Kudus, 2 Agustus 2026 — Digitalisasi pendidikan mulai memberikan pengalaman belajar yang lebih interaktif bagi murid berkebutuhan khusus di SLBN Purwosari Kudus. Para murid memanfaatkan Interactive Flat Panel (IFP) untuk menyimak video pembelajaran berbasis AI, membaca buku digital, menjawab pertanyaan, hingga menceritakan kembali isi bacaan.
Guru Kelas Tuli, Riska Widyanasari, mengatakan IFP membantu membuat pembelajaran lebih interaktif, bermakna, dan menyenangkan. Dalam pelajaran Pendidikan Pancasila, misalnya, video berbasis AI digunakan untuk membantu murid memahami dan mempraktikkan tata cara memberikan hormat kepada Bendera Merah Putih.
Menurut Riska, penggunaan media digital membuat murid lebih aktif, fokus, bersemangat, dan lebih mudah memahami materi. Namun, perbedaan kemampuan teknologi membuat sebagian murid tetap membutuhkan pendampingan secara bertahap.
Mendikdasmen Abdul Mu’ti menegaskan bahwa setiap anak, termasuk anak berkebutuhan khusus dan mereka yang berada di wilayah 3T, berhak memperoleh pendidikan yang berkualitas. Pemerintah juga terus memperkuat layanan pendidikan di SLB agar semakin banyak anak mendapatkan layanan sesuai kebutuhannya.
Digitalisasi pendidikan di SLBN Purwosari Kudus menunjukkan bahwa teknologi bukan sekadar perangkat pembelajaran, tetapi dapat menjadi sarana untuk menciptakan pendidikan yang lebih inklusif, bermakna, dan setara bagi setiap anak.









