Singkawang, 22 Agustus 2026 — Asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) mulai menjadi perhatian dalam aktivitas pendidikan di sejumlah wilayah Kalimantan. Di Kota Singkawang, Kalimantan Barat, kegiatan pembelajaran tatap muka masih berlangsung, tetapi pemerintah daerah meminta siswa dan warga sekolah meningkatkan kewaspadaan terhadap paparan asap dan debu.
Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dikbud) Kota Singkawang meminta seluruh siswa menggunakan masker ketika beraktivitas di luar ruangan. Langkah tersebut dilakukan sebagai upaya menjaga kesehatan peserta didik dan warga sekolah di tengah kondisi kualitas udara yang perlu dipantau.
Kepala Dinas Dikbud Kota Singkawang Asmadi mengatakan penggunaan masker diharapkan memberikan perlindungan sekaligus rasa aman bagi siswa, guru, dan seluruh warga sekolah.
“Permintaan menggunakan masker ini dalam rangka memberikan rasa aman dan menjaga kesehatan seluruh warga sekolah,” kata Asmadi di Singkawang, dikutip Jumat (21/8/2026).
Kualitas Udara Masih Kategori Sedang
Berdasarkan pemantauan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Singkawang, kualitas udara saat ini masih berada dalam kategori sedang.
Meski demikian, pemerintah daerah tidak menurunkan kewaspadaan karena kondisi udara dapat berubah sewaktu-waktu, tergantung perkembangan karhutla dan arah angin.
Bagi anak sekolah, kondisi tersebut perlu mendapatkan perhatian karena aktivitas mereka tidak hanya dilakukan di dalam ruang kelas. Siswa juga harus melakukan perjalanan ketika berangkat dan pulang sekolah serta mengikuti berbagai kegiatan di luar ruangan.
Penggunaan masker menjadi salah satu langkah pencegahan untuk mengurangi paparan partikel yang berasal dari asap dan debu.
Sekolah dan Orang Tua Diminta Ingatkan Siswa
Dikbud Singkawang meminta sekolah, guru, dan orang tua bersama-sama mengingatkan siswa agar selalu membawa dan menggunakan masker, terutama ketika berada di luar ruangan.
Masker dianjurkan digunakan saat siswa berangkat dan pulang sekolah maupun ketika mengikuti aktivitas di luar kelas.
“Kita ingin anak-anak tetap sehat dan nyaman dalam belajar sebagai bentuk antisipasi agar kesehatan mereka tetap terjaga,” jelas Asmadi.
Pembelajaran Tatap Muka Masih Berlangsung
Meskipun asap karhutla mulai memengaruhi kondisi lingkungan, kegiatan belajar mengajar di Kota Singkawang masih dilaksanakan secara tatap muka.
Dikbud belum mengambil keputusan untuk meliburkan siswa karena kualitas udara saat ini dinilai belum berada pada kondisi yang mengharuskan penghentian pembelajaran tatap muka.
“Kita tetap tatap muka. Tapi kita juga terus memantau. Jika nanti ada perkembangan, tentu akan kita evaluasi bersama demi keselamatan siswa,” ujar Asmadi.
Kebijakan tersebut akan terus dievaluasi berdasarkan perkembangan kualitas udara dan kondisi karhutla di wilayah Singkawang.
Pemantauan Melibatkan Sejumlah Instansi
Dikbud Kota Singkawang juga melakukan koordinasi dengan Dinas Lingkungan Hidup, Dinas Kesehatan, dan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD).
Koordinasi dilakukan untuk mendapatkan informasi terbaru mengenai kualitas udara serta perkembangan karhutla yang dapat berdampak terhadap aktivitas masyarakat.
Apabila kualitas udara mengalami penurunan secara signifikan, pemerintah daerah akan mengevaluasi kembali kebijakan pembelajaran tatap muka.
Asmadi menegaskan bahwa kesehatan dan keselamatan siswa serta seluruh warga sekolah menjadi pertimbangan utama dalam menentukan langkah pendidikan selanjutnya.
Dengan demikian, kegiatan belajar tetap dapat berjalan selama kondisi memungkinkan, sembari pemerintah meningkatkan langkah pencegahan untuk melindungi anak-anak dari dampak kabut asap karhutla.









