JAKARTA – Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen), Abdul Mu’ti, menegaskan bahwa sastra memiliki peran penting dalam membentuk karakter, mengembangkan olah rasa, serta memperkuat budaya literasi peserta didik. Di tengah pesatnya perkembangan teknologi, ia mengajak generasi muda memanfaatkan ruang digital sebagai media untuk berkarya dan mengekspresikan kreativitas.
Hal tersebut disampaikan Abdul Mu’ti saat menjadi narasumber dalam Talkshow Hari Puisi Nasional di Jakarta, Senin (27/7/2026).
Pendidikan Harus Mengembangkan Empat Aspek Utama
Menurut Abdul Mu’ti, pendidikan tidak hanya berorientasi pada pengembangan kemampuan berpikir, tetapi juga harus menumbuhkan keseimbangan antara aspek fisik, emosional, intelektual, dan spiritual.
Ia menjelaskan bahwa pendidikan harus memberikan ruang bagi empat unsur utama, yaitu:
- Olah raga.
- Olah rasa.
- Olah pikir.
- Olah hati.
“Pendidikan itu ada empat, yaitu olah raga, olah rasa, olah pikir, dan olah hati. Keempatnya harus tumbuh semuanya dan harus kita berikan ruang yang terintegrasi,” ujar Abdul Mu’ti.
Menurutnya, sastra menjadi salah satu media terbaik untuk mengembangkan olah rasa karena mampu melatih kepekaan, imajinasi, serta kemampuan peserta didik mengekspresikan gagasan melalui bahasa yang santun.
Puisi Digital Jadi Ruang Baru Berkarya
Abdul Mu’ti menilai perkembangan teknologi bukanlah ancaman bagi sastra, melainkan peluang untuk memperluas ekosistem literasi.
Ia mendorong lahirnya puisi digital (digital poetry) sebagai wadah baru bagi generasi muda untuk berkarya.
Kemendikdasmen juga telah menyediakan berbagai platform yang dapat dimanfaatkan oleh guru dan peserta didik, seperti:
- Rumah Pendidikan sebagai ruang publikasi karya.
- Majalah Literasi yang diterbitkan secara rutin oleh kementerian.
“Kita ke depan perlu memikirkan digital poetry atau puisi-puisi digital. Kita punya Rumah Pendidikan yang bisa diisi oleh anak-anak dan guru dengan berbagai karya, termasuk karya sastra puisi. Selain itu, kita juga memiliki Majalah Literasi yang diterbitkan secara rutin oleh kementerian,” katanya.
PR Kini Lebih Banyak Membaca dan Menulis
Abdul Mu’ti menjelaskan bahwa penguatan literasi melalui sastra menjadi bagian dari implementasi kebijakan Pembelajaran Mendalam (Deep Learning) yang sedang dikembangkan Kemendikdasmen.
Dalam pendekatan ini, peserta didik tidak lagi hanya berfokus pada penyelesaian soal, tetapi juga dibiasakan membaca dan menulis sebagai bagian dari proses belajar.
“Anak-anak masih kita beri PR. Tapi PR-nya tidak mengerjakan soal. PR-nya membaca buku, PR-nya menulis. Literasi dan numerasi kita galakkan dengan memberi ruang yang lebih banyak untuk anak-anak membaca buku-buku nonteks,” jelasnya.
Melalui kebijakan tersebut, literasi diharapkan tumbuh menjadi kebiasaan yang mampu meningkatkan kreativitas, kemampuan berpikir kritis, dan pemahaman peserta didik terhadap berbagai persoalan.
Kemendikdasmen Distribusikan 5,5 Juta Buku Bacaan
Untuk mendukung gerakan literasi nasional, Kemendikdasmen melalui Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa akan mendistribusikan sekitar 5,5 juta buku bacaan nonteks ke sekolah-sekolah di seluruh Indonesia.
Buku-buku tersebut diharapkan dapat memperkaya bahan bacaan peserta didik sekaligus memperluas ruang imajinasi dan kreativitas mereka.
Menurut Abdul Mu’ti, penguatan literasi tidak hanya meningkatkan kemampuan membaca dan menulis, tetapi juga membantu peserta didik memahami konteks kehidupan, memecahkan masalah, serta membangun karakter yang kuat.
Guru Menjadi Inspirasi bagi Murid
Abdul Mu’ti juga menekankan pentingnya peran guru dalam menumbuhkan kecintaan terhadap sastra.
Ia mengaku ketertarikannya pada puisi tumbuh berkat inspirasi yang diberikan guru Bahasa Indonesia saat masih bersekolah.
Karena itu, ia mengingatkan bahwa guru bukan sekadar menyampaikan materi, tetapi juga menginspirasi peserta didik.
“Teaching is inspiring. Mengajar itu menginspirasi, bukan menggurui,” ungkapnya.
Sekolah Perlu Membuka Ruang Kreativitas
Menutup pemaparannya, Abdul Mu’ti mendorong sekolah untuk terus menyediakan ruang aktualisasi bagi peserta didik melalui berbagai kegiatan literasi, seperti:
- Membaca puisi.
- Menulis karya sastra.
- Lomba literasi.
- Komunitas membaca dan menulis.
- Kegiatan kreatif berbasis budaya.
Menurutnya, ruang-ruang tersebut akan membantu peserta didik mengembangkan kreativitas, meningkatkan rasa percaya diri, sekaligus menumbuhkan kecintaan terhadap budaya bangsa.
Ia menegaskan bahwa keberhasilan membangun budaya literasi memerlukan kolaborasi seluruh pihak, mulai dari sekolah, guru, keluarga, hingga komunitas. Dengan semakin luasnya ruang berekspresi, termasuk melalui media digital, peserta didik diharapkan tumbuh menjadi pribadi yang literat, kreatif, berkarakter, dan siap menghadapi tantangan masa depan.




