Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menegaskan kesiapan Indonesia dalam mempersiapkan pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) pertama yang ditargetkan mulai beroperasi pada 2032.
Persiapan tersebut mencakup penguatan sumber daya manusia (SDM), pengembangan teknologi, riset nuklir, regulasi, serta infrastruktur keselamatan. Langkah ini menjadi bagian dari upaya pemerintah mendukung transisi energi bersih dan mencapai target Net Zero Emission pada 2060. Badan Riset dan Inovasi Nasional+1
Persiapan Pembangunan PLTN Pertama Indonesia
Kepala BRIN Arif Satria menekankan bahwa kesiapan tenaga ahli nuklir menjadi salah satu faktor penting dalam merealisasikan pembangunan PLTN.
Indonesia sebenarnya telah memiliki pengalaman dalam pengoperasian reaktor riset, seperti:
- Reaktor Triga Mark II di Bandung.
- Reaktor Kartini di Yogyakarta.
- Reaktor Serba Guna G.A. Siwabessy di Serpong.
Namun, pengalaman mengoperasikan reaktor riset belum otomatis berarti Indonesia siap menjalankan PLTN komersial. Masih diperlukan tenaga operator berlisensi, pengalaman konstruksi, kemampuan manajemen proyek, serta kesiapan perizinan. Badan Riset dan Inovasi Nasional+1
BRIN Petakan 27 Lokasi Potensial PLTN
BRIN telah memetakan sebanyak 27 lokasi potensial yang dapat dikembangkan menjadi lokasi pembangunan PLTN di berbagai wilayah Indonesia.
Penilaian lokasi mempertimbangkan beberapa aspek, antara lain:
- Kondisi geologi dan karakteristik wilayah.
- Kelayakan teknis pembangunan.
- Aspek ekonomi dan pembiayaan.
- Keselamatan lingkungan.
- Ketersediaan infrastruktur pendukung.
Namun, pemetaan tersebut belum berarti seluruh lokasi sudah ditetapkan sebagai lokasi pembangunan PLTN. Bisnis.com
PLN Targetkan Tender PLTN Dimulai 2027
Selain BRIN, PT PLN (Persero) juga menyiapkan tahapan pengadaan pembangunan PLTN.
Direktur Teknologi, Engineering, dan Keberlanjutan PLN Edwin Nugraha Putra menyampaikan bahwa proses tender atau penunjukan mitra pembangunan diupayakan dapat dimulai pada 2027.
PLN telah menyiapkan sejumlah dokumen pendukung, meliputi:
- Kajian awal kelayakan pembangunan atau preliminary feasibility study.
- Dokumen kualifikasi awal calon mitra.
- Request for Proposal (RFP).
- Skema perjanjian jual beli listrik atau Power Purchase Agreement (PPA).
PLN juga mendorong penyelesaian kajian lokasi potensial dan berharap penilaian kesiapan infrastruktur oleh Badan Energi Atom Internasional (IAEA) dapat dimulai pada kuartal I atau II 2027. Bisnis.com
Tantangan Pembangunan PLTN di Indonesia
Meskipun persiapan terus dilakukan, terdapat sejumlah tantangan yang perlu diselesaikan sebelum pembangunan dapat direalisasikan.
| Aspek | Tantangan |
|---|---|
| SDM | Menyiapkan operator dan tenaga ahli nuklir berlisensi |
| Regulasi | Memperkuat perizinan dan pengawasan |
| Teknologi | Memastikan teknologi memenuhi standar keselamatan |
| Investasi | Menentukan skema pembiayaan dan mitra pembangunan |
| Lokasi | Menetapkan tapak yang memenuhi persyaratan |
| Keselamatan | Menyiapkan pengelolaan limbah dan kedaruratan nuklir |
Badan Pengawas Tenaga Nuklir (Bapeten) juga menegaskan bahwa pembangunan PLTN harus memenuhi 19 aspek infrastruktur, termasuk kebijakan, kelembagaan, lokasi, teknologi, pembiayaan, SDM, dan kesiapsiagaan kedaruratan. ANTARA News
Target Kapasitas PLTN Indonesia hingga 2060
Target kapasitas pembangkit nuklir dalam Rencana Umum Ketenagalistrikan Nasional.
0 GW10 GW20 GW30 GW40 GW2032204020502060
Berdasarkan target dalam Rencana Umum Ketenagalistrikan Nasional (RUKN), kapasitas pembangkit nuklir Indonesia direncanakan meningkat secara bertahap hingga mencapai 35 GW pada 2060. Bisnis.com
Catatan penting: Target 2032 merupakan sasaran pemerintah, bukan kepastian bahwa PLTN sudah selesai dibangun. Bahkan, PLN menyebut proyek PLTN skala besar membutuhkan waktu pembangunan sekitar 15 tahun dan mempertimbangkan target operasi 2037 untuk proyek tersebut. Karena itu, tahapan realisasi dan target waktu masih menjadi hal penting untuk dicermati. Bisnis.com








