Jakarta, 21 Agustus 2026 — Kesulitan anak dalam menulis tidak selalu disebabkan oleh rasa malas. Anak yang menangis ketika diminta menulis, memiliki tulisan yang sulit dibaca, atau kesulitan menuangkan gagasan ke dalam tulisan bisa saja mengalami hambatan tertentu yang perlu dikenali dan ditangani dengan tepat.
Hal tersebut menjadi pembahasan dalam kegiatan bedah buku “Menulis Tanpa Menangis” yang digelar Pusat Perbukuan, Badan Kebijakan Pendidikan Dasar dan Menengah (BKPDM), Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen), di Perpustakaan Kemendikdasmen, Jakarta, Kamis (20/8/2026).
Buku tersebut mengajak guru dan orang tua untuk memahami berbagai penyebab anak mengalami kesulitan menulis sekaligus mengenali alternatif penanganannya.
Kepala Pusat Perbukuan Kemendikdasmen, Supriyatno, mengatakan buku tersebut relevan dengan kebutuhan pembelajaran saat ini. Terlebih, pemerintah berencana memberikan buku tulis kepada peserta didik, khususnya siswa kelas I dan II pada tahap awal.
“Buku ini sangat relevan, sekiranya bagaimana memanfaatkan buku dan memberikan pembelajaran bagi anak-anak kita, bagaimana mengajarkan cara menulis agar kemudian tidak menjadi beban bagi anak-anak kita,” ujar Supriyatno.
Kesulitan Menulis Bisa Dipengaruhi Banyak Faktor
Penulis buku “Menulis Tanpa Menangis”, Ossy, yang merupakan dosen Pendidikan Luar Biasa Universitas Negeri Makassar, bersama Dirham, guru Sekolah Khusus Negeri di Pandeglang, menjelaskan bahwa buku tersebut berangkat dari berbagai persoalan nyata yang ditemukan di lapangan.
Buku ini menghadirkan enam kasus anak dengan karakteristik kesulitan menulis yang berbeda. Tokohnya antara lain Ocis yang menangis setiap diminta menulis, Pinus yang menulis hingga menembus halaman, Rimba yang mengalami kesulitan dikte dan mengeja, Bora yang menulis terlalu besar dan keluar baris, Bulan yang kesulitan mengarang, serta Bromo yang sering melamun ketika menulis.
Ossy menjelaskan, kesulitan menulis dapat dipengaruhi berbagai faktor internal, seperti hambatan motorik, intelektual, perkembangan bahasa, fungsi eksekutif, disgrafia, disleksia, ADHD, autisme, maupun kebutuhan khusus lainnya.
Faktor lingkungan, termasuk peran guru dan orang tua, juga dapat memengaruhi kemampuan anak dalam belajar menulis. Hambatan tersebut dapat muncul sejak tahap pramenulis hingga kemampuan menulis lanjutan.
Bentuk kesulitan yang dialami anak pun beragam, mulai dari memegang pensil, menarik garis, menulis huruf dan kata, melakukan dikte, menyalin tulisan, hingga menuangkan gagasan dalam bentuk karangan.
Buku Disusun Berdasarkan Temuan di Lapangan
Buku “Menulis Tanpa Menangis” ditulis Ossy dan Dirham bersama tim Pusat Perbukuan Kemendikdasmen pada 2023. Penyusunannya berangkat dari survei kebutuhan yang menunjukkan masih banyak guru menghadapi tantangan dalam menangani kesulitan belajar peserta didik.
Para penulis melakukan observasi di sekolah dasar dan membagikan lembar kerja menulis pada beberapa jenjang. Temuan tersebut kemudian dipadukan dengan teori yang relevan dan disajikan dalam bentuk cerita fiksi agar lebih mudah dipahami.
Dirham mengatakan buku tersebut tidak hanya ditujukan bagi guru, tetapi juga orang tua dan masyarakat umum. Melalui penyajian dalam bentuk cerita, pembaca diharapkan lebih mudah memahami kasus, penyebab, serta alternatif penanganan kesulitan menulis pada anak.
Menulis Jadi Bagian Penting dalam Pembelajaran Mendalam
Kemampuan menulis juga memiliki peran penting dalam penerapan Pembelajaran Mendalam. Peserta didik tidak hanya diminta membaca dan menerima informasi, tetapi juga memahami, mengolah, serta menunjukkan pemahamannya melalui tulisan.
Salah satu bentuknya adalah meminta murid menuliskan kembali isi bacaan menggunakan bahasa sendiri. Dengan cara tersebut, kemampuan menulis dapat menjadi salah satu indikator untuk melihat sejauh mana peserta didik memahami materi yang dipelajari.
Supriyatno menegaskan bahwa menulis menjadi bagian penting dalam Pembelajaran Mendalam karena mendorong murid untuk aktif mengolah informasi dan menuangkan kembali pemahamannya.
Menulis Bukan Hukuman
Pesan utama buku “Menulis Tanpa Menangis” adalah bahwa menulis bukan hukuman dan seharusnya menjadi aktivitas yang menyenangkan bagi anak.
Karena itu, guru dan orang tua diharapkan tidak terburu-buru memberikan label malas ketika anak mengalami kesulitan menulis. Sebaliknya, penyebab kesulitan perlu dikenali agar pendampingan yang diberikan dapat sesuai dengan kebutuhan masing-masing anak.
Melalui pemahaman yang lebih baik, kegiatan menulis diharapkan dapat menjadi pengalaman belajar yang menyenangkan, sehingga anak dapat berkembang tanpa merasa tertekan atau takut ketika diminta menulis.
Selain itu, Kemendikdasmen juga mengajak masyarakat memanfaatkan koleksi buku pada Sistem Informasi Perbukuan Indonesia (SIBI) yang menyediakan buku teks dan nonteks pelajaran secara gratis. Buku-buku yang tersedia di platform tersebut telah melalui kriteria standar buku bermutu dan layak dibaca peserta didik dari berbagai jenjang.









