Sudah berbulan-bulan, ruang kelas SDN Kajuanak 4 di Kecamatan Galis, Bangkalan, dibiarkan rusak setelah ambruk akibat hujan dan angin pada November 2025. Sampai hari ini, bangunan sekolah itu belum tersentuh perbaikan, padahal aktivitas belajar mengajar harus terus berjalan. Akhirnya, guru dan siswa tidak punya pilihan selain memindahkan seluruh proses belajar ke luar ruangan.
Sebanyak 105 siswa dari kelas satu hingga kelas enam kini belajar di teras sekolah dan di bawah tenda darurat yang dipasang di halaman. Tenda tersebut hanya terbuat dari terpal sederhana, tanpa perlindungan maksimal dari panas dan hujan. Sementara itu, sisa bangunan yang masih berdiri tampak miring dan keropos, sehingga tidak lagi layak digunakan karena dikhawatirkan bisa roboh kapan saja.
Kepala sekolah mengakui, kondisi ini membuat guru, siswa, dan orang tua merasa waswas dan lelah menunggu kejelasan. Wali murid berkali-kali menanyakan kapan anak-anak mereka bisa kembali belajar di ruang kelas yang aman dan nyaman, tetapi pihak sekolah belum bisa memberikan jawaban karena belum ada informasi pasti mengenai jadwal renovasi.
Dinas Pendidikan Bangkalan menyebut perbaikan sekolah akan dimasukkan dalam program revitalisasi dan diupayakan terlaksana pada tahun ini. Namun, hingga kini belum ada tanggal pasti kapan pekerjaan dimulai. Di tengah ketidakpastian itu, anak-anak tetap berangkat sekolah setiap hari, membawa buku dan harapan sederhana: bisa belajar di ruang kelas yang layak, bukan lagi di teras dan tenda darurat.



