Rembang — Di tengah perkembangan Kecerdasan Artifisial (KA) atau AI, kemampuan menggunakan teknologi saja dinilai belum cukup. Murid juga perlu memahami proses, logika, serta cara teknologi tersebut bekerja.
Hal inilah yang mendorong Anisa Rahmanti menghadirkan warisan budaya lokal ke dalam pembelajaran. Ia menggunakan Batik Tulis Lasem, termasuk motif Latohan dan Burung Hong, sebagai media untuk menghubungkan budaya dengan logika teknologi.
Batik tidak hanya diposisikan sebagai karya seni, tetapi juga menjadi laboratorium pembelajaran yang membantu murid memahami konsep secara lebih konkret. Melalui pendekatan tersebut, identitas budaya dipadukan dengan kemampuan berpikir kritis dan teknologi.
Pembelajaran ini menjadi contoh bahwa teknologi dan budaya dapat berjalan beriringan. Murid tidak hanya diarahkan menjadi pengguna teknologi, tetapi juga didorong untuk memahami, menciptakan, dan berpikir kritis terhadap teknologi.
Dengan membawa warisan lokal ke ruang kelas, guru dapat membantu menanamkan identitas budaya sekaligus mempersiapkan generasi yang mampu menjadi pencipta dan pengembang teknologi di masa depan.









