JAKARTA – Pola asuh orang tua memiliki peran penting dalam membentuk perkembangan mental dan perilaku anak. Kebiasaan sederhana di rumah, seperti memberikan pujian, menetapkan aturan, hingga mengawasi aktivitas anak, ternyata dapat memberikan pengaruh terhadap kondisi emosional mereka.
Sebuah penelitian terbaru yang diterbitkan dalam jurnal PLOS One pada 30 September 2026 mengungkap bahwa pola asuh yang kurang memberikan pengawasan serta penerapan disiplin yang tidak konsisten berkaitan dengan meningkatnya masalah emosional dan perilaku anak.
Penelitian tersebut dipimpin oleh Xiaoye Xu, psikolog dari SUNY Cortland, bersama Santiago Morales dari University of Southern California. Studi ini menganalisis pola pengasuhan keluarga dan kaitannya dengan perilaku anak.
Penelitian Melibatkan 2.752 Anak Berusia 5–18 Tahun
Dalam penelitian berjudul Parenting Profiles and Dimensions in Relation to Children’s Internalizing and Externalizing Behaviors in the ECHO Program, peneliti melibatkan 2.752 anak berusia 5 hingga 18 tahun.
Para peserta berasal dari 18 negara bagian di Amerika Serikat dan Puerto Rico. Data penelitian diperoleh melalui program Environmental Influences on Child Health Outcomes (ECHO), yang memuat penelitian jangka panjang mengenai kesehatan dan perkembangan anak.
Selain mengumpulkan data anak, peneliti juga meminta orang tua mengisi dua jenis survei.
Survei pertama berisi sembilan pertanyaan mengenai kebiasaan pengasuhan sehari-hari, meliputi:
- Kehangatan orang tua, seperti memberikan pujian dan perhatian.
- Disiplin yang tidak konsisten, misalnya mengancam memberikan hukuman tetapi tidak benar-benar melaksanakannya.
- Pengawasan terhadap aktivitas dan perilaku anak.
Survei kedua menggunakan daftar periksa berisi 113 pertanyaan untuk mengidentifikasi berbagai perilaku anak, termasuk masalah emosional dan perilaku yang terlihat dari luar.
Peneliti Menemukan Tiga Pola Pengasuhan Orang Tua
Berdasarkan hasil analisis, peneliti menemukan tiga kelompok pola pengasuhan yang berbeda.
1. Pola asuh hangat dan pengawasan tinggi
Sekitar 60 persen orang tua berada dalam kelompok ini. Mereka memberikan perhatian, kehangatan, serta melakukan pengawasan terhadap aktivitas anak.
Anak-anak yang tumbuh dalam pola pengasuhan tersebut menunjukkan tingkat masalah emosional dan perilaku yang lebih rendah dibandingkan kelompok lainnya.
2. Pola asuh dengan kehangatan dan pengawasan lebih rendah
Sekitar 38 persen orang tua termasuk dalam kelompok ini. Tingkat kehangatan dan pengawasan mereka cenderung lebih rendah dibandingkan kelompok pertama.
Anak-anak dalam kelompok ini menunjukkan lebih banyak masalah emosional maupun perilaku dibandingkan anak yang mendapatkan pengasuhan hangat dan pengawasan tinggi.
3. Pola asuh hangat tetapi pengawasan sangat rendah
Sekitar dua persen orang tua masuk dalam kelompok ini. Mereka tetap memberikan kehangatan kepada anak, tetapi memiliki tingkat pengawasan paling rendah.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa anak-anak dalam kelompok ini memiliki skor masalah yang lebih tinggi dibandingkan kelompok lainnya.
Temuan tersebut memperlihatkan bahwa kasih sayang perlu diimbangi dengan perhatian dan pengawasan terhadap aktivitas anak.
Kurangnya Pengawasan Bisa Berkaitan dengan Masalah Perilaku Anak
Salah satu temuan penting dalam penelitian ini adalah peran pengawasan orang tua terhadap perkembangan perilaku anak.
Peneliti menemukan bahwa pengawasan menjadi salah satu faktor yang membedakan kelompok anak dengan tingkat masalah perilaku lebih rendah dan lebih tinggi.
