Kebakaran Hutan di Kalimantan Kembali Terjadi, Lahan Gambut dan Kemarau Jadi Faktor Pemicu
Jakarta, akhir Agustus 2026 — Kebakaran hutan dan lahan kembali menjadi perhatian di Indonesia, termasuk di wilayah Kalimantan. Kebakaran hutan memiliki karakteristik berbeda dibandingkan kebakaran biasa karena api dapat menyebar dengan cepat dan dalam kondisi tertentu bertahan di bawah permukaan tanah.
Catatan sejarah menunjukkan bahwa kebakaran hutan terparah di Indonesia pernah terjadi bertepatan dengan fenomena El Niño pada 1997. Saat itu, kebakaran melanda lahan gambut di Kalimantan dan Sumatera dengan total area terbakar diperkirakan mencapai lebih dari 9 juta hektare.
Kejadian serupa kembali terjadi pada 2006, 2013, dan 2015. Kebakaran pada 2015 menjadi salah satu yang terbesar, dengan luas lahan terbakar mencapai sekitar 2,6 juta hektare dan menimbulkan korban jiwa.
Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menyebut sebagian besar kebakaran hutan dan lahan (karhutla) disebabkan oleh aktivitas manusia, salah satunya pembukaan lahan. Setelah api muncul, sejumlah faktor membuat kebakaran sulit dikendalikan.
1. Lahan Gambut Menyimpan Api di Bawah Tanah
Salah satu alasan utama kebakaran sulit dipadamkan adalah karakteristik lahan gambut. Api tidak hanya membakar vegetasi di permukaan, tetapi dapat merambat dan membara hingga ke lapisan gambut di bawah permukaan tanah.
Api yang berada di dalam lapisan gambut dapat bertahan dalam waktu lama dan sulit dideteksi. Bahkan setelah api di permukaan terlihat padam, bara di bawah tanah masih dapat menyala dan kembali memicu kebakaran.
2. Kondisi Iklim dan Musim Kemarau
Musim kemarau menjadi salah satu periode yang meningkatkan risiko kebakaran hutan dan lahan. Kondisi yang kering membuat vegetasi dan material mudah terbakar.
Kemarau yang lebih panjang juga dapat membuat lahan semakin kering sehingga api lebih mudah menyebar dari satu wilayah ke wilayah lainnya.
Fenomena iklim seperti El Niño juga dapat memperburuk kondisi kekeringan di sejumlah wilayah Indonesia. Namun, tingkat dampaknya dapat berbeda antara satu daerah dengan daerah lainnya.
3. Kebakaran Terlambat Terdeteksi
Kebakaran hutan yang terlambat diketahui akan lebih sulit dikendalikan. Api yang awalnya masih kecil dapat berkembang menjadi kebakaran besar dalam hitungan jam atau hari.
Ketika petugas tiba di lokasi, luas area yang terbakar mungkin sudah semakin besar sehingga proses pemadaman membutuhkan lebih banyak sumber daya dan waktu.
Selain kondisi vegetasi dan cuaca, kemiringan lahan juga dapat memengaruhi kecepatan penyebaran api. Semakin curam suatu wilayah, api dapat bergerak semakin cepat karena panas membantu mengeringkan dan memanaskan vegetasi di bagian atas.
Dampak Kebakaran Hutan bagi Lingkungan dan Kesehatan
Kebakaran hutan tidak hanya menyebabkan kerusakan lingkungan. Asap yang dihasilkan juga dapat mengganggu kehidupan masyarakat di wilayah terdampak.
Dampaknya dapat berupa gangguan aktivitas sehari-hari, kerusakan harta benda, hilangnya habitat satwa, hingga ancaman terhadap keselamatan manusia dan ternak.
Asap kebakaran hutan juga membawa partikel dan berbagai zat berbahaya yang dapat masuk ke saluran pernapasan. Paparan asap dalam jumlah tinggi maupun dalam waktu lama dapat meningkatkan risiko berbagai gangguan kesehatan.
Menurut informasi Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), paparan asap kebakaran hutan dapat berkaitan dengan gangguan pada paru-paru dan jantung, sistem saraf, fungsi kognitif, mata, serta saluran pernapasan. Paparan asap juga dapat memperburuk kondisi kesehatan tertentu yang sudah dimiliki seseorang.
Karena itu, penanganan karhutla tidak hanya berfokus pada pemadaman api, tetapi juga pencegahan, deteksi dini, pengelolaan lahan, serta perlindungan masyarakat dari paparan asap.
Masyarakat di wilayah yang terdampak karhutla perlu mengikuti informasi resmi mengenai kualitas udara dan kondisi kebakaran serta mengurangi aktivitas di luar ruangan ketika paparan asap sedang tinggi.









