Jakarta – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di kawasan Gunung Ciremai, Jawa Barat, mengancam kehidupan satwa liar yang tinggal di habitat tersebut. Salah satunya adalah bayi surili, primata endemik Pulau Jawa yang ditemukan dalam kondisi lemas ketika terjebak di tengah kebakaran.
Bayi surili itu ditemukan oleh Darsa, anggota Masyarakat Peduli Api (MPA) yang akrab disapa Dodo, saat membantu memadamkan kebakaran di kawasan Puncak Dulang, Gunung Ciremai, pada Kamis malam, 22 Oktober 2026.
Saat ditemukan, bayi surili tersebut memiliki bulu yang masih didominasi warna putih. Kondisinya lemas setelah diduga terlalu lama menghirup asap kebakaran. Peristiwa ini menjadi pengingat pentingnya menjaga kelestarian satwa endemik yang terancam kehilangan habitat akibat kebakaran hutan.
1. Mengenal Surili, Monyet Endemik Pulau Jawa
Surili memiliki nama ilmiah Presbytis comata. Satwa ini merupakan primata endemik Indonesia yang persebaran alaminya berada di wilayah Jawa bagian barat hingga Jawa bagian tengah.
Surili dewasa mempunyai ciri khas berupa rambut berwarna abu-abu pada bagian tubuh atas, bagian bawah berwarna putih, serta jambul hitam di kepala. Sementara itu, bayi surili memiliki rambut yang cenderung putih sehingga dikenal pula dengan sebutan monyet beruban.
Berdasarkan informasi dalam artikel detikEdu, panjang tubuh surili dewasa berkisar 43–59,5 sentimeter, sedangkan panjang ekornya sekitar 56–72,4 sentimeter. Bobot tubuhnya kurang lebih 6,5 kilogram untuk jantan dan 6,7 kilogram untuk betina.
Surili biasanya hidup berkelompok dengan jumlah sekitar 3–12 individu. Satwa ini aktif pada siang hari dan banyak menghabiskan waktunya di pepohonan.
2. Habitat Surili di Hutan Jawa
Surili hidup di berbagai tipe hutan, mulai dari hutan primer, hutan sekunder, hingga kawasan tepi hutan. Satwa ini juga dapat ditemukan di sejumlah kawasan konservasi di Jawa Barat dan Jawa Tengah.
Salah satu habitat pentingnya adalah Taman Nasional Gunung Ciremai. Menurut pemerhati Primata Jawa Barat, Sigit Ibrahim, kawasan tersebut menjadi tempat berkembang biak surili dan pernah digunakan untuk pelepasliaran satwa yang menjalani rehabilitasi di pusat konservasi.
Sebagai satwa arboreal, surili banyak melakukan aktivitas di atas pepohonan. Mereka dapat berpindah dari satu pohon ke pohon lainnya dengan melompat atau bergerak menggunakan keempat anggota tubuhnya.
Keberadaan hutan yang terjaga sangat penting bagi kelangsungan hidup surili karena menyediakan makanan, tempat berlindung, serta ruang untuk berkembang biak.
3. Apa Makanan Surili?
Surili memiliki pola makan yang didominasi bahan nabati. Makanan utamanya meliputi daun muda, buah-buahan, bunga, biji-bijian, dan jamur.
Daun muda menjadi salah satu sumber makanan penting bagi primata ini. Karena itu, kelestarian vegetasi hutan sangat berpengaruh terhadap ketersediaan pakan dan kondisi populasi surili.
Berbeda dengan beberapa jenis monyet lain yang dapat memanfaatkan beragam sumber makanan, surili mempunyai kebutuhan pakan yang perlu diperhatikan secara khusus. Hal ini juga penting dalam proses rehabilitasi maupun perawatan bayi surili yang terpisah dari induknya.
4. Mengapa Surili Terancam Punah?
Surili termasuk satwa dengan status konservasi Endangered atau terancam punah menurut International Union for Conservation of Nature (IUCN).
Populasinya diperkirakan kurang dari 2.500 individu berdasarkan informasi yang dikutip detikEdu dari buku terbitan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN). Sebagian besar populasi yang tersisa berada di Jawa Barat.
Surili juga termasuk satwa yang dilindungi pemerintah Indonesia melalui Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor P.106/MENLHK/SETJEN/KUM.1/12/2018 tentang Jenis Tumbuhan dan Satwa yang Dilindungi.
Berbagai ancaman dapat memengaruhi kelangsungan hidup surili, termasuk kerusakan habitat, perubahan fungsi hutan, gangguan manusia, serta kebakaran hutan dan lahan.
Ketika hutan terbakar, satwa kehilangan tempat berlindung dan sumber makanan. Asap serta api juga dapat menyebabkan satwa terluka, mengalami gangguan pernapasan, atau terpisah dari kelompoknya.
5. Bayi Surili Membutuhkan Perawatan Khusus
Sigit Ibrahim menjelaskan bahwa bayi surili dengan bulu yang masih sangat putih kemungkinan berusia muda. Pada fase tersebut, bayi masih membutuhkan susu dari induknya dan kehangatan saat beristirahat.
Bayi surili yang terpisah dari induk dan kelompoknya memiliki risiko tinggi karena belum mampu hidup mandiri. Kondisinya dapat semakin memburuk apabila mengalami kekurangan asupan makanan atau menghirup asap kebakaran.
Menurut Sigit, apabila kelompok surili masih berada di sekitar lokasi, bayi tersebut sebaiknya dipertemukan kembali dengan kelompoknya. Namun, jika induk dan kelompoknya tidak ditemukan, bayi perlu mendapatkan penanganan khusus di pusat konservasi.
Pemberian makanan dan susu kepada bayi surili tidak boleh dilakukan sembarangan karena kebutuhan nutrisi dan cara perawatannya berbeda dari satwa dewasa.
6. Upaya Melindungi Surili dari Ancaman Kepunahan
Peristiwa kebakaran di Gunung Ciremai menunjukkan bahwa perlindungan habitat menjadi salah satu faktor penting dalam upaya konservasi surili.
Pencegahan kebakaran, pemulihan hutan yang rusak, pemantauan populasi, dan penanganan satwa yang terdampak perlu dilakukan secara berkelanjutan.
BRIN juga menekankan pentingnya studi jangka panjang mengenai populasi, persebaran, ekologi, dan ancaman terhadap surili. Penelitian tersebut diperlukan untuk mengetahui perkembangan populasi dan menentukan langkah konservasi yang tepat.
Masyarakat dapat ikut membantu dengan tidak melakukan pembakaran lahan sembarangan, melaporkan kebakaran kepada petugas, serta mendukung perlindungan kawasan hutan.
Melalui perlindungan habitat dan kerja sama berbagai pihak, kelangsungan hidup surili di alam liar diharapkan tetap terjaga sehingga primata endemik Jawa ini tidak semakin terancam kepunahan.
Sumber: detikEdu, “Mengenal Surili yang Terancam Punah, Ditemukan Lemas di Karhutla Gunung Ciremai”, 25 Oktober 2026.










