JAKARTA – Ekliptika: Jurnal Inovasi Teknologi Berkelanjutan melakukan evaluasi menyeluruh terhadap sistem penerbitannya setelah muncul kasus pencatutan nama sejumlah akademisi dalam artikel ilmiah yang diterbitkan pada edisi Juli 2026.
Jurnal yang berada di bawah Universitas Nahdlatul Ulama (UNU) Pasuruan tersebut memutuskan menghentikan sementara penerimaan naskah baru atau melakukan moratorium. Kebijakan ini berlaku mulai Kamis, 29 Oktober 2026.
Langkah tersebut diambil setelah jurnal menarik sepenuhnya artikel ilmiah yang mencantumkan nama profesor asal Jerman, guru besar Universitas Indonesia (UI), dan guru besar Universitas Gadjah Mada (UGM) tanpa persetujuan mereka.
Jurnal Ekliptika Hentikan Sementara Penerimaan Naskah
Dalam pengumuman yang ditujukan kepada penulis, peninjau, dan pembaca, Dewan Redaksi Ekliptika menyampaikan bahwa pihaknya sedang melakukan evaluasi komprehensif dan tinjauan internal.
Keputusan tersebut diambil untuk menjaga integritas akademik, kualitas publikasi, serta kepatuhan terhadap standar etika penerbitan ilmiah.
Ada tiga langkah utama yang diumumkan oleh pihak jurnal.
Pertama, pengiriman naskah baru melalui sistem penerbitan dihentikan sementara mulai 29 Oktober 2026.
Kedua, manuskrip yang telah dikirimkan sebelum tanggal tersebut tetap diproses secara bertahap. Namun, prosesnya akan dilakukan dengan pengawasan lebih ketat dan verifikasi tambahan untuk memastikan kepatuhan terhadap standar etika.
Ketiga, pihak jurnal melakukan inspeksi dan evaluasi terhadap seluruh alur kerja, keamanan platform, serta aktivitas terkait penerbitan untuk mengidentifikasi kemungkinan gangguan eksternal yang dapat memengaruhi integritas publikasi.
Melalui kebijakan tersebut, Ekliptika menyatakan ingin melindungi reputasi jurnal, hak penulis, dan kepercayaan komunitas akademik.
Artikel Ilmiah yang Dipersoalkan Sudah Ditarik Sepenuhnya
Kasus ini bermula dari penerbitan artikel berjudul Kolinearitas dan Regularisasi pada Model Layanan Publik Digital: Simulasi dalam Konteks Green Government.
Artikel tersebut diterbitkan dalam Ekliptika: Jurnal Inovasi Teknologi Berkelanjutan, Volume 7 Nomor 1, edisi Juli 2026, halaman 17–30.
Publikasi tersebut menjadi sorotan setelah Profesor Ines Mergel dari University of Konstanz, Jerman, mengungkapkan bahwa namanya dicantumkan sebagai penulis tanpa sepengetahuan maupun persetujuannya.
Setelah muncul keberatan dari sejumlah akademisi, Dewan Editor Ekliptika akhirnya memutuskan menarik artikel tersebut secara penuh.
Dalam pemberitahuan penarikan yang diperbarui pada 29 Oktober 2026, jurnal mengakui bahwa pencantuman sejumlah nama tanpa persetujuan tidak memenuhi persyaratan otorisasi kepenulisan yang semestinya.
Profesor Jerman hingga Guru Besar UI dan UGM Mengaku Namanya Dicatut
Selain Ines Mergel, dua akademisi Indonesia juga menyatakan tidak pernah terlibat dalam penulisan artikel tersebut.
Mereka adalah Rini Rachmawati, Guru Besar Fakultas Geografi UGM, dan Yudho Giri Sucahyo, Guru Besar Fakultas Ilmu Komputer UI.
Rini menegaskan bahwa pencantuman namanya dalam artikel tersebut tidak pernah didahului pemberitahuan, permohonan, maupun persetujuan darinya.
