Seorang guru SMK Telkom Purwokerto, Agus Prianto, berhasil menghadirkan inovasi pembelajaran bernama PORTENET STEM (Portable Network Teaching Kit) untuk memberikan pengalaman praktik jaringan komputer yang lebih merata kepada seluruh siswa.
Inovasi ini dikembangkan karena keterbatasan fasilitas praktik, banyaknya jumlah siswa, serta kebutuhan memindahkan peralatan antarruang kelas. Sebelumnya, pengalaman praktik lebih banyak dinikmati oleh siswa yang mengikuti pelatihan Lomba Kompetensi Siswa (LKS).
Melalui PORTENET STEM, sebanyak 118 siswa kelas X jurusan Teknik Jaringan Komputer dan Telekomunikasi (TJKT) kini dapat mengikuti pembelajaran praktik secara langsung.
Menariknya, Agus memanfaatkan bahan-bahan bekas yang masih layak pakai, seperti:
- Papan kayu atau tripleks.
- Kabel fiber optik.
- Konektor jaringan.
Perangkat tersebut dirakit menjadi media praktik portabel yang mudah dibawa dan digunakan tanpa memerlukan persiapan rumit.
PORTENET STEM juga dilengkapi modul pembelajaran, lembar kerja peserta didik (LKPD), serta metode pembelajaran berbasis proyek dengan pendekatan STEM (Science, Technology, Engineering, and Mathematics).
Hasil Penerapan PORTENET STEM
Penerapan inovasi ini selama tiga kali pertemuan pada semester genap tahun ajaran 2025/2026 menunjukkan hasil positif.
Berikut capaian yang diperoleh:
87,98%
Capaian kompetensi setelah penerapan
99,15%
Ketuntasan belajar siswa
117/118
Siswa mencapai ketuntasan
78,36%
Penerimaan dan kebermanfaatan menurut survei siswa
Penilaian tiga guru pengamat mencapai rata-rata 83,33 persen dengan kategori sangat baik.
Sebelum penerapan PORTENET STEM, capaian kompetensi siswa tercatat sebesar 46 persen. Setelah inovasi diterapkan, angka tersebut meningkat menjadi 87,98 persen.
Agus menilai keberhasilan terbesar dari inovasi ini bukan hanya peningkatan angka kompetensi, melainkan perubahan peran siswa. Mereka yang sebelumnya hanya menjadi pengamat kini dapat terlibat langsung dalam proses praktik, bereksperimen, berdiskusi, dan memecahkan masalah.
Inovasi PORTENET STEM membuktikan bahwa pembelajaran bermakna dan menyenangkan tidak selalu membutuhkan fasilitas mahal. Kreativitas guru dalam memanfaatkan sumber daya yang tersedia dapat membuka kesempatan belajar yang lebih setara bagi seluruh siswa








