JAKARTA – Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu’ti ternyata memiliki perjalanan pendidikan yang penuh perjuangan sejak masih duduk di bangku sekolah. Salah satu kenangan yang masih diingat gurunya adalah kebiasaan Mu’ti bersepeda sejauh 10–15 kilometer untuk berangkat ke sekolah.
Kisah tersebut diceritakan oleh Firdaus, guru olahraga Abdul Mu’ti saat menempuh pendidikan di MAN 1 Kudus, Jawa Tengah. Bersama Lilik Puspita, guru matematika Mu’ti, Firdaus mengenang sosok mantan muridnya yang kini menjadi Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah.
Keduanya menceritakan kenangan tersebut setelah bertemu kembali dengan Abdul Mu’ti dalam acara Peluncuran Bulan Guru Nasional 2026 di SMP Negeri 216 Jakarta, Jumat (30/10/2026).
Abdul Mu’ti Dulu Bersepeda 10–15 Km ke Sekolah
Firdaus mengungkapkan, Abdul Mu’ti dikenal sebagai siswa sederhana yang setiap hari berangkat ke sekolah menggunakan sepeda.
Jarak rumah Mu’ti menuju MAN 1 Kudus diperkirakan mencapai 10–15 kilometer. Menurut Firdaus, perjalanan tersebut cukup jauh, terlebih Mu’ti saat itu memiliki postur tubuh yang lebih kecil dibandingkan teman-temannya.
Firdaus bahkan masih mengingat bagaimana Mu’ti mengayuh sepedanya untuk sampai ke sekolah.
Ia terkadang menggoda Mu’ti karena melihat cara muridnya mengendarai sepeda yang terlihat bergoyang saat menempuh perjalanan jauh.
Kenangan tersebut masih melekat dalam ingatan Firdaus hingga sekarang. Baginya, perjuangan Mu’ti untuk tetap bersekolah menunjukkan kesederhanaan dan semangat yang dimiliki sejak muda.
Dikenal Santun dan Menghormati Guru
Selain mengenang kebiasaan bersepeda, Lilik Puspita juga menceritakan karakter Abdul Mu’ti ketika masih menjadi siswanya di MAN 1 Kudus.
Menurut Lilik, Mu’ti merupakan murid yang santun dan selalu menghormati guru. Sikap tersebut tidak hanya ditunjukkan kepada guru yang mengajarnya, tetapi juga kepada seluruh tenaga pendidik di sekolah.
Di kelas, Mu’ti sebenarnya termasuk siswa yang mampu mengerjakan soal dengan baik. Namun, ia tidak selalu ingin tampil di depan kelas jika tidak diminta oleh guru.
Lilik mengungkapkan bahwa Mu’ti terkadang memilih diam karena tidak ingin dianggap sombong oleh teman-temannya.
Meskipun tidak selalu menonjol di depan kelas, hasil pekerjaan Mu’ti sering kali benar ketika diberikan soal oleh guru.
Firdaus dan Lilik Bangga Abdul Mu’ti Menjadi Menteri
Kabar pengangkatan Abdul Mu’ti sebagai Mendikdasmen menjadi momen emosional bagi Firdaus dan Lilik.
Firdaus mengaku ikut menangis ketika mengetahui mantan muridnya dipercaya menjadi menteri. Ia merasa bangga melihat perjalanan Mu’ti yang dahulu bersekolah dengan sederhana hingga akhirnya mendapat amanah memimpin kementerian.
Setelah diangkat menjadi menteri, Abdul Mu’ti juga pernah kembali ke Kudus untuk mengumpulkan guru-guru dan teman-teman semasa sekolahnya.
Dalam kesempatan tersebut, Mu’ti menyampaikan terima kasih kepada para guru yang telah mendidiknya.
Menurut Firdaus dan Lilik, sikap tersebut menunjukkan bahwa Mu’ti tidak melupakan orang-orang yang pernah berjasa dalam perjalanan pendidikannya.
Abdul Mu’ti Tak Pernah Melupakan Guru-Gurunya
Firdaus juga mengenang bagaimana Abdul Mu’ti selalu berusaha bertemu dengan guru-gurunya ketika memiliki kesempatan.
Salah satu contohnya terjadi saat perayaan ulang tahun sekolah di MAN 1 Kudus. Mu’ti menyampaikan keinginan untuk hadir dengan syarat para guru yang pernah mengajarnya turut diundang.
Bahkan, ia masih mengingat nama guru-gurunya satu per satu.
Bagi Firdaus, sikap tersebut menjadi bukti bahwa mantan muridnya tetap menghargai jasa para pendidik meskipun kini telah menduduki jabatan penting di pemerintahan.
Harapan Guru untuk Abdul Mu’ti sebagai Mendikdasmen
Firdaus berharap Abdul Mu’ti dapat terus menjalankan amanah sebagai Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah dengan baik.
Ia juga berharap berbagai program pendidikan yang dijalankan pemerintah dapat tercapai dan membawa perubahan positif bagi guru maupun peserta didik di Indonesia.
Secara khusus, Firdaus berpesan agar Abdul Mu’ti tetap menjadi pribadi yang sederhana, amanah, dan membumi seperti yang dikenalnya sejak masih menjadi siswa.
Baginya, jabatan yang diemban saat ini tidak seharusnya mengubah karakter baik yang telah dimiliki sejak dahulu.
Kisah perjalanan Abdul Mu’ti menjadi pengingat bahwa keberhasilan seseorang tidak terlepas dari perjuangan, ketekunan belajar, serta peran guru yang mendampingi perjalanan pendidikan sejak awal.









