPUA – Keterbatasan geografis tidak menyurutkan semangat murid SMK Negeri 7 Agribisnis dan Agroteknologi Jayapura untuk mengikuti Tes Kemampuan Akademik (TKA) 2026. Sekolah yang berada di kawasan perbatasan Indonesia dan Papua Nugini tersebut menyiapkan fasilitas khusus agar seluruh murid dapat mengikuti ujian dengan baik.
Berlokasi di Skow Mabo, Distrik Muara Tami, Kota Jayapura, sekolah ini memiliki murid yang sebagian besar tinggal cukup jauh dari lingkungan sekolah. Bahkan, beberapa di antaranya harus berjalan kaki selama beberapa kilometer untuk sampai ke sekolah.
Untuk mengatasi kendala tersebut, pihak sekolah menyediakan fasilitas menginap selama empat hari tiga malam bagi peserta TKA. Selama berada di sekolah, murid mendapatkan pendampingan belajar, pengayaan materi, simulasi ujian, hingga pemeriksaan kesehatan.
1. Murid menginap empat hari tiga malam di sekolah
Kepala SMK Negeri 7 Agribisnis dan Agroteknologi Jayapura, Gerda Wali, menjelaskan bahwa program menginapkan murid bukan hal baru. Kebijakan tersebut sudah menjadi tradisi sekolah selama beberapa tahun.
Pelaksanaannya juga dilakukan atas persetujuan penuh orang tua masing-masing murid.
Menurut Gerda, fasilitas tersebut diperlukan karena sebagian besar peserta tinggal jauh dari sekolah. Kondisi geografis dan aktivitas keluarga membuat perjalanan menuju sekolah tidak selalu mudah.
Beberapa murid bahkan harus membantu orang tua berkebun maupun berburu di hutan setelah atau sebelum menjalani kegiatan sekolah.
Dengan menginap, peserta diharapkan dapat lebih fokus mempersiapkan diri tanpa harus menempuh perjalanan jauh setiap hari.
2. Persiapan TKA meliputi pengayaan materi dan simulasi ujian
Selama mengikuti program menginap, murid mendapatkan pengayaan materi secara intensif untuk mempersiapkan diri menghadapi TKA.
Petugas Proktor TKA, Nopri Astor Bunga, mengatakan bahwa sekolah juga mengadakan simulasi sistem dan gladi bersih.
Persiapan tersebut dilakukan untuk memastikan peserta memahami teknis pelaksanaan ujian sekaligus meningkatkan kesiapan akademik dan mental.
Sekolah berharap pendampingan yang diberikan dapat membantu murid mengikuti TKA dengan lebih percaya diri.
3. Murid mendapatkan pemeriksaan kesehatan gratis
Tidak hanya mempersiapkan kemampuan akademik, pihak sekolah juga memperhatikan kondisi kesehatan peserta.
Melalui kerja sama dengan puskesmas setempat, murid mendapatkan pemeriksaan kesehatan yang meliputi:
- Pemeriksaan laboratorium untuk malaria, HIV, dan sifilis.
- Pemeriksaan hemoglobin (Hb), khususnya bagi remaja putri.
- Pemeriksaan tekanan darah.
- Pengukuran tinggi dan berat badan.
- Pemeriksaan buta warna.
- Pemberian obat cacing dan vitamin untuk menunjang kesehatan.
Gerda Wali menjelaskan bahwa kondisi fisik dan kebugaran tubuh juga menjadi perhatian sekolah agar murid dapat mengikuti rangkaian ujian dengan optimal.
Langkah ini menunjukkan bahwa persiapan menghadapi asesmen tidak hanya berkaitan dengan penguasaan materi pelajaran, tetapi juga kesehatan peserta.
4. BPMP Papua apresiasi upaya sekolah
Upaya SMKN 7 Jayapura mendapatkan apresiasi dari Kepala Balai Penjaminan Mutu Pendidikan (BPMP) Provinsi Papua, Junus Simangunsong.
Saat melakukan pemantauan pelaksanaan TKA, Junus menilai langkah sekolah dalam mengatasi tantangan geografis merupakan bentuk komitmen untuk memberikan kesempatan yang sama kepada seluruh murid.
Menurutnya, keterbatasan jarak dan kondisi wilayah seharusnya tidak menjadi penghalang bagi peserta didik untuk memperoleh layanan pendidikan dan mengikuti asesmen.
Apresiasi tersebut juga menjadi dorongan agar satuan pendidikan terus menghadirkan solusi sesuai dengan kebutuhan murid di daerah masing-masing.
5. Murid merasa lebih percaya diri setelah mengikuti TKA
Manfaat program persiapan tersebut dirasakan langsung oleh para peserta. Salah satunya Tabita Mallo, murid SMKN 7 Agribisnis dan Agroteknologi Jayapura yang mengikuti TKA 2026.
Tabita mengaku merasa lega dan bahagia setelah menyelesaikan seluruh rangkaian ujian selama tiga hari.
Ia sempat merasa gugup ketika mengerjakan soal. Namun, persiapan yang dijalani sebelumnya membantunya mengikuti ujian dengan lebih percaya diri.
Tabita berharap dirinya dan teman-temannya memperoleh hasil yang baik dan memuaskan sebagai bekal untuk melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi.
6. Kisah SMKN 7 Jayapura menjadi contoh pemerataan kesempatan pendidikan
Kisah SMKN 7 Jayapura memperlihatkan bahwa setiap sekolah memiliki tantangan berbeda dalam memberikan layanan pendidikan kepada murid.
Di wilayah dengan kondisi geografis yang menantang, dukungan sekolah dan keterlibatan orang tua menjadi bagian penting agar peserta didik tetap mendapatkan kesempatan belajar dan mengikuti asesmen.
Program menginap, pendampingan akademik, simulasi ujian, serta pemeriksaan kesehatan menjadi bentuk perhatian sekolah terhadap kebutuhan murid.
Upaya tersebut sekaligus menunjukkan bahwa jarak dan keterbatasan wilayah tidak seharusnya menghalangi anak-anak Indonesia untuk terus belajar, mengembangkan kemampuan, dan meraih cita-cita.








