JAKARTA – Penemuan fosil hewan laut berusia sekitar 518 juta tahun di Provinsi Yunnan, China bagian barat daya, memberikan petunjuk baru mengenai asal-usul kelompok hewan yang mencakup bintang laut.
Fosil tersebut diberi nama Yujingia glutenotunica. Bentuk tubuhnya yang unik dan memiliki tentakel diduga memberikan gambaran berbeda tentang bagaimana nenek moyang kelompok hewan tersebut mencari makanan pada masa purba.
Penelitian mengenai fosil ini diterbitkan dalam jurnal ilmiah Current Biology pada 16 September 2026. Studi tersebut melibatkan peneliti dari Northwest University di China dan University of Cambridge.
Fosil Berusia 518 Juta Tahun Ditemukan di Yunnan
Fosil Yujingia glutenotunica ditemukan di wilayah barat daya China, tepatnya di Provinsi Yunnan. Kawasan tersebut dikenal memiliki endapan fosil dari periode Kambrium yang mampu mengawetkan organisme bertubuh lunak.
Fosil ini berasal dari masa ledakan Kambrium atau Cambrian Explosion, yaitu periode ketika berbagai kelompok hewan mulai muncul dan berkembang dalam catatan fosil sekitar 540 juta tahun lalu.
Temuan tersebut menjadi penting karena jaringan lunak hewan biasanya mudah membusuk setelah mati. Akibatnya, fosil yang ditemukan umumnya hanya mempertahankan bagian tubuh keras seperti cangkang atau kerangka.
Namun, kondisi geologi di lokasi penemuan memungkinkan sejumlah bagian tubuh lunak Yujingia ikut terawetkan.
Seperti Apa Bentuk Yujingia glutenotunica?
Yujingia glutenotunica memiliki ukuran yang relatif kecil. Panjang fosil yang diteliti berkisar antara 8 hingga 22 milimeter.
Hewan purba ini mempunyai bentuk tubuh memanjang menyerupai botol, dengan bagian bawah yang membulat. Di bagian atas tubuhnya terdapat tentakel yang menyebar.
Bentuknya mengingatkan para peneliti pada vas ritual tradisional China yang disebut yujingping. Kemiripan tersebut kemudian menjadi inspirasi pemberian nama genus Yujingia.
Selain struktur tubuh luar, fosil tersebut juga mempertahankan bagian internal seperti saluran pencernaan dan sejumlah jaringan tubuh lainnya.
Keberadaan struktur tersebut membantu para ilmuwan merekonstruksi bentuk tubuh serta kemungkinan cara hidup hewan purba ini.
Diduga Mencari Makanan Menggunakan Tentakel
Salah satu temuan paling menarik dari penelitian ini adalah dugaan bahwa Yujingia memperoleh makanan menggunakan tentakel.
Struktur tentakelnya diperkirakan membantu menangkap partikel makanan yang terbawa aliran air. Makanan kemudian diarahkan menuju mulut melalui bagian tubuh tertentu.
Temuan ini memberikan gambaran berbeda dari dugaan sebelumnya mengenai nenek moyang kelompok Ambulacraria.
Sebelumnya, sejumlah ilmuwan memperkirakan nenek moyang kelompok tersebut lebih menyerupai cacing yang hidup di dalam liang dasar laut dan memperoleh makanan dengan menyaring air melalui bagian tubuhnya.
Namun, fosil Yujingia menunjukkan kemungkinan bahwa nenek moyang bersama kelompok tersebut justru telah memiliki tentakel untuk mencari makanan.
Menurut Giovanni Mussini, salah satu penulis penelitian dari Departemen Ilmu Bumi University of Cambridge, fosil baru ini menunjukkan bahwa nenek moyang Ambulacraria mungkin makan menggunakan tentakel dan memiliki bentuk yang lebih menyerupai bintang laut beserta kerabatnya.
Apa Hubungan Yujingia dengan Bintang Laut?
Untuk memahami hubungan evolusinya, para peneliti menempatkan Yujingia dalam kelompok Ambulacraria.
Ambulacraria merupakan kelompok hewan deuterostoma yang mencakup dua kelompok utama, yaitu:
- Echinodermata, kelompok hewan yang mencakup bintang laut, bulu babi, dan lili laut.
- Hemichordata, kelompok hewan yang mencakup cacing acorn.
Kedua kelompok tersebut memiliki bentuk tubuh yang sangat berbeda. Bintang laut dewasa umumnya mempunyai simetri radial dengan lima bagian, sedangkan cacing acorn memiliki tubuh bilateral yang memanjang.
Fosil Yujingia memberikan petunjuk mengenai kemungkinan bentuk tubuh dan cara makan hewan yang hidup dekat dengan nenek moyang bersama kedua kelompok tersebut.
Meski demikian, para peneliti tidak menyebut Yujingia sebagai nenek moyang langsung bintang laut modern. Fosil ini lebih tepat dipahami sebagai kerabat purba yang membantu menjelaskan tahapan evolusi kelompok tersebut.
Peneliti Menganalisis 505 Karakter Tubuh
Untuk mengetahui posisi Yujingia dalam pohon evolusi, tim peneliti mengumpulkan data dari 505 karakter morfologi atau ciri bentuk dan struktur tubuh.
Data tersebut mencakup 100 kelompok hewan yang masih hidup maupun telah punah.
Selanjutnya, para peneliti menggunakan metode rekonstruksi filogenetik Bayesian untuk memperkirakan hubungan kekerabatan berdasarkan karakter anatomi yang ditemukan.
Hasil analisis menempatkan Yujingia dekat dengan nenek moyang terakhir Ambulacraria.
Temuan ini membantu ilmuwan memahami bagaimana kelompok hewan yang awalnya memiliki struktur tubuh tertentu kemudian berkembang menjadi berbagai bentuk yang berbeda, termasuk bintang laut dan cacing acorn.
Mengapa Penemuan Fosil Ini Penting?
Penemuan Yujingia glutenotunica memberikan tambahan bukti mengenai evolusi hewan laut pada periode Kambrium.
Fosil tersebut membantu para ilmuwan memahami bahwa nenek moyang kelompok bintang laut dan kerabatnya mungkin memiliki tentakel yang digunakan untuk memperoleh makanan.
Penelitian ini juga memberikan petunjuk mengenai bagaimana dua kelompok hewan yang masih berkerabat dapat berkembang dengan bentuk tubuh yang sangat berbeda selama ratusan juta tahun.
Meski begitu, masih banyak pertanyaan yang perlu dijawab. Para peneliti masih harus mempelajari lebih jauh bagaimana struktur tubuh kelompok Ambulacraria berubah hingga menghasilkan keragaman hewan laut yang dikenal saat ini.
Dengan adanya fosil berusia 518 juta tahun ini, ilmuwan memperoleh potongan penting untuk menyusun kembali sejarah evolusi salah satu kelompok hewan laut purba.