Ia juga memastikan tidak pernah ikut menulis artikel tersebut sebagai penulis pendamping atau co-author.
Sementara itu, Yudho Giri Sucahyo menyatakan tidak mengetahui namanya tercantum dalam publikasi tersebut. Ia juga berencana menyampaikan keberatan melalui jalur resmi.
Adapun Ines Mergel mengaku baru mengetahui pencatutan namanya setelah menerima notifikasi Google Scholar yang memintanya menambahkan artikel tersebut ke daftar publikasi akademiknya.
Lima Nama Tercantum dalam Artikel yang Dipersoalkan
Berdasarkan salinan artikel yang diperoleh detikEdu, terdapat lima nama yang tercantum sebagai penulis, yaitu:
- Muhammad Khafid Ainul Yaqin dari Universitas Yudharta Pasuruan.
- Ines Mergel dari University of Konstanz, Jerman.
- Rini Rachmawati dari Universitas Gadjah Mada.
- Yudho Giri Sucahyo dari Universitas Indonesia.
- Marijn Janssen, profesor bidang ICT dan Governance dari Delft University of Technology, Belanda.
Dalam catatan penerbitan, artikel tersebut diterima redaksi pada 5 Mei 2026, direvisi pada 1 Juni 2026, dan disetujui untuk diterbitkan pada 7 Juli 2026.
Nama Muhammad Khafid Ainul Yaqin tercantum sebagai penulis korespondensi atau corresponding author.
Kronologi Penarikan Artikel dari Jurnal
Setelah mengetahui namanya dicantumkan tanpa izin, Ines Mergel menghubungi penulis korespondensi melalui email dan meminta agar namanya dihapus.
Namun, menurut keterangan Mergel, jawaban awal yang diterimanya justru menyebut bahwa penulis korespondensi tidak ingat pernah menulis artikel tersebut dan merasa topiknya berada di luar bidang keahliannya.
Belakangan, Mergel menyampaikan bahwa ia menerima email permintaan maaf dari penulis korespondensi dan editor jurnal.
Pada tahap awal, pihak jurnal sempat mengubah daftar penulis dengan menghapus nama-nama penulis pendamping. Namun, langkah tersebut dipersoalkan Mergel karena berpotensi menimbulkan kesan bahwa para akademisi tersebut secara sukarela mengundurkan diri dari kepenulisan.
Setelah melalui proses tersebut, Dewan Editor Ekliptika akhirnya memutuskan menarik artikel secara penuh.
Dalam pemberitahuan resminya, jurnal menyatakan bahwa informasi kepenulisan yang diterbitkan tidak secara akurat mencerminkan keterlibatan ilmiah semua individu yang namanya tercantum.
Evaluasi Sistem untuk Menjaga Integritas Publikasi Ilmiah
Penghentian sementara penerimaan naskah baru menjadi langkah Ekliptika untuk mengevaluasi proses penerbitan setelah kasus tersebut mencuat.
Evaluasi mencakup alur kerja editorial, keamanan platform, dan aktivitas yang berkaitan dengan penerbitan jurnal.
Sementara itu, naskah yang sudah masuk sebelum moratorium tetap akan diproses dengan pemeriksaan tambahan.
Kasus ini menjadi pengingat penting bagi pengelola jurnal ilmiah mengenai perlunya verifikasi identitas dan persetujuan setiap penulis sebelum sebuah artikel diterbitkan.
Dalam publikasi akademik, pencantuman nama sebagai penulis harus mencerminkan kontribusi ilmiah yang sebenarnya dan memperoleh persetujuan dari pihak yang bersangkutan.
Dengan evaluasi tersebut, Ekliptika diharapkan dapat memperbaiki sistem penerbitannya serta menjaga kepercayaan penulis, peninjau, dan komunitas akademik.









