Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) memperkuat kerja sama regional untuk meningkatkan kualitas pendidikan dan pengasuhan anak usia dini atau Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD). Upaya tersebut dibahas dalam Pertemuan Tahunan Governing Board ke-9 SEAMEO Regional Centre for Early Childhood Care Education and Parenting (SEAMEO CECCEP) di Jakarta.
Pertemuan yang berlangsung pada 20 Oktober 2026 ini menjadi forum untuk mengevaluasi program yang telah berjalan, membahas capaian sepanjang tahun fiskal 2025/2026, serta merumuskan strategi pengembangan pendidikan dan pengasuhan anak usia dini di Asia Tenggara.
Sekretaris Jenderal Kemendikdasmen, Suharti, membuka kegiatan tersebut. Ia menekankan pentingnya memperluas akses PAUD sekaligus memastikan setiap anak memperoleh layanan pendidikan yang berkualitas, inklusif, dan mendukung tumbuh kembangnya. <Cite refs={[“turn287466search0″,”turn287466search1”]}/>
Kemendikdasmen Dorong Wajib Belajar 13 Tahun
Salah satu perhatian pemerintah adalah memperluas kesempatan anak untuk memperoleh pendidikan sejak usia dini melalui kebijakan Wajib Belajar 13 Tahun, yang mencakup satu tahun pendidikan prasekolah.
Pemerintah menilai bahwa akses terhadap pendidikan prasekolah perlu diperkuat agar semakin banyak anak mendapatkan bekal belajar sebelum memasuki jenjang pendidikan dasar.
Upaya tersebut turut didukung Program Indonesia Pintar (PIP) bagi anak dari keluarga yang membutuhkan. Selain bantuan pendidikan, perluasan akses juga membutuhkan keterlibatan keluarga, masyarakat, pemerintah daerah, dan berbagai pemangku kepentingan.
Suharti menegaskan bahwa peningkatan akses harus berjalan seiring dengan peningkatan kompetensi pendidik dan penyediaan lingkungan belajar yang aman serta inklusif.
Dengan demikian, perluasan layanan PAUD tidak hanya berfokus pada jumlah anak yang memperoleh akses, tetapi juga pada mutu pengalaman belajar yang mereka terima. <Cite refs={[“turn287466search0″,”turn287466search1”]}/>
SEAMEO CECCEP Paparkan Capaian Program 2025/2026
Direktur SEAMEO CECCEP, Vina Adriany, memaparkan sejumlah capaian lembaga selama tahun fiskal 2025/2026. Program yang dijalankan mencakup penelitian dan pengembangan, peningkatan kapasitas tenaga pendidik, advokasi kebijakan, serta penguatan kemitraan regional.
Berbagai kegiatan tersebut bertujuan mendukung pengembangan pendidikan dan pengasuhan anak usia dini yang sesuai dengan kebutuhan anak dan keluarga di negara-negara Asia Tenggara.
SEAMEO CECCEP juga mendorong pertukaran pengetahuan dan pengalaman agar praktik pendidikan yang efektif dapat dipelajari serta dikembangkan sesuai dengan kondisi setiap negara.
Menurut Vina, kerja sama yang berkelanjutan diperlukan untuk memastikan anak-anak dan keluarga memperoleh dukungan yang memadai dalam proses tumbuh kembang. <Cite refs={[“turn287466search0″,”turn287466search1”]}/>
Peta Jalan Bersama untuk Memperkuat Pendidikan Anak Usia Dini
Dalam kerja sama regional, SEAMEO CECCEP mendukung penyebarluasan ASEAN–SEAMEO Joint Roadmap on Early Childhood Care and Education in Southeast Asia.
Peta jalan tersebut menjadi kerangka bersama untuk mendorong sistem pendidikan dan pengasuhan anak usia dini yang lebih inklusif, merata, dan berkualitas di kawasan Asia Tenggara.
Selain itu, SEAMEO CECCEP melanjutkan advokasi Pengembangan Anak Usia Dini Holistik Integratif (PAUD HI). Pendekatan ini menekankan bahwa kebutuhan anak tidak hanya berkaitan dengan pendidikan, tetapi juga dengan pengasuhan dan aspek perkembangan lainnya.
Lembaga tersebut turut mendukung pertukaran pengetahuan dan dialog kebijakan melalui Centre Policy Research Network (CPRN), sehingga hasil penelitian dapat menjadi bahan pertimbangan dalam penyusunan kebijakan dan penerapan praktik pendidikan. <Cite refs={[“turn287466search0″,”turn287466search4”]}/>
Penelitian PAUD Bahas Pengasuhan Lokal hingga Numerasi
SEAMEO CECCEP mengembangkan kajian mengenai sejumlah isu strategis dalam pendidikan dan pengasuhan anak usia dini.
