JAKARTA – Hasil Programme for International Student Assessment (PISA) 2025 menunjukkan adanya perbedaan capaian kemampuan akademik siswa di berbagai negara. China menempati posisi pertama dalam pemeringkatan yang disusun Visual Capitalist, sementara Indonesia berada di urutan ke-72 dari 91 negara dan wilayah ekonomi.
Pemeringkatan tersebut menggunakan rata-rata skor tiga bidang penilaian, yakni matematika, sains, dan membaca. Data berasal dari hasil PISA 2025 yang dirilis Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD) pada September 2026.
China mencatat skor rata-rata 578,7, disusul Singapura dengan 552,7 dan Taiwan dengan 531,3.
Daftar 15 Negara dengan Skor PISA Tertinggi
Berikut 15 negara dan wilayah ekonomi dengan skor rata-rata tertinggi berdasarkan pengolahan data PISA 2025 oleh Visual Capitalist.
| Peringkat | Negara/wilayah | Skor rata-rata |
|---|---|---|
| 1 | China (B-S-J-Z) | 578,7 |
| 2 | Singapura | 552,7 |
| 3 | Taiwan | 531,3 |
| 4 | Makau | 530,3 |
| 5 | Jepang | 522,0 |
| 6 | Korea Selatan | 516,3 |
| 7 | Estonia | 511,3 |
| 8 | Hong Kong | 499,3 |
| 9 | Inggris | 497,7 |
| 10 | Selandia Baru | 495,3 |
| 11 | Kanada | 495,0 |
| 12 | Irlandia | 493,3 |
| 13 | Australia | 492,7 |
| 14 | Swiss | 490,0 |
| 15 | Polandia | 487,0 |
China menempati posisi teratas dengan keunggulan pada bidang matematika dan sains. Wilayah yang dimaksud adalah Beijing, Shanghai, Jiangsu, dan Zhejiang (B-S-J-Z), bukan seluruh wilayah China.
Singapura berada di posisi kedua dengan capaian tinggi pada ketiga bidang. Sementara itu, Jepang dan Korea Selatan juga masuk enam besar pemeringkatan.
Indonesia Berada di Peringkat ke-72
Dalam pemeringkatan tersebut, Indonesia menempati posisi ke-72 dari 91 negara dan wilayah ekonomi.
Rincian skor Indonesia berdasarkan tiga bidang penilaian adalah:
- Sains: 389 poin.
- Matematika: 364 poin.
- Membaca: 365 poin.
- Rata-rata: 372,7 poin.
Sains menjadi bidang dengan skor tertinggi bagi siswa Indonesia, sedangkan matematika mencatat skor terendah.
Hasil tersebut menunjukkan bahwa kemampuan siswa Indonesia dalam ketiga bidang tersebut masih menghadapi tantangan dibandingkan negara-negara dengan capaian tertinggi.
Apa Itu PISA?
PISA merupakan program penilaian internasional yang diselenggarakan OECD untuk mengukur kemampuan siswa berusia 15 tahun.
Penilaian ini tidak hanya menguji kemampuan menghafal materi pelajaran, tetapi juga melihat kemampuan siswa menggunakan pengetahuan untuk menghadapi persoalan kehidupan sehari-hari.
Terdapat tiga bidang utama yang diukur, yaitu:
- Matematika: kemampuan memahami dan menerapkan konsep matematika untuk menyelesaikan masalah.
- Sains: kemampuan menjelaskan fenomena ilmiah, mengevaluasi informasi, dan menggunakan pengetahuan sains.
- Membaca: kemampuan memahami, menggunakan, mengevaluasi, dan merefleksikan informasi dalam teks.
PISA 2025 diikuti lebih dari 760.000 siswa yang mewakili sekitar 33 juta anak berusia 15 tahun di 91 negara dan wilayah ekonomi.
Hasil PISA Indonesia Masih Menjadi Tantangan Pendidikan
Dalam catatan negara Indonesia, OECD menjelaskan bahwa capaian rata-rata siswa Indonesia pada PISA 2025 relatif sama dengan hasil PISA 2022 dalam matematika, membaca, dan sains.
Namun, hasil 2025 masih berada di bawah capaian yang tercatat pada 2015.
OECD juga mencatat bahwa sekitar 17 persen siswa Indonesia mencapai minimal Level 2 dalam matematika. Pada bidang membaca, sekitar 27 persen siswa mencapai minimal Level 2.
Sementara itu, dalam bidang sains, sekitar 37 persen siswa Indonesia mencapai minimal Level 2.
Temuan tersebut menunjukkan pentingnya memperkuat kemampuan dasar siswa, terutama literasi membaca, numerasi, dan pemahaman sains.
Peringkat PISA Bukan Ukuran Mutlak Kecerdasan Siswa
Meskipun sering disebut sebagai pemeringkatan negara dengan murid paling pintar, hasil PISA sebenarnya mengukur kompetensi siswa berusia 15 tahun pada bidang tertentu.
Karena itu, hasil tersebut tidak dapat digunakan sebagai ukuran mutlak kecerdasan seluruh anak di suatu negara.
Data PISA lebih tepat digunakan untuk mengevaluasi kemampuan siswa dan melihat tantangan yang perlu diperbaiki dalam sistem pendidikan.
Bagi Indonesia, hasil tersebut dapat menjadi bahan evaluasi untuk memperkuat kualitas pembelajaran, meningkatkan kemampuan guru, serta memperluas akses terhadap pendidikan yang berkualitas.








