Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu’ti mengimbau orang tua, guru, dan masyarakat agar memahami hasil Tes Kemampuan Akademik (TKA) 2026 secara utuh dan bijak. Menurutnya, nilai TKA tidak seharusnya dijadikan label untuk menentukan masa depan seorang siswa.
TKA jenjang SMA/MA/SMK dan sederajat mulai dilaksanakan pada Senin, 26 Oktober 2026. Hasil asesmen tersebut dijadwalkan diumumkan pada 23 Desember 2026.
Abdul Mu’ti menegaskan bahwa hasil TKA dapat dimanfaatkan sebagai bahan refleksi dan dasar untuk meningkatkan kualitas pembelajaran. Karena itu, nilai yang diperoleh siswa sebaiknya tidak digunakan untuk memberikan stigma atau membandingkan kemampuan anak secara berlebihan.
1. Hasil TKA Bukan Label untuk Menentukan Masa Depan
Abdul Mu’ti meminta seluruh pihak melihat hasil TKA sesuai tujuan asesmen, yaitu memberikan informasi mengenai capaian akademik siswa.
Nilai TKA bukanlah gambaran mutlak mengenai potensi, kecerdasan, atau masa depan seseorang. Hasil tersebut perlu dipahami bersama berbagai faktor lain yang memengaruhi proses belajar siswa.
Siswa yang memperoleh nilai tinggi tetap perlu mengembangkan kemampuan dan pengetahuannya. Sementara itu, siswa yang mendapatkan nilai lebih rendah perlu memperoleh dukungan agar dapat memperbaiki bagian pembelajaran yang belum dikuasai.
Dengan pemahaman tersebut, hasil TKA diharapkan menjadi sarana evaluasi, bukan sumber tekanan bagi siswa maupun keluarga.
2. Guru Bisa Menggunakan Hasil TKA untuk Memperbaiki Pembelajaran
Kepala Pusat Asesmen Pendidikan Kemendikdasmen, Rahmawati, menjelaskan bahwa hasil TKA dapat membantu guru mengetahui tingkat capaian kompetensi mayoritas siswa di kelas.
Informasi tersebut dapat menjadi dasar untuk menyusun pembelajaran yang lebih sesuai dengan kebutuhan peserta didik atau differentiated learning.
Sebagai contoh, jika hasil asesmen menunjukkan hanya sebagian kecil siswa yang telah menguasai materi dengan baik, guru dapat merancang strategi pembelajaran untuk membantu siswa lain memahami konsep yang masih sulit.
Sebaliknya, siswa yang telah menguasai materi dapat diberikan kegiatan pengayaan agar kemampuan mereka terus berkembang.
Dengan cara ini, hasil TKA tidak berhenti sebagai angka dalam laporan, tetapi dapat digunakan untuk menentukan langkah perbaikan pembelajaran secara lebih terarah.
3. Hasil TKA Bisa Menjadi Asesmen Awal di Jenjang Berikutnya
Selain bermanfaat bagi guru di sekolah asal, hasil TKA juga berpotensi digunakan sebagai informasi awal oleh satuan pendidikan pada jenjang berikutnya.
Hasil TKA siswa SD dapat membantu guru SMP memahami gambaran kemampuan akademik siswa baru. Hal serupa dapat diterapkan ketika siswa berpindah dari SMP ke SMA atau SMK.
Perguruan tinggi juga dapat memanfaatkan informasi hasil TKA siswa SMA/SMK sesuai kebijakan penerimaan mahasiswa yang berlaku.
Informasi tersebut dapat membantu pendidik mengenali kebutuhan belajar peserta didik sejak awal sehingga pendampingan dan strategi pembelajaran dapat disesuaikan.
Namun, penggunaan hasil TKA tetap perlu mengikuti ketentuan yang berlaku untuk setiap jenjang pendidikan dan jalur seleksi.
4. Nilai TKA SMA 2026 Menggunakan Rentang 200–800
Berdasarkan Keputusan Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Nomor 56 Tahun 2026 tentang Pedoman Penyelenggaraan TKA dan Asesmen Nasional, hasil TKA jenjang SMA/MA/sederajat dan SMK/MAK dilaporkan menggunakan rentang skor 200 hingga 800, dengan dua angka di belakang koma.
Dalam ketentuan tersebut, peserta yang memperoleh nilai 725,00 atau lebih pada masing-masing mata uji masuk kategori predikat istimewa.
Rentang skor ini digunakan untuk menyajikan perbedaan capaian kemampuan siswa secara lebih terperinci. Karena itu, nilai TKA tidak sebaiknya dibandingkan secara langsung dengan nilai ujian sekolah yang menggunakan sistem penilaian berbeda.
Perbedaan skala penilaian juga perlu dipahami agar orang tua dan siswa tidak salah menafsirkan arti angka yang tercantum dalam hasil asesmen.
5. TKA Menggunakan Metode IRT 2PL
TKA 2026 menggunakan metode pengukuran Item Response Theory Two-Parameter Logistic Model atau IRT 2PL.
Metode tersebut memperhitungkan dua parameter utama pada setiap butir soal, yaitu tingkat kesulitan soal dan kemampuan soal dalam membedakan peserta berdasarkan tingkat kompetensinya.
Dengan pendekatan ini, pengolahan nilai tidak hanya didasarkan pada jumlah jawaban benar. Karakteristik soal juga diperhitungkan untuk menghasilkan estimasi kemampuan peserta.
Metode tersebut ditujukan untuk membantu menyetarakan hasil dari paket soal yang berbeda sehingga penilaian dapat dilakukan secara lebih adil dan objektif.
Penggunaan rentang nilai 200–800 juga membantu menampilkan variasi hasil pengukuran yang lebih terperinci dibandingkan skala yang lebih sempit.
6. Orang Tua Diimbau Tidak Memberikan Tekanan Berlebihan
Hasil TKA dapat menjadi bahan diskusi antara siswa, orang tua, dan guru mengenai perkembangan belajar. Namun, orang tua perlu menghindari sikap yang membuat anak merasa dirinya hanya dinilai berdasarkan angka.
Jika hasil asesmen belum sesuai harapan, keluarga dapat membantu anak mengidentifikasi materi yang perlu dipelajari kembali dan menyusun rencana belajar yang realistis.
Sebaliknya, jika hasilnya baik, siswa tetap perlu mendapatkan dorongan untuk mempertahankan kebiasaan belajar dan mengembangkan potensi lainnya.
Pendampingan yang positif dapat membantu siswa melihat hasil TKA sebagai kesempatan untuk berkembang, bukan sebagai ukuran tunggal keberhasilan.
7. Kapan Hasil TKA 2026 Diumumkan?
Hasil TKA jenjang SMA/MA/SMK dan sederajat tahun 2026 dijadwalkan diumumkan pada 23 Desember 2026.
Setelah hasil diterbitkan, siswa dapat memperoleh informasi mengenai capaian akademiknya melalui mekanisme yang ditetapkan sekolah dan Kemendikdasmen.
Hasil tersebut dapat menjadi salah satu bahan pertimbangan untuk kebutuhan seleksi pendidikan selanjutnya, sesuai kebijakan jalur penerimaan yang dituju.
Meski demikian, TKA tidak menentukan kelulusan siswa dari sekolah. Kelulusan tetap menjadi kewenangan satuan pendidikan berdasarkan ketentuan penilaian yang berlaku.
Abdul Mu’ti berharap seluruh pihak dapat menggunakan hasil TKA secara proporsional. Dengan demikian, asesmen ini dapat membantu meningkatkan kualitas pembelajaran dan memberikan dukungan yang lebih tepat bagi setiap siswa.