Salah satunya adalah etnoparenting, yaitu kajian tentang praktik pengasuhan yang berakar pada nilai, tradisi, dan kearifan lokal masyarakat. Pengetahuan ini dapat membantu memahami cara keluarga mendukung tumbuh kembang anak dalam konteks budaya yang berbeda.
Kajian lainnya mencakup pendidikan anti-bias untuk mendorong lingkungan belajar yang inklusif dan bebas diskriminasi, serta pengembangan kemampuan numerasi anak usia dini.
Penelitian tersebut diharapkan dapat membantu pendidik dan pembuat kebijakan memahami kebutuhan anak secara lebih menyeluruh.
Hasil kajian juga dapat menjadi landasan dalam mengembangkan metode pembelajaran yang relevan dengan kondisi masyarakat dan keragaman kebutuhan anak. <Cite refs={[“turn287466search0″,”turn287466search1”]}/>
AI Mulai Dikaji untuk Mendukung Kompetensi Pendidik PAUD
Seiring perkembangan teknologi, SEAMEO CECCEP turut mengeksplorasi pemanfaatan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) dalam pendidikan anak usia dini.
Fokus kajian mencakup kemungkinan pemanfaatan teknologi untuk mendukung kompetensi pendidik dan penerapan teknologi yang sesuai dengan kebutuhan pembelajaran.
Namun, penggunaan AI pada pendidikan anak usia dini perlu mempertimbangkan usia, kebutuhan perkembangan, keamanan, dan kepentingan anak.
Teknologi sebaiknya berperan sebagai alat bantu bagi pendidik, bukan menggantikan interaksi manusia yang penting dalam proses pengasuhan dan pembelajaran anak.
Kajian mengenai AI tersebut menjadi bagian dari upaya SEAMEO CECCEP menghasilkan pengetahuan yang dapat digunakan untuk mengembangkan kebijakan dan praktik pendidikan yang bertanggung jawab. <Cite refs={[“turn287466search0″,”turn287466search1”]}/>
Pelatihan Guru dan Penguatan Pendidikan Inklusif
Pengembangan kompetensi pendidik menjadi bagian penting dari program SEAMEO CECCEP. Berbagai kegiatan peningkatan kapasitas dilaksanakan untuk memperkuat keterampilan tenaga profesional di bidang pendidikan dan pengasuhan anak usia dini.
Kegiatan tersebut antara lain pelatihan guru di Malaysia menggunakan modul Our Happy Neighbourhood, pelatihan pengembangan diri bagi calon dosen pendidikan anak usia dini di Kamboja pada 2025, serta pelatihan pendidikan inklusif melalui kerja sama dengan Hiroshima University.
Webinar dan lokakarya regional juga dimanfaatkan sebagai ruang berbagi pengalaman, memperluas wawasan, dan memperkuat jejaring profesional.
Melalui kegiatan tersebut, pendidik diharapkan memperoleh pengetahuan dan keterampilan yang dapat diterapkan sesuai dengan kebutuhan anak di lingkungan masing-masing. <Cite refs={[“turn287466search0″,”turn287466search1”]}/>
Kolaborasi Regional untuk Masa Depan Anak Asia Tenggara
Perwakilan Sekretariat SEAMEO, Alejandro Ibanez, menilai pertemuan Governing Board menjadi forum strategis untuk menerjemahkan prioritas regional menjadi program nyata.
Ia menekankan pentingnya penguatan kapasitas kelembagaan, penelitian berbasis bukti, inovasi, dan kemitraan strategis agar program pendidikan tetap relevan dengan perubahan kebutuhan negara-negara anggota.
Pemantauan berkala juga diperlukan untuk mengevaluasi capaian dan mengidentifikasi bidang yang masih perlu ditingkatkan.
Melalui tata kelola yang efektif dan kerja sama berkelanjutan, SEAMEO CECCEP bersama negara-negara anggota dan mitra berupaya memperkuat layanan pendidikan serta pengasuhan anak usia dini.
Harapannya, semakin banyak anak di Asia Tenggara memperoleh kesempatan untuk tumbuh, belajar, dan berkembang secara optimal melalui layanan yang berkualitas, inklusif, dan sesuai dengan kebutuhan mereka.










