JAKARTA – Fosil kerangka dinosaurus yang dahulu dianggap sebagai Tyrannosaurus rex (T-Rex) muda kini menjadi salah satu fosil termahal yang pernah dilelang. Kerangka bernama Jodi tersebut terjual seharga 47,3 juta dolar AS atau sekitar Rp 792 miliar melalui balai lelang Sotheby’s di New York, Amerika Serikat.
Namun, fosil tersebut ternyata bukan T-Rex remaja. Hasil penelitian terbaru mengidentifikasinya sebagai Nanotyrannus lancensis, genus dinosaurus karnivora yang berbeda dari T-Rex.
Penjualan Jodi berlangsung pada Selasa (27/10/2026). Dalam proses lelang selama sekitar 12 menit, enam pihak bersaing untuk mendapatkan kerangka langka tersebut. Identitas pemenangnya belum diumumkan kepada publik.
Mengenal Jodi, Fosil Nanotyrannus yang Terjual Rp 792 Miliar
Jodi merupakan kerangka Nanotyrannus lancensis yang diperkirakan hidup pada periode Kapur Akhir, sekitar 67 juta tahun lalu.
Fosil ini memiliki tinggi sekitar 3 meter dan terdiri atas 191 elemen tulang. Bagian tengkoraknya juga terawetkan dengan sangat baik dan hampir lengkap.
Rumah lelang Sotheby’s menggambarkan Jodi sebagai kerangka yang siap dipamerkan. Spesimen ini termasuk sangat langka karena hanya ada tiga kerangka sejenis yang diketahui oleh dunia ilmu pengetahuan.
Penjualan Jodi juga menjadi lelang pertama untuk spesimen Nanotyrannus sejak keberadaan genus tersebut dikonfirmasi melalui penelitian ilmiah pada Oktober 2025.
Awalnya Dikira T-Rex yang Masih Remaja
Sebelum identitasnya diketahui, Jodi sempat dipamerkan sebagai T-Rex muda dalam pameran seni internasional Frieze Masters di London pada Oktober 2023.
Selama bertahun-tahun, keberadaan Nanotyrannus memang menjadi perdebatan di kalangan ahli paleontologi. Sebagian peneliti menganggap fosil yang memiliki ciri berbeda tersebut sebenarnya merupakan T-Rex yang belum mencapai usia dewasa.
Namun, penelitian yang dilakukan Lindsay Zanno dan James Napoli memberikan bukti bahwa Nanotyrannus merupakan genus tersendiri, bukan sekadar T-Rex remaja.
Salah satu perbedaannya terlihat dari bentuk tubuh. Nanotyrannus memiliki tubuh lebih kecil dan ramping dibandingkan T-Rex. Giginya juga memiliki bentuk menyerupai pisau yang membantu dinosaurus tersebut menyayat daging mangsanya.
Ahli paleontologi dari University of Portsmouth, Megan Jacobs, menjelaskan bahwa Nanotyrannus memiliki bentuk tubuh yang lebih ramping dan elegan dibandingkan T-Rex.
Keduanya diperkirakan hidup berdampingan di wilayah yang sama sekitar 67 juta tahun lalu.
Ditemukan di Montana, Amerika Serikat
Fosil Jodi ditemukan di lahan milik seorang peternak bernama Jodi Pierson di negara bagian Montana, Amerika Serikat.
Lokasi penemuannya berada di Formasi Hell Creek, kawasan geologi yang terkenal kaya akan fosil dinosaurus dari periode Kapur Akhir.
Proses penggalian dilakukan oleh ahli paleontologi komersial Clayton Phipps. Ia juga dikenal karena menemukan fosil yang dijuluki Dinosaurus yang Berduel, yang memperlihatkan sisa-sisa Nanotyrannus dan Triceratops dalam satu lokasi.
Penemuan tersebut menjadi salah satu bagian penting dalam penelitian mengenai keberadaan Nanotyrannus sebagai dinosaurus yang berbeda dari T-Rex.
Jodi Menjadi Fosil Dinosaurus Termahal Kedua
Harga jual Jodi mencapai 47,3 juta dolar AS atau sekitar Rp 792 miliar. Nilai tersebut menjadikannya fosil dinosaurus termahal kedua yang pernah terjual melalui lelang.
Rekor pertama masih dipegang fosil T-Rex bernama Gus yang terjual pada Juli 2026 seharga 50,1 juta dolar AS.
Sementara itu, posisi berikutnya ditempati fosil Stegosaurus bernama Apex yang terjual pada Juli 2024 dengan harga 44,6 juta dolar AS.
Berikut perbandingan tiga fosil dinosaurus dengan harga lelang tertinggi yang disebut dalam laporan tersebut:
| Nama fosil | Jenis dinosaurus | Harga lelang |
|---|---|---|
| Gus | Tyrannosaurus rex | US$ 50,1 juta |
| Jodi | Nanotyrannus lancensis | US$ 47,3 juta |
| Apex | Stegosaurus | US$ 44,6 juta |
Harga tersebut menunjukkan tingginya minat kolektor terhadap fosil dinosaurus langka, khususnya spesimen yang memiliki nilai ilmiah dan kondisi pengawetan yang baik.
Ilmuwan Menyesalkan Fosil Langka Dijual kepada Kolektor
Meski menjadi salah satu penjualan fosil terbesar dalam sejarah, lelang Jodi menuai kekhawatiran dari kalangan ilmuwan.
Sejumlah ahli paleontologi menilai fosil yang memiliki nilai ilmiah tinggi sebaiknya disimpan di museum atau lembaga penelitian agar dapat dipelajari secara terbuka.
Profesor Steve Brusatte dari University of Edinburgh menyampaikan kekecewaannya atas penjualan Jodi. Ia khawatir kerangka tersebut justru berakhir di ruang penyimpanan kolektor pribadi dan tidak dapat diakses oleh masyarakat maupun peneliti.
Menurutnya, fosil penting seperti Jodi seharusnya dapat dipamerkan di museum sehingga anak-anak, keluarga, dan masyarakat luas bisa melihat serta mempelajarinya.
Kekhawatiran tersebut muncul karena kepemilikan pribadi berpotensi membatasi akses ilmuwan terhadap spesimen yang diperlukan untuk penelitian lebih lanjut.
Mengapa Penjualan Fosil Dinosaurus Menjadi Perdebatan?
Perdagangan fosil dinosaurus menjadi perdebatan karena terdapat dua kepentingan yang perlu diperhatikan.
Di satu sisi, penggalian dan persiapan fosil membutuhkan biaya, waktu, serta tenaga yang tidak sedikit. Penjualan melalui lelang dapat memberikan keuntungan kepada pihak yang menemukan dan mempersiapkan spesimen tersebut.
Di sisi lain, fosil merupakan sumber informasi penting untuk memahami kehidupan pada masa prasejarah. Jika spesimen langka hanya disimpan oleh kolektor pribadi, akses untuk penelitian dan pendidikan masyarakat bisa menjadi terbatas.
Karena itu, penjualan Jodi kembali memunculkan pertanyaan mengenai bagaimana fosil bernilai ilmiah tinggi sebaiknya dikelola agar kepentingan kolektor, penelitian, dan akses publik dapat dipertimbangkan secara seimbang.









