Pemerintahan Presiden Prabowo Subianto semakin mendorong pengembangan bidang STEM (Science, Technology, Engineering, and Mathematics) di tengah perkembangan kecerdasan buatan (AI). Fokus tersebut terlihat dari arah beasiswa LPDP, rencana pembangunan 10 kampus Universitas Republik Indonesia (URI), hingga rencana pembelajaran coding dan AI mulai tingkat SD pada 2027.
Kondisi ini memunculkan pertanyaan mengenai masa depan ilmu humaniora. Guru Besar FIB UI menilai humaniora tetap memiliki peran penting karena menjadi dasar untuk memahami aspek sosial, budaya, ekonomi, hingga dampak pembangunan terhadap masyarakat.
Prof Manneke Budiman mengatakan humaniora tidak perlu bersaing dengan STEM dari sisi jumlah, tetapi harus memperkuat kualitas dan kemampuannya beradaptasi dengan teknologi. Menurutnya, AI seharusnya menjadi alat bantu, bukan pengganti akal budi manusia.
Indonesia juga memiliki modal besar dalam pengembangan humaniora melalui kekayaan budaya. Karena itu, budaya tidak hanya perlu ditampilkan dalam festival, tetapi juga diintegrasikan dalam kebijakan dan pembangunan.
Untuk memperkuat posisi humaniora di era AI, para guru besar akan menggelar Simposium Nasional Guru Besar (SNGB) Humaniora di FIB UI pada 11–13 Agustus 2026. Forum ini akan membahas humaniora digital, budaya, kebijakan, kohesi sosial, hingga strategi pengembangan dan hilirisasi humaniora.









