Yogyakarta — Meski baru berusia 16 tahun, Qolby Kadya Rizky telah memulai perjalanan di perguruan tinggi. Gadis kelahiran Kebumen, 27 Juli 2010, tersebut tercatat sebagai mahasiswa baru termuda Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) tahun 2026.
Qolby diterima melalui jalur CBT Domisili pada Program Studi Pendidikan Bahasa Jerman, Fakultas Bahasa, Seni dan Budaya UNY.
Menjadi mahasiswa termuda bukanlah sesuatu yang sejak awal direncanakannya. Sebelum diterima di UNY, Qolby sempat mengalami beberapa kali penolakan dalam proses penerimaan mahasiswa baru.
Meski sempat ragu, keinginannya untuk melanjutkan pendidikan dan mempelajari bahasa Jerman membuatnya kembali mencoba.
“Awalnya ragu dan takut daftar karena tidak yakin bisa diterima. Alhamdulillahnya, semuanya dapat berjalan lancar walau hal itu tidak mudah,” ujar Qolby.
Tertarik Belajar Bahasa Jerman
Sebelumnya, Qolby sempat mempertimbangkan untuk kuliah di Politeknik Kesehatan. Namun, ketertarikannya terhadap bahasa Jerman membuatnya mencari program studi yang sesuai.
Ketika mengetahui UNY memiliki Program Studi Pendidikan Bahasa Jerman, keinginannya untuk mempelajari bahasa tersebut semakin kuat. Lokasi UNY yang relatif dekat dengan domisilinya juga menjadi pertimbangan memilih jalur CBT Domisili.
Dukungan Ibu Jadi Kekuatan
Perjalanan Qolby menuju perguruan tinggi tidak lepas dari dukungan sang ibu. Meski beberapa kali mengalami penolakan, ibunya terus memberikan semangat agar Qolby tidak menyerah.
“Yang paling mendukung itu ibu. Walaupun sudah ditolak beberapa kali, ibu tetap memberikan semangat,” ungkapnya.
Perjalanan pendidikan Qolby juga cukup beragam. Saat kelas satu SD, ia sempat tinggal dan bersekolah di Medan sebelum kembali ke Kebumen mengikuti pekerjaan orang tuanya.
Kini, Qolby memulai babak baru sebagai mahasiswa UNY di usia yang masih sangat muda. Kisahnya menjadi bukti bahwa keberanian mencoba kembali setelah mengalami kegagalan dapat membuka kesempatan baru untuk meraih cita-cita.









