BALI – Indonesia menjadi tuan rumah penyelenggaraan QS Higher Ed Summit: Asia Pacific 2026 untuk pertama kalinya. Forum pendidikan tinggi tingkat internasional tersebut berlangsung pada 3–5 November 2026 di Bali International Convention Centre, Nusa Dua, Bali.
Kegiatan ini mempertemukan lebih dari 1.000 pemimpin perguruan tinggi, akademisi, praktisi industri, serta pemangku kebijakan dari berbagai negara. Mereka berkumpul untuk membahas perkembangan, tantangan, dan peluang pendidikan tinggi di kawasan Asia Pasifik.
QS Higher Ed Summit: Asia Pacific 2026 diselenggarakan oleh QS Quacquarelli Symonds, perusahaan global yang bergerak di bidang analisis dan pemeringkatan pendidikan tinggi. BINUS University menjadi tuan rumah, dengan Universitas Padjadjaran (Unpad) dan The Education University of Hong Kong sebagai co-host.
Mengusung Tema Advancing Education for Purpose and Impact
Pada penyelenggaraan tahun ini, QS Higher Ed Summit mengangkat tema “Advancing Education for Purpose and Impact”.
Tema tersebut menekankan pentingnya pendidikan tinggi yang tidak hanya berorientasi pada pencapaian akademik, tetapi juga mampu memberikan dampak nyata bagi masyarakat, dunia kerja, dan pembangunan ekonomi.
Sejumlah isu strategis menjadi perhatian dalam forum ini, mulai dari internasionalisasi pendidikan, kesiapan tenaga kerja masa depan, penguatan riset, inovasi teknologi, kecerdasan buatan (AI), hingga kolaborasi lintas negara.
Melalui diskusi dan pertukaran gagasan, para peserta diharapkan dapat membangun kemitraan yang mendukung peningkatan kualitas perguruan tinggi serta memperluas kontribusi pendidikan tinggi di tingkat global.
Lebih dari 1.000 Pemimpin Pendidikan Tinggi Hadir di Bali
Kehadiran lebih dari 1.000 delegasi menjadikan QS Higher Ed Summit: Asia Pacific 2026 sebagai salah satu forum penting bagi komunitas pendidikan tinggi di kawasan tersebut.
Para peserta berasal dari berbagai institusi pendidikan, pemerintahan, dan sektor industri. Mereka memiliki kesempatan untuk bertukar pengalaman, memperluas jaringan internasional, serta membahas strategi menghadapi perubahan kebutuhan pendidikan dan dunia kerja.
CEO QS Quacquarelli Symonds, Jessica Turner, turut menjadi salah satu pembicara dalam forum tersebut. Ia menyoroti potensi universitas di kawasan ASEAN untuk meningkatkan visibilitas global dan menyelaraskan kompetensi lulusan dengan kebutuhan lapangan kerja.
Forum ini juga diharapkan dapat memperkuat kerja sama antarlembaga pendidikan, membuka peluang bagi mahasiswa dan peneliti, serta mendorong pengembangan riset dan inovasi.
Sejumlah Tokoh Pendidikan Hadir sebagai Pembicara
QS Higher Ed Summit: Asia Pacific 2026 menghadirkan sejumlah tokoh pendidikan dan pemimpin perguruan tinggi dari Indonesia maupun luar negeri.
Beberapa nama yang tercantum dalam jajaran pembicara antara lain:
- Brian Yuliarto, Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Republik Indonesia.
- Atip Latipulhayat, Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah.
- Jessica Turner, CEO QS Quacquarelli Symonds.
- Stephen Wahyudi Santoso, President BINUS Higher Education.
- Arief Sjamsulaksan Kartasasmita, Rektor Universitas Padjadjaran.
- Lily Kong, President Singapore Management University.
- Chetwyn Chan, Vice President Research and Development The Education University of Hong Kong.
- Ben Sowter, Senior Vice President QS.
Kehadiran para pemimpin tersebut diharapkan memperkaya diskusi mengenai pengembangan pendidikan tinggi, kolaborasi akademik, serta peningkatan daya saing perguruan tinggi di tingkat internasional.
Indonesia Perkuat Posisi dalam Pendidikan Tinggi Global
Penyelenggaraan QS Higher Ed Summit di Indonesia juga menjadi kesempatan untuk memperkenalkan perkembangan pendidikan tinggi nasional kepada komunitas internasional.
BINUS University menyebutkan bahwa dalam rentang 2016–2026, jumlah perguruan tinggi Indonesia yang masuk dalam 250 besar QS World University Rankings meningkat dari belum ada menjadi dua perguruan tinggi.
Perkembangan tersebut menjadi salah satu gambaran meningkatnya kehadiran institusi pendidikan tinggi Indonesia dalam pemeringkatan global.
Meski demikian, peningkatan daya saing perguruan tinggi tidak hanya ditentukan oleh peringkat. Penguatan kualitas pembelajaran, produktivitas riset, relevansi kompetensi lulusan, serta kontribusi terhadap masyarakat juga menjadi aspek penting.
Melalui QS Higher Ed Summit: Asia Pacific 2026, Indonesia diharapkan dapat memperluas jejaring internasional dan mengambil peran lebih besar dalam membentuk arah pendidikan tinggi di kawasan Asia Pasifik.








