Jakarta – Pengelolaan hibah penelitian dosen dinilai masih menghadapi tantangan dalam membangun budaya riset yang berorientasi pada dampak. Aktivitas penelitian tidak cukup hanya diarahkan untuk memenuhi target administratif atau menghasilkan publikasi, tetapi juga perlu memberikan manfaat yang terukur bagi masyarakat.
Persoalan tersebut menjadi bagian dari pembahasan mengenai ekosistem riset dan pemanfaatan sains dan teknologi di Indonesia. Salah satu sorotan yang muncul adalah pola penelitian yang cenderung berorientasi pada output, termasuk publikasi dan penyelesaian target sesuai tenggat waktu.
Riset Tidak Cukup Berhenti di Publikasi
Direktur Diseminasi dan Pemanfaatan Sains dan Teknologi Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, Yudi Darma, mengatakan paradigma penelitian perlu bergeser dari sekadar menghasilkan keluaran menuju program yang memiliki dampak nyata.
Dalam diskusi bertajuk “Mengukur, Menjaga, dan Memperluas Dampak Riset” di Jakarta pada 8 September 2026, Yudi menyampaikan bahwa ekosistem pemanfaatan sains dan teknologi masih terfragmentasi. Kondisi tersebut membuat interaksi antara peneliti, masyarakat, dan pihak yang memanfaatkan hasil penelitian belum optimal.
Menurutnya, publikasi ilmiah tetap penting sebagai salah satu hasil penelitian. Namun, publikasi seharusnya menjadi bagian dari proses yang lebih besar, bukan satu-satunya ukuran keberhasilan penelitian.
Motivasi Penelitian dan Publikasi Tidak Selalu Sejalan
Temuan kuesioner internal Kemendiktisaintek pada akhir 2025 menunjukkan hampir separuh dosen yang disurvei menyatakan motivasi utama melakukan penelitian adalah untuk membantu menyelesaikan persoalan nyata di masyarakat.
Di sisi lain, sebanyak 77 persen responden menyebut publikasi dilakukan untuk mendukung reputasi pribadi dan karier. Data tersebut menjadi salah satu dasar munculnya pembahasan mengenai perlunya perubahan paradigma dalam pelaksanaan penelitian.
Kondisi ini menunjukkan adanya tantangan dalam menyelaraskan tujuan penelitian dengan pemanfaatan hasilnya. Penelitian yang menghasilkan publikasi belum otomatis menghasilkan perubahan atau manfaat langsung bagi masyarakat.
Budaya Riset Perlu Dibangun Sejak Awal
Perubahan ekosistem riset juga membutuhkan peningkatan kapasitas dosen dalam menyusun proposal penelitian yang berkualitas. Kemendiktisaintek pada September 2026, misalnya, menyelenggarakan Workshop Penulisan Proposal Hibah Nasional untuk Dosen Muda dan Vokasi.
Program tersebut dirancang untuk meningkatkan kemampuan dosen dalam menyusun proposal yang memenuhi standar penilaian hibah nasional, memperkuat budaya riset, serta memperbesar peluang memperoleh pendanaan penelitian kompetitif.
Workshop tersebut dilaksanakan dalam beberapa gelombang hingga Oktober 2026 dan menyasar dosen muda serta dosen vokasi. Salah satu persyaratannya adalah peserta memiliki rancangan awal atau mini proposal penelitian.
Hibah Penelitian Mulai Diarahkan ke Ekosistem yang Lebih Kuat
Selain meningkatkan kemampuan individu peneliti, pemerintah juga memiliki program yang diarahkan untuk memperkuat ekosistem riset di perguruan tinggi.
Platform TALENTA Kemdiktisaintek mencatat adanya program Hibah Penguatan Ekosistem Talenta Riset di Perguruan Tinggi. Program tersebut diarahkan untuk memperkuat kapasitas riset dan inovasi, meningkatkan kualitas publikasi, memperbaiki tata kelola riset, serta membuka ruang kolaborasi bagi dosen dan peneliti.
Arah tersebut menunjukkan bahwa pendanaan penelitian tidak hanya berkaitan dengan pemberian hibah kepada peneliti, tetapi juga dengan bagaimana perguruan tinggi membangun lingkungan yang mampu menghasilkan riset berkualitas dan berkelanjutan.
Dari Deadline-Driven Menuju Outcome-Based
Tantangan berikutnya adalah bagaimana mengubah pola penelitian yang terlalu berorientasi pada tenggat dan keluaran administratif menjadi penelitian yang memiliki tujuan serta dampak lebih jelas.
Dalam pendekatan outcome-based, keberhasilan penelitian tidak hanya dilihat dari apakah proposal selesai, laporan dikumpulkan, atau artikel berhasil dipublikasikan. Manfaat penelitian, pemanfaatan hasil oleh masyarakat atau industri, serta kontribusinya terhadap penyelesaian masalah juga menjadi perhatian.
Dengan perubahan paradigma tersebut, hibah penelitian diharapkan tidak berhenti sebagai proyek yang selesai ketika masa pendanaan berakhir. Hasil riset justru dapat menjadi dasar inovasi, kebijakan, teknologi, maupun solusi yang terus dikembangkan setelah penelitian selesai.








