Memilih jurusan kuliah menjadi salah satu pertimbangan penting bagi calon mahasiswa. Selain minat dan kemampuan akademik, peluang mendapatkan pekerjaan setelah lulus juga perlu diperhatikan.
Sebuah penelitian New York Federal Reserve (New York Fed) yang menganalisis data Biro Sensus Amerika Serikat tahun 2024 terhadap lulusan berusia 22–27 tahun mengungkap delapan jurusan kuliah dengan tingkat pengangguran terendah.
Menariknya, bidang pendidikan mendominasi daftar tersebut. Pendidikan khusus bahkan menempati posisi pertama dengan tingkat pengangguran hanya 0,7 persen.
Daftar 8 Jurusan Kuliah dengan Tingkat Pengangguran Terendah
Berikut daftar lengkapnya:
| No. | Jurusan Kuliah | Tingkat Pengangguran |
|---|---|---|
| 1 | Pendidikan Khusus | 0,7% |
| 2 | Pendidikan Lain-lain | 1,1% |
| 3 | Pendidikan Dasar | 1,2% |
| 4 | Pertanian | 1,4% |
| 5 | Bahasa Asing | 1,6% |
| 6 | Geografi | 1,6% |
| 7 | Teknologi Rekayasa | 1,7% |
| 8 | Layanan Sosial | 1,9% |
Mengapa Jurusan Pendidikan Memiliki Tingkat Pengangguran Rendah?
Menurut laporan tersebut, salah satu faktor yang memengaruhi rendahnya angka pengangguran lulusan pendidikan di Amerika Serikat adalah kebutuhan tenaga pendidik yang masih tinggi.
Pendidikan khusus menjadi bidang yang memiliki kebutuhan besar. Berdasarkan analisis Learning Policy Institute pada Juli 2026, sebanyak 45 negara bagian di Amerika Serikat dilaporkan mengalami kekurangan guru pendidikan khusus.
Lulusan pendidikan khusus memiliki sejumlah pilihan profesi, seperti guru pendidikan khusus, spesialis intervensi dini, hingga spesialis intervensi perilaku.
Jurusan dengan Tingkat Pengangguran Tertinggi
Selain jurusan dengan tingkat pengangguran terendah, penelitian tersebut juga mengungkap beberapa bidang studi yang memiliki angka pengangguran relatif tinggi.
Berikut lima di antaranya:
| No. | Jurusan Kuliah | Tingkat Pengangguran |
|---|---|---|
| 1 | Antropologi | 7,9% |
| 2 | Teknik Komputer | 7,8% |
| 3 | Seni Rupa | 7,7% |
| 4 | Ilmu Komputer | 7,0% |
| 5 | Seni Pertunjukan | 7,0% |
Tingginya angka pengangguran pada beberapa bidang tersebut dikaitkan dengan keterbatasan posisi pekerjaan dan meningkatnya jumlah lulusan.
CEO American College of Education, Geordie Hyland, mengingatkan bahwa lulusan perguruan tinggi perlu terus mengembangkan keterampilan, mempelajari teknologi kecerdasan buatan (AI), membangun jaringan profesional, serta memperoleh pengalaman kerja.
Data ini dapat menjadi salah satu bahan pertimbangan calon mahasiswa dalam memilih jurusan. Namun, perlu diingat bahwa angka tersebut merupakan gambaran pasar kerja Amerika Serikat, bukan kondisi pengangguran lulusan di Indonesia








