Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kalimantan Timur sedang mempercepat lahirnya calon-calon guru dari pedalaman, bukan lagi hanya mengandalkan tenaga pendidik dari kota yang sering tidak bertahan lama di daerah terpencil. Lewat kebijakan afirmasi, putra-putri dari kawasan hulu dan pelosok diberi kesempatan luas untuk kuliah di fakultas keguruan dengan fasilitas kuliah gratis, lalu diarahkan kembali mengajar di kampung halamannya setelah lulus.
Langkah ini bukan sekadar menambah jumlah guru, tapi juga memperkuat akses pendidikan yang merata hingga ke wilayah hulu Mahakam dan daerah sulit dijangkau lainnya. Namun, pemerintah daerah masih berhadapan dengan tantangan besar: minat sekolah di kalangan anak-anak belum tinggi, sementara sebagian orang tua masih perlu diyakinkan pentingnya pendidikan meski asrama dan sarana dasar sudah disiapkan.
Sebagai bentuk keberpihakan, Kaltim memberikan kuota khusus bagi anak-anak dari wilayah Tertinggal, Terdepan, dan Terluar (3T) di SMA Garuda Transformasi, yang dapat membuka jalan menuju beasiswa penuh bahkan hingga perguruan tinggi luar negeri bagi siswa berprestasi. Di sisi lain, penataan tenaga pendidik juga didorong dengan mengarahkan guru berstatus PPPK yang menumpuk di kota untuk mengisi kebutuhan di pedalaman, disertai upaya peningkatan infrastruktur agar kesenjangan antara sekolah unggulan dan sekolah di pelosok semakin mengecil.
Target besarnya, seluruh sekolah di Kaltim diupayakan mencapai standar Sekolah Nasional Plus pada 2028, sehingga anak-anak dari pedalaman pun bisa menikmati mutu pendidikan yang setara dengan daerah lain dan punya kesempatan yang sama untuk maju.