Pengawasan bukan berarti orang tua harus mengontrol seluruh kehidupan anak. Namun, orang tua perlu mengetahui aktivitas, lingkungan pergaulan, serta kebiasaan anak sehari-hari.
Ketika anak mendapatkan perhatian dan pendampingan yang cukup, orang tua juga memiliki kesempatan lebih besar untuk mengetahui perubahan perilaku atau kesulitan yang sedang dihadapi anak.
Sebaliknya, kurangnya pengawasan berkaitan dengan meningkatnya masalah perilaku yang terlihat dari luar, seperti melanggar aturan dan perilaku agresif.
Jangan Biasakan Mengancam Hukuman tetapi Tidak Melaksanakannya
Selain pengawasan yang rendah, penelitian tersebut juga menyoroti kebiasaan orang tua dalam menerapkan disiplin yang tidak konsisten.
Contohnya, orang tua mengancam akan memberikan hukuman ketika anak melakukan kesalahan, tetapi ancaman tersebut tidak pernah benar-benar dilaksanakan.
Kebiasaan seperti ini dapat membuat anak kesulitan memahami batasan dan konsekuensi dari perilakunya.
Peneliti menemukan bahwa pola disiplin yang tidak konsisten berkaitan dengan lebih banyak masalah internal maupun eksternal pada anak.
Masalah internal dapat berupa perasaan sedih, kecemasan, atau kecenderungan menarik diri dari lingkungan. Sementara itu, masalah eksternal dapat terlihat melalui perilaku melanggar aturan dan tindakan agresif.
Karena itu, orang tua perlu menerapkan aturan yang jelas dan konsisten. Konsekuensi yang diberikan juga sebaiknya sesuai dengan usia serta perilaku anak.
Kasih Sayang Harus Diimbangi dengan Perhatian
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pola asuh yang mendukung perkembangan anak bukan hanya tentang seberapa sering orang tua memberikan pujian atau menunjukkan kasih sayang.
Kehangatan perlu disertai keterlibatan orang tua dalam kehidupan sehari-hari anak.
Beberapa kebiasaan yang dapat diterapkan di rumah antara lain:
- Luangkan waktu bersama anak. Ajak anak berbicara mengenai kegiatan dan pengalaman yang mereka alami setiap hari.
- Ketahui aktivitas anak. Orang tua perlu memahami lingkungan pergaulan, kegiatan sekolah, dan kebiasaan anak.
- Buat aturan yang jelas. Sampaikan batasan dengan bahasa yang mudah dipahami sesuai usia anak.
- Terapkan disiplin secara konsisten. Hindari memberikan ancaman hukuman yang tidak pernah dilaksanakan.
- Berikan pujian dan dukungan. Apresiasi usaha anak, bukan hanya hasil yang mereka capai.
- Dengarkan perasaan anak. Berikan kesempatan kepada anak untuk mengungkapkan kesedihan, ketakutan, maupun pendapatnya.
Dengan kebiasaan tersebut, orang tua dapat membangun hubungan yang lebih terbuka sekaligus membantu anak memahami aturan dan tanggung jawab.
Pola Asuh Orang Tua Berpengaruh terhadap Perkembangan Mental Anak
Penelitian ini menjadi pengingat bahwa kebiasaan pengasuhan sehari-hari dapat berkaitan dengan perkembangan emosional dan perilaku anak dalam jangka panjang.
Namun, peneliti juga mengingatkan bahwa penelitian tersebut mengamati kondisi keluarga pada satu titik waktu tertentu. Karena itu, hasilnya tidak dapat langsung membuktikan bahwa pola asuh tertentu menjadi penyebab tunggal munculnya masalah pada anak.
Temperamen anak dan hubungan timbal balik antara orang tua dengan anak juga dapat memengaruhi hasil pengamatan.
Dengan demikian, orang tua tidak perlu merasa bersalah ketika menemukan kekurangan dalam pola pengasuhan. Hal yang lebih penting adalah terus belajar, memperbaiki komunikasi, memberikan perhatian, serta menerapkan aturan yang konsisten.
Pola asuh yang hangat, disertai pengawasan dan disiplin yang tepat, dapat menjadi salah satu fondasi penting untuk mendukung perkembangan mental dan perilaku anak.









